0 items in your shopping cart

No products in the cart.

KEPADA SIAPA ILMUWAN BERKHIDMAH?

IDZHARUL HASAN

Dalam sejarah umat manusia, kiprah para akademisi—bisa disebut ulama, ilmuwan, cendikiawan—amat menentukan arah peradaban. Sebab ide-ide yang mereka usung, cepat atau lambat, berpotensi membawa masyarakat pada dua persimpangan: peradaban yang lebih baik, atau kehancuran. Tidak jarang sebuah kerja intelektual membuahkan dampak positif bagi masyarakat, namun tak jarang pula kerja mereka justru membawa mudharat.
Kita hidup di zaman, di mana umat manusia sudah sangat membutuhkan peran para intelektual demi mengungkapkan apa yang seharusnya dilakukan. Kita tidak bisa lagi melihat para intelektual terus-terusan tunduk pada apa yang masyarakat mau, dengan mengikuti apa selera pasar. Kita memerlukan sebuah sikap tegas dari mereka. Karena menentukan apa yang seharusnya dilakukan, berarti menjadikan nilai-nilai kebenaran sebagai acuan. Sedangkan untuk menentukan apa yang pasar inginkan, berarti menjadikan permintaan pasar sebagai acuan; baik permintaan itu sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, atau justru bertentangan dengan nilai-nilai itu.

 

Ketika krisis sudah kian merata di tengah masyarakat, ada di hampir setiap sendi-sendi kehidupan, dan keadaan sudah jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan abad-abad yang lalu, maka kerja-kerja nyata yang berbasiskan pengetahuan yang benar perlu segera dieksekusi. Karena sesungguhnya tugas para ulama—termasuk para ilmuwan—yang dalam keyakinan Islam merupakan pewaris para nabi, adalah kerja memperbaiki kondisi umat, bukan mengikuti mau umat.

 

Maksiat Intelektual

Apa itu maksiat intelektual? Maksiat intelektual adalah keadaan di mana seorang ulama tidak melaksanakan apa yang seharusnya sudah menjadi tugasnya. Kemaksiatan intelektual, dalam pandangan Islam adalah, ketika seorang ulama menyembunyikan ilmunya (katimu al-‘ilm).

 

Memangnya apa tugas para ulama? Tugas mereka, sebagaimana juga tugas para nabi adalah “tabligh”, menyampaikan ilmu sebagaimana mestinya.

 

Menyembunyikan ilmu, tidak hanya dipahami dalam bentuk tidak menyampaikan ilmunya sama sekali. Ada banyak macam praktek menyembunyikan ilmu, yang di antaranya adalah, menyampaikan apa yang ingin didengar oleh masyarakat, bukan apa yang seharusnya diketahui dan dilakukan masyarakat, apapun motifnya.

 

Dalam tradisi kiri, kemaksiatan intelektual—yang oleh Antonio Gramsci, seorang filsuf kiri asal Italia, disebut “intelektual tradisional”—selalu dicirikan sebagai seorang akademisi yang bersekongkol dengan penguasa, kemudian mengkhianati rakyat dengan mempertahankan status quo. Seolah, rakyat selalu berada di pihak yang benar dan karenanya, penguasa selalu berada di pihak yang salah. Dalam tradisi kiri, akademisi yang tidak membantu proses revolusi pekerja merebut kekuasaan, merupakan sebuah kemaksiatan.

Di dalam pemahaman Islam, sebuah maksiat intelektual memiliki makna yang jauh lebih jelas sekaligus lebih luas. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda, yang maknanya, “seseorang yang menyembunyikan ilmu, maka ia dilaknat segala sesuatunya”. Dari sini bisa dipahami bahwa, berada di pihak siapapun, seseorang dinyatakan telah melakukan pengkhianatan intelektual saat ia tidak menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan. Mereka—yang karena kepentingan atau alasan tertentu, secara sadar—mengkhianati ilmu itu sendiri.

 

Maka di sini, minimal, ada dua kemaksiatan yang ditimbulkan; menimbukan kerusakan pada masyarakat, dan mengkhianati al-haq itu sendiri. Tidak heran jika di dalam banyak riwayat, Nabi kerap mengancam—dengan ancaman yang serius—para ilmuwan yang berkhianat. Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja menyembunyikan kebenaran (al-haq).

 

Kepada Siapa Ilmuwan Berkhidmah?

Di beberapa tradisi akademis, ilmuwan seolah sejak awal sudah ditakdirkan untuk berkhidmah kepada rakyat. Dari pemahaman itu, dimunculkan dikotomi antara: ilmuwan yang berkhidmah kepada ilmu (ilmu untuk ilmu) atau ilmuwan yang berkhidmah kepada rakyat (ilmu untuk rakyat). Berkhidmah untuk ilmu, dalam pengertian sederhanha, adalah ilmuwan yang hanya sibuk menghabiskan waktu dan tenaganya untuk melakukan penelitian, mengembangkan temuannya di laboraturium dan perpustakaan, namun tidak pernah terjun langsung di tengah masyarakat, dan ikut merasakan penderitaan mereka.

 

Bahkan terkadang digambarkan, seorang ilmuwan yang hanya duduk di atas kursi, di depan meja penelitian, dan di balik tembok tebal gedung akademi, masuk kedalam kategori ilmuwan yang tidak berkhidmah kepada masyarakat, karenanya ia telah melakukan “pengkhianatan intelektual”.

 

Tugas ilmuwan, dalam hal ini, seorah direduksi hanya untuk melahirkan sebuah praksis yang dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

 

Di sini kita perlu mengklarifikasi beberapa hal. Pertama, kedua hal yang didikotomi itu, sejak dahulu bukanlah sebuah masalah. Sejak era Aristoteles, Ibnu Sina, sampai al-Ghazali, ilmu—dalam pemaknaannya yang paling luas—sudah selalu dikategorikan menjadi dua macam: (a) ilmu teoritis dan (b) praktis.

 

Ilmu teoritis memang bukan konsumsi masyarakat awam, sehingga tidak ada gunanya menjejalkan rumus-rumus kepada mereka. Dan ilmuwan yang bergelut dalam tataran ilmu teoritis ini, memang sudah seharusnya sibuk dengan pengujian dan pengembangan teorinya, sehingga mereka tidak sempat bertatap muka dengan masyarakat. Yang kemudian bertugas membumikan, mengkomunikasikan, dan menguji teori-teori itu di ruang terbuka, adalah para pegiat ilmu-ilmu praktis.

 

Dalam tradisi ilmiah dunia Islam, para pegiat ilmu teoritis itu semisal ulama hadis (diroyah), dan ilmu-ilmu praktis itu semisal ulama fikih. Dahulu memang sempat terjadi persinggungan antara kedua raksasa madrasah ilmu ini, namun para ulama Islam segera menemukan solusi jitu dengan berbagi peran, bahwa pegiat ilmu teoritis itu diibaraktan sebagai apoteker dan pegiat ilmu praktis itu ibarat dokter.

 

Seorang apoteker memang sudah seharusnya berkutat di dalam laboraturium meneliti obat-obatan yang nantinya akan dikonsumsi masyarakat. Dan seorang dokter yang langsung bertatap muka dengan masyarakat, bertugas di lapangan dengan menganangani penyakit mereka dan memberikan obat sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Kedua jenis ilmuwan ini memang seharusnya ada dalam satu tarikan nafas dalam laju peradaban manusia.

 

Klarifikasi kedua, ilmuwan tidak berkhidmah kepada rakyat (sebagai sebuah kelas sosial yang berada di bawah penguasa). Akan tetapi seorang ilmuwan berkhidmah kepada al-haq (kebenaran) itu sendiri. Tidak peduli kebenaran itu ada di pihak siapa. Karena tidak selamanya rakyat berada dalam posisi yang benar, termasuk juga penguasa, tidak selalu berada di pihak yang salah.

 

Ulama yang Tunduk Pada Selera Pasar

Di antara musibah besar yang—meski sejak dulu sudah ada—banyak kita jumpai di zaman ini adalah, sebuah fenomena ganjil di mana seorang ulama tidak mampu berkutik di hadapan kehendak masyarakat. Karena khawatir kehilangan jamaah, konsumen, atau popularitas, seorang ulama dengan sadar rela menanggalkan idealismenya. Mereka tidak khawatir menghadapi risiko kehilangan misi dan tugas utamanya sebagai penjaga nilai-nilai kebenaran. Kerja-kerja intelektual mereka lebih diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar daripada mempertahankan standar moral.

 

Akibat yang segera kita lihat, terjadi penurunan kualitas intelektual. Ini disebabkan, banyak dari mereka memang sejak awal hanya memprioritaskan keuntungan finansial atau popularitas semata, sehingga mereka cenderung menghasilkan karya yang dangkal. Yang mengkhawatirkan, ketika seorang intelektual tunduk pada selera pasar, maka mereka cenderung tergoda untuk mempromosikan ide, pandangan, juga hiburan yang tidak selalu benar dalam timbangan moral. Padahal, salah satu tugas terpenting seorang intelektual adalah meningkatkan literasi masyarakat.

 

Dengan hanya mentargetkan selera pasar, maka pemikiran dan karya intelektual tidak lagi berfokus pada pencarian kebenaran atau nilai universal, melainkan diarahkan untuk menghasilkan produk—apapun bentuknya, bisa buku, konten media, ceramah—yang asal laku di pasar. Ini diperparah dengan kondisi masyarakat (konsumen) yang masih minim literasi, sehingga permintaan yang laku di pasar hanyalah produk-produk hiburan remeh temeh yang sama sekali tidak mengedukasi.

 

Penutup

Tugas seorang ilmuwan yang seharusnya mengarahkan masyarakat, kini justru berbalik. Masyarakat menyetir para ilmuwan itu untuk menyampaikan apa yang masyarakat ingin dengar. Sehingga yang terjadi, bukan ilmu yang mengarahkan keinginan namun keinginan menjadi nahkoda yang menentukan akan ke mana ilmu ini akan berlabuh.

 

Di saat masalah kapitalisme makin sulit dibendung, banyak intelektual melakukan perselingkuhan dengan para investor, yang sejak awal memang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari pasar, sehingga dampak negatif dari populisme intelektual tidak kunjung berakhir. Kemajuan teknologi dan akses yang mudah, yang belakangan ini kita nikmati—juga salah satu dari produk kapitalis itu—karena tidak diiringi dengan kajian ilmiah yang memadai dari para ilmuwan yang jujur, melahirkan berbagai macam krisis modern: moral, budaya, hukum, sosial, politik, ekonomi, lingkungan, dan masih banyak lagi.

 

Apakah dengan munculnya berbagai krisis ini, para pelaku maksiat itu akan bertaubat? Dalam waktu dekat, rasa-rasanya taubat itu belum akan segera terlihat. Kita masih bisa melihat dengan gamblang, banyak ilmuwan yang masih terlena dengan popularitas, jabatan, dan kekayaan. Namun kita harus memastikan bahwa diri kita dan orang-orang di sekeliling kita bukan salah satu dari mereka. Di samping, kita tetap perlu mendoakan para ilmuwan ini, semoga mereka diberi kesadaran untuk segera kembali ke jalan yang benar.

 

Share this