JIHAD DAN SANTRI
MAS HASAN BIQI MUHAMMAD
Jauh sebelum republik ini lahir, santri merupakan garda terdepan dalam setiap perjuangan. Sejak ratusan tahun yang lalu, negeri ini penuh dengan darah para santri yang bercucuran. Tanpa rasa gentar dan takut, mereka berdiri terdepan, melawan segala macam kelaliman dan penjajahan.
Atas nama apalagi jika bukan karena “Jihad”?!
Atas nama jihad-lah, para santri dengan gagah berdiri dan bergerak melakukan perlawanan.
Atas nama jihad-lah, mereka bersedia mempertaruhkan nyawa di gelanggang pertempuran.
Atas nama jihad-lah, mereka berani merangsek maju, meski dengan senjata yang jauh di bawah sang lawan
Atas nama jihad-lah, mereka bertahan.
Atas nama jihad-lah, mereka berkorban.
Jihad dan Santri adalah dua perkara yang tidak akan bisa dipisahkan.
Sejak pertama kali menginjakkan kakinya, para penjajah Barat, salalu berhadapan dengan para santri.
Dengan berkolaborasi dengan para Sultan di masanya, mereka mengusir penjajah tanpa takut mati.
Penjajah Portugis, Belanda, Inggris, Jepang, semua kandas dengan bambu runcing dan wirid para santri.
Lihatlah, bagaimana Sultan Agung Mataram bersama para santri menumpas VOC sampai titik darah penghabisan.
Lalu dilanjutkan Trunojoyo dibantu para Ulama dan Kiai Kadjoran.
Juga Sultan Ageng Tirtajasa Banten yang melancarkan serangan terhadap VOC sekaligus Belanda Protestan.
Di Makassar, Sultan Hasanuddin, sang ayam