SISI GELAP PARA PAUS DI VATIKAN
Mas Biki Habibi Muhammad
Al-Qur’an menyampaikan kepada kita semua, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela, sampai kita semua mengikuti agama atau tradisi mereka. Dari sini, maka setiap apa yang datang dari mereka, kita mesti berhati-hati dan selalu waspada. Kendati tentu bukan berarti kita mesti menganggu atau menyakiti mereka.
Para pemimpin dan pendeta dari Yahudi juga Nasrani pun juga patut kita waspadai. Jangan sampai kita terperdaya dengan gaya dan pencitraan mereka. Al-Qur’an menyebutkan betapa melencengnya ulama-ulama mereka, dan bagaimana umat mereka yang terlalu menuhankan pemimpinnya. Yakni dengan menghalalkan apa yang telah diharamkan, atau mengharamkan apa yang dihalalkan. Menyembunyikan apa yang harus ditampakkan, dan berkata sesuatu yang tidak mereka kerjakan.
Akhir April lalu, masyarakat Indonesia bahkan dunia, digegerkan oleh berita kematian Paus Fransiskus, Paus Katolik dan kepala negara Vatikan ke-266. Yang miris adalah tidak sedikit umat Islam yang terlalu ikut memuja sang paus ini dengan berbagai macam sanjungan. Tentu hal ini merupakan bentuk toleransi yang sudah kebablasan.
Oleh karenanya, kami merasa perlu untuk menceritakan bagaimana wujud asli para Paus dan sejarah mereka yang sangat kelam. Apa yang kita lihat sekilas, sebenarnya adalah tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Tentu saja, kita membuka lembar gelap para paus di Vatikan ini bukan asal-asalan. Kita menulisnya berdasarkan sumber dan data yang terpercaya.
Siapakah Paus itu?
Sebelum kita membaca bagaimana dan seperti apa sisi gelap dunia kepausan, sebaiknya kita perlu mengetahui secara sekilas, siapakah itu Paus.
Paus adalah seorang pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, yang membawahi sekitar 1,3 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Artinya, Paus adalah manusia nomor satu di kalangan Katholik.
Di bawah Paus, ada yang dinamakan Kardinal (yang biasa membawahi satu negara dan ikut memutuskan pemilihan paus baru), lalu di bawahnya lagi ada Uskup (pemimpin gereja lokal atau keuskupan), kemudian Imam, dan terakhir adalah Diakon (pembantu Imam).
Dan perlu diketahui bahwa yang tunduk di bawah kepemimpinan Paus dengan segala hirarkinya hanyalah Katholik. Adapun protestan, mereka tidak mengakui kepausan. Selain itu, pemimpin atau pendeta protestan juga lebih longgar, seperti masih boleh menikah, dan semisalnya.
Perbedaan antara Katholik dan Protestan sangat banyak, mulai dari keyakinan sampai kepemimpinan, dan semisalnya. Tulisan singkat ini tentu bukan tempat yang tepat untuk menjabarkannya.
Sisi Gelap Para Paus
Berbicara sejarah kelam dan sisi gelap para Paus tidak akan ada habisnya. Terlalu banyak kasus dan skandal dalam sejarah panjang para pemangku negara Vatikan ini. Dan ingat, skandal mereka ini, dari kasus yang berhubungan dengan seksual, penggelapan uang, pembunuhan, dan semacamnya adalah sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum.
Sudah banyak para sejarawan, peneliti, dan penulis mencatat berbagai macam kasus dan sisi gelap mereka. Di antaranya adalah buku yang ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.
Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Buku versi bahasa Indonesia ini -yang menjadi referensi utama penulisan artikel ini- diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG).
Mengingat panjangnya sejarah kepausan (Paus hari ini adalah yang ke-267) dan banyaknya kasus-kasus mereka, maka apa yang kami tulis dan kumpulkan di sini “hanyalah” sebagian kecil dari yang tercatat (tentu juga jauh lebih kecil dari yang sejatinya terjadi).
Kepausan Antara Tahun 886 Sampai 950 Masehi
Dalam bukunya, Brenda Ralph Lewis mengutip buku yang berjudul Antapodosis yang menggambarkan situasi kepausan dari tahun 886 Sampai 950 Masehi:
“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”
Paus Formosus dan Sidang Jenazah
Masa kepausannya dikenal sebagai salah satu yang kontroversial dalam sejarah Gereja Katolik, terutama karena persidangan anumerta yang dikenal sebagai Synodus Horrenda atau “Sinode Jenazah” atau Sidang Jenazah.
Formosus meninggal pada tanggal 4 April 896 M. Namun, peristiwa yang paling terkenal dalam sejarahnya terjadi setelah kematiannya. Pada bulan Januari 897, penggantinya, Paus Stefanus VI, memimpin Synodus Horrenda.
Dalam persidangan tersebut, jenazah Formosus digali dari makamnya, dipakaikan jubah kepausan, dan diadili atas berbagai tuduhan.
Persidangan ini berakhir dengan keputusan bahwa Formosus tidak layak menjadi paus. Tubuhnya yang telah membusuk kemudian dilucuti dari jubah kepausan, tiga jari tangan kanannya yang digunakan untuk pemberkatan dipotong, dan diseret melalui jalan-jalan Roma lalu akhirnya dibuang ke Sungai Tiber.
Pembunuhan dan Wanita Pelacur
Paus Sergius III adalah seorang Paus yang memimpin Gereja Katolik Roma dari tahun 904 hingga 911 Masehi. Masa kepausannya dikenal dalam sejarah Gereja sebagai salah satu periode yang paling gelap, yang dikenal dengan sebutan “Saeculum Obscurum” atau Zaman Kegelapan.
Pembunuhan Paus Leo V dan antipaus Kristofer berhasil dibunuh dengan cara dicekik di dalam penjara pada tahun 904 Masehi. Itu semua dilakukan guna membuka jalan bagi Sergius untuk menjadi Paus.
Tiga tahun berjalan, Sergius berhasil mendapatkan seorang kekasih bernama Marozia, anak dari Theodora. Marozia adalah seorang wanita yang terkenal sebagai “wanita jalang yang tidak tahu malu”.
Dari hubungan gelap ini, lahirnya anak yang juga akan menjadi seorang Paus yang tidak kalah kontroversialnya, yaitu Paus Yohanes XI.
Paus Yohanes XII
Tokoh yang diangkat menjadi Paus dalam usia 16 atau 17 tahun ini juga tidak kalah kontroversialnya. Ia diangkat menjadi Paus pada tahun 955 M (atau 965 M).
Dalam banyak catatan sejarah, Paus ini terkenal sebagai sosok yang suka berjudi dengan dadu, bermain wanita, bahkan ia mati di ranjang bersama istri orang lain.
Ia juga pernah melakukan balas dendam dengan perbuatan-perbuatan yang sangat keji. Selepas membuang Paus Leo VIII, ia menguliti salah seorang uskup, memotong hidung dan dua jari serta memotong lidah seorang kardinal, lalu memenggal 63 anggota pemuka agama dan bangsawan Roma.
Bahkan ada yang menulis tentang Paus Yohanes XII ini, “Tidak puas dengan mengelola sebuah rumah bordil (rumah pelacuran) di dalam Vatikan, Yohanes XII juga membutakan mata seorang Kardinal dan mengebiri Kardinal lain, serta disebut-sebut pernah bermabuk-mabukan bersama iblis dalam kecanduannya akan alkohol”.
Paus Benediktus V
Paus Benediktus V melarikan diri ke Konstantinopel pada tahun 964 Masehi setelah merayu seorang gadis belia, sambil membawa harta kepausan bersamanya.
Paus Benediktus IX
Paus Benediktus IX adalah salah satu paus yang paling kontroversial. Bahkan banyak yang menjuluki Paus ini dengan “Iblis dari neraka yang menyamar sebagai Paus”.
Paus yang lahir pada tahun 1012 ini melanjutkan kepausan selepas dua pamannya sebelumnya, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX.
Di antara kasus yang dituduhkan kepada paus Benediktus IX adalah pemerkosaan, pembunuhan, homoseksualitas, bestialitas (seks dengan binatang), dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji.
Inosensus III
Adalah Paus yang memimpin Vatikan dalam periode tahun 1198 sampai 1216 M. Ia adalah pencetus perang salib Albigensian melawan bid’ah Kataris. Inosensus bertanggung jawab atas kematian lebih dari satu juta orang selama periode dua puluh tahun.
Aleksander VI dan Kolonialisme
Di antara ratusan Paus, barang kali inilah salah satu Paus Iblis yang pernah tercatat sejarah. Paus ini berada pada singgasana kepausan dari tahun 1492 sampai 1503 M. Aleksander VI menjadi ayah dari delapan anak hasil hubungan haramnya dengan tiga atau empat kekasih gelapnya. Ia juga menyuap jalannya menuju tahta kepausan, menunjuk sanak keluarganya menjadi kardinal, dan mengumpulkan kekayaan yang sangat besar.
Paus ini juga dikenal suka bermewah-mewahan dalam hidup. Padahal ia hidup di tengah bangsa Eropa yang saat itu dikelilingi oleh kemiskinan. Penobatan Aleksander yang terjadi pada 26 Agustus 1492 dilakukan dengan sangat mewah, bahkan mengalahkan pesta-pesta kemenangan para Kaisar Roma.
Prosesi berjalan sepanjang tiga kilometer dan terdiri dari 10.000 penunggang kuda, seluruh pegawai rumah tangga kepausan, pada duta besar negara-negara asing dan para kardinal yang menunggang kuda, masing-masing dikawal oleh 12 pria dalam rombongannya. Paus Aleksander sendiri menunggang kuda yang dihiasi dengan sebuah kanopi yang melindunginya dari sengatan matahari. Pengawal kepausan dan seluruh pejabat resmi istana Vatikan mengikutinya.
