0 items in your shopping cart

No products in the cart.

POTRET MUSLIM IDEAL

Mas hasan biqi muhammad

Ideal, iya semua pasti mendambakannya. Badan ideal, keluarga ideal, masyarakat ideal dan seterusnya. Sebaliknya, berlebihan (ekstrem) -baik kanan maupun kiri- akan tidak disukai oleh siapa saja. Pun dalam hal beragama.

Oleh karenanya, sudah seharusnya setiap muslim berupaya memilih cara ber-Islam yang ideal. Bersikap tidak terlalu ke kiri sehingga me-liberal. Atau terlalu kanan menjadi takfiri radikal.

Sebab, Islam pun juga agama ideal jika dibanding dengan agama lainnya. Seimbang dan ideal antara dzohir-batinnya, syareat-hakekatnya, aqli-naqlinya, juga dunia-akheratnya.

Lantas, bagaimana agar menjadi muslim yang ideal?!

Muslim Ideal

Sebenarnya, para Ulama sejak berabad-abad silam telah banyak yang menyinggung bagaimana menjadi muslim yang ideal dan hakiki.

Dalam tulisan ini, kami akan berupaya untuk menjabarkan secara ringkas bagaimana agar menjadi muslim yang ideal.

Ringkasnya, jika seorang ingin menjadi muslim yang ideal, maka ia harus memperhatikan tiga perkara. Yaitu; aqidah (Iman), amaliyah (Islam), serta akhlaq (Ihsan).

Aqidah

Sebagai seorang muslim, sudah seyogyanya untuk tidak meremehkan persoalan aqidah ini. Aqidah merupakan perkara urgen dalam kehidupan setiap muslim. Tanpa aqidah yang kuat dan lurus, maka “muslim” hanyalah menjadi status dan nama tanpa makna.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa belajar aqidah juga tidak boleh sembarangan dalam Islam. Mengingat dalam ‘intern’ Islam sendiri, terdapat banyak firqoh yang jauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Baginda Rosul sholallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya rodhiyallohu anhum.

Lantas, aqidah apakah yang sesuai dengan aqidah Baginda Rosul sholallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya rodhiyallohu anhum?

Sejak ratusan tahun yang lalu, mayoritas Ulama sudah mengakui bahwa aqidah yang sesuai dan sejalan dengan Baginda Rosul adalah aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, atau yang lebih familiar dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dan memang, aqidah Ahlussunnah -jika kita teliti secara seksama- selalu berada di posisi yang ‘ideal’ dalam bersikap. Tidak mudah mengafirkan atau menyesatkan sesama muslim, namun juga tidak mudah ‘menganggap benar’ pemahaman yang memang tidak sesuai dengan agama.

Al-Imam al-Ghozali rodhiyallohu anhu, salah satu imam agung Asy’ariyah menulis dalam kitab beliau Faishol al-Tafriqoh Bain al-Islam wa al-Zindiqoh bahwa yang layak divonis “kafir” adalah ketika seseorang mengingkari Ushul al-Aqo’id (pokok-pokok aqidah) yang terbatas tiga perkara. Iman kepada Alloh, Baginda Rosul shollallohu alaihi wasallam, dan hari akhir. Seluruh persoalan furu’iyyah tidak bisa membuat seorang muslim menjadi kafir kecuali satu perkara saja, yaitu furu’iyyah yang bersumber dari Baginda Rosul secara mutawatir. Seperti halnya mencela Sayyidah Aisyah rodhiyallohu anha.

Berangkat dari sini, maka perbedaan furu’ul aqidah maupun furu’ul syariah tidak bisa menjadikan seorang muslim dianggap keluar dari Islam begitu saja.

Perbedaan Asy’ariyah dengan Muktazilah persoalan melihat Alloh di akhirat, perbedaan Asy’ariyah dengan sebagian Mujassimah perihal penetapan jihat (arah) atas Alloh, dan semisalnya, adalah tidak serta-merta menjadikan kita mengafirkan mereka.

