0 items in your shopping cart

No products in the cart.

Jord Santri Bersama Masyaikh Nidzomuddin

Beberapa Poin Jord Santri bersama Masyaikh Nidzomuddin, Kamis Malam Jum’at, 7 Mei 2026, Pondok Pesantren Al-Fatah Utara

-Bila satu orang mengamalkan ilmu, dia seperti seorang mengetuk pintu. Kalau pintu dibuka, maka tamu akan datang. Begitu juga, ilmu bila diamalkan, maka akan masuk dan tetap bersama kita. Kalau nggak amal, maka ilmu akan pergi.

-Pahala akan didapat, sejauh mana ilmu yang kita amalkan.

-Para sahabat dalam keadaan apapun -berdiri, baring, duduk- seperti al-Quran. Kalau mau lihat al-Quran, lihat kehidupan mereka.

-Dalam kehidupan, ilmu tak hanya dipelajari, tapi juga diamalkan.

-Ketika kita sibuk belajar ilmu, maka kita dituntut untuk menyampaikannya.

-Dengan ilmu yang kita pelajari maka kita mendapatkan keyakinan, lalu mengamalkan, dan bergerak menyampaikannya ke seluruh alam.

-Sekarang banyak orang di dunia tidak paham agama. Maka perkara yang mendesak pada ahli agama, ahli ilmu adalah bergerak, menyampaikan agama, mengeluarkan mereka dari kejahilan-kejahilan.

-Di madrasah tidak hanya terbatas belajar dan mengajar, tapi ada tanggung jawab dari Alloh pada kita, yaitu bergerak, menyampaikan ilmu ke seluruh alam. Karena umat jauh dari agama Alloh.

-Di antara santri Nabi yang belum lulus, tapi sudah diutus Nabi untuk mengajarkan agama di satu kaum (di Yaman) yaitu Sayyidina Ali. Bahkan beliau mengajarkan agama cukup lama di sana.

-Tidak ada kerugian ketika belum selesai belajar, lalu bergerak, mendakwahkan, menyampaikan agama. Karena ta’lim itu satu amal nubuwwah dan dakwah satu amal nubuwwah. Maka satu sama lain akan muawwin, membantu. Dan dengan itu akan menambahkan ilmu kepada kita.

-Jangan merasa tenang bahwa Indonesia itu negeri muslim, rata-rata penduduknya sudah islam. Jangan. Karena kalau kita duduk di tengah-tengah umat, maka akan banyak kita jumpai mereka yang belum fasih mengucapkan al-quran, belum paham sholat, belum paham mandi wajib. Maka ini adalah tugas (tanggung jawab) para santri untuk bergerak, menyampaikan pada umat.

-Sahabat Nabi adalah santri-santri Nabi. Suatu waktu ada utusan dari kaum-kaum, kabilah-kabilah yang meminta pada Nabi agar dikirimkan santri-santri ke daerah mereka. Maka Nabi langsung mengutus, membentuk jamaah untuk berangkat ke kaum tersebut. Tidak menunggu santri itu selesai dulu.

-Dahulu para sahabat bergerak, mengajarkan ilmu agama, sampai ke tempat-tempat yang jauh, bahkan ada yang sampai menjadi kuburan mereka.

-Ulama kita berpikir, bagaimana ilmu yang kita pelajari bermanfaat untuk kita (para santri) yang belajar ilmu agama dan juga bermanfaat untuk umat, orang-orang awam, yaitu di antaranya dengan gerak dakwah satu tahun, bahkan tiga tahun.

Share this