Si Paus ini juga dikenang sebagai bapak yang memanfaatkan putrinya, Lucrezia Borgia dengan menikahkannya sampai tiga kali, dengan tokoh-tokoh yang mendukung kekuasaannya. Setiap menantunya ia anggap tidak berguna, maka ia tidak segan-segan memaksanya untuk bercerai, bahkan walaupun dengan memfitnah sampai menghilangkan nyawa.
Paus Aleksander juga berhasil merubah istana Vatikan menjadi ruangan pesta seks di setiap malamnya. Dikisahkan bahwa setidaknya ada 25 pelayan seksual setiap malam datang ke istana Vatikan. Bahkan pada akhir Oktober 1501 M, Vatikan mengadakan pesta dengan mengundang 50 wanita pelacur yang menari telanjang bersama 50 pelayan. Dan dalam pesta ini, siapa saja yang paling banyak bercinta dengan pelacur akan mendapat hadiah istimewa dari sang Paus.
Yang tidak kalah keji, Paus Aleksander VI juga sosok utama yang bertanggung jawab atas terjadinya kolonialisme dan imperialisme dunia Barat. Ia mengadakan Perjanjian Tordesillas pada tahun 1494, untuk membagi penguasaan dunia, yaitu Spanyol ke arah Barat (Benua Amerika) dan Portugis ke arah Timur (Benua Asia).
Ini hanya cuplikan kecil dari kekejian Paus satu ini. Jangankan satu artikel, buku berjilid-jilid pun tidak akan muat mencatat kejahatannya.
Inkuisisi; Penyiksaan Manusia Atas Nama Agama
Di antara kejahatan Paus dan gereja katolik yang masih diingat dan dicatat oleh sejarah adalah Inkuisisi.
Inkuisisi adalah lembaga atau pengadilan Gereja Katolik yang dibentuk untuk menyelidiki dan menghukum ajaran yang dianggap sesat atau bidah (perkataan dan kepercayaan yang bertentangan dengan doktrin resmi Gereja). Walaupun pada kenyataannya, tidak sedikit yang dihukum bukan karena ajaran, tapi lebih ke faktor politik, alias kriminalisasi terhadap lawan politik.
Penyiksaan ala Inkuisisi bervariasi. Ada yang hanya ditahan, sampai dengan penyiksaan yang sangat sadis. Bahkan kesadisan hukuman gereja adalah yang tersadis sepanjang sejarah umat manusia. Pembakaran korban secara hidup-hidup adalah salah satu andalannya.
Di antara tokoh fenomenal yang terkena dampak dari lembaga gereja ini adalah salah satu tokoh ilmuan dunia; Galileo Galilei.
Skandal Keuangan Para Paus
Sebenarnya masalah skandal keuangan adalah salah satu masalah paling klasik di gereja Katolik. Kedekatan mereka dengan para penguasa dan bangsawan Roma adalah salah satu bukti nyata.
Dan masalah ini jugalah, yang menjadikan Marthin Luther bangkit dan membuat reformasi di tubuh gereja Katolik (yang kemudian dikenal sebagai kristen Protestan). Ia melawan beberapa dogma gereja, di antaranya yang paling keras adalah praktik Indulgensi.
Di mana dalam praktik ini, gereja menawarkan pengampunan dosa dengan imbalan sumbangan uang. Sederhananya, gereja menukar penghapusan dosa dengan “uang”.
Luther menentang keras praktik ini. Iya meyakini bahwa keselamatan seseorang tidak dapat dibeli dengan materi, melainkan hanya melalui iman kepada Tuhan.
Namun, skandal keuangan Vatikan tidak berhenti sampai abad pertengahan saja. Pada abad-abad berikutnya, lembaga paling suci dalam Katolik ini pun tidak kalah kontroversialnya. Ini dibuktikan dengan sumbangan dan bantuan keluarga Rothschild kepada Vatikan. Sebagaimana telah maklum, keluarga Yahudi ini merupakan bankir dan mafia keuangan kelas dunia saat itu.
Bahkan, di tahun 2025 ini pun, skandal keuangan Vatikan masih sering mendapatkan sorotan dunia. Bank Vatikan yang katanya “suci” itu pun banyak mendapatkan julukan sebagai bank “pencucian uang”. Kasus penggelapan, serta pencucian uang dan semacamnya yang dilakukan oleh Vatikan bisa anda akses dengan mudah di banyak platform media.
Ikhtitam
Tentu apa yang kami tulis di atas hanyalah sebagian kecil dari apa yang terjadi sebenarnya. Namun apa yang kami tulis di sini semoga bisa mengantarkan kesimpulan bahwa orang dan lembaga yang dianggap suci juga dielu-elukan oleh banyak manusia ternyata sangat problematik.
Maka sebagai umat Islam, kita tidak perlu ikut terkesima dan terpesona dengan propaganda mereka. Cukuplah kita tidak mencaci di depan publik, juga tidak menganggu mereka sebagai tindakan toleransi. Tidak perlu berlebihan, apalagi sampai turut memuja mereka.
Sebagai penutup, kami akan tampilkan bagaimana jawaban Buya Hamka ketika diajak untuk bersilaturahmi kepada Paus yang datang ke Indonesia saat itu.
“Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”