Dan perlu diingat, inilah titik perbedaan Ahlussunnah Asya’iroh Maturidiyah dengan firqoh di luarnya, yang terlalu mudah untuk mengafirkan sesama muslim lainnya.

Perbedaan perihal ziaroh kubur, tawassul, maulid, yang notabene masuk ranah furu’, namun diposisikan sebagai persoalan ushul, sehingga para pengamalnya disyirikkan dan dikafirkan.

Namun sebaliknya, jika seseorang bertentangan dari ushul aqoid atau furu’ yang datang secara mutawatir -siapapun itu- maka tanpa ragu kita vonis ‘kufur’, tidak ada toleransi dalam hal ini.

Dan perlu digaris bawahi, bahwa perbedaan dalam furu aqoid kendati tidak sampai kafir, namun bukan berarti benar. Artinya, memang mereka tidak kafir, tapi masuk kategori “sesat dan bid’ah”, seperti pendapat sebagian Muktazilah, Mujassimah, atau Wahabi.

Mengatakan dan berterus terang bahwa sebuah pendapat yang keliru adalah salah dan sesat merupakan tindakan yang terpuji dalam syara’ (al-Intiqod li idzhar al-Showab mamduh  fi al-syar’i, al-Fawaid al-Madaniyah, Syaikh Sulaiman al-Kurdi)

Furu’ al-Syariah

Untuk menjadi muslim ideal, kita juga mesti memperhatikan bagaimana bersikap dalam persoalan furu’.

Sebagaimana persoalan aqidah, sebenarnya para Ulama, sejak ratusan tahun yang lalu, telah membuat standar bagaimana seorang muslim mengamalkan syariah dan muamalah yang baik.

Standar tersebut yaitu mengikut salah satu dari empat madzhab fiqih yang telah diakui oleh jumhurul ummah. Yakni madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Oleh, karenanya, siapapun yang mengikuti salah satu dari empat madzhab ini, dijamin ia akan menjadi seorang muslim yang tidak ekstrem ke kanan, juga tidak pula ke kiri.

Empat madzhab ini telah terbukti mengawal umat Islam selama berabad-abad dan menghindarkan mereka dari pendapat-pendapat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Siapapun yang mengaku mengamalkan agama tanpa merujuk pada salah satu empat madzhab ini, maka dikhawatirkan akan beramal tanpa dasar dan kaidah yang jelas.

Serta yang paling dikhawatirkan, dan ini sudah terjadi, justru akan membuat Islam semakin terkotak-kotak dengan lahirnya berbagai macam pendapat liar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mu’asyaroh – Akhlaq

Kemudian untuk menyempurnakan ushul aqoid dan furu’iyah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka seorang muslim juga seharusnya belajar untuk memperbaiki bathin dan hatinya.

Seorang muslim semestinya memiliki akhlaq dan bersih dari penyakit-penyakit hati yang mengotori jiwa. Seperti penyakit hasad, sombong, cinta dunia, dan semisalnya.

Sebaliknya, seorang muslim seyogyanya agar menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, seperti ridho, syukur, mahabbah, tawadhu, zuhud, dan semacamnya.

Berangkat dari sini, maka bagi setiap insan yang ingin menjadi muslim ideal, maka hendaknya juga mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hati. Ilmu adalah yang biasa kita kenal dengan nama ilmu “tasawwuf”.

Ikhtitam

Walhasil, jika seorang muslim memiliki aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan amaliyah yang lurus, yaitu beramal mengikuti salah satu imam madzhab empat, kemudian bertasawwuf dengan dibimbing para Masyayikh, maka sudah dipastikan pasti akan menjadi seorang muslim ideal nan hakiki.

Dan hal ini bukanlah teori atau opini belaka, namun sudah menjadi bukti nyata selama berabad-abad lamanya. Semoga kita ditolong oleh Alloh ta’ala untuk menjadi seorang muslim hakiki dan maqbul dunia sampai akhirat. Amiin.

Share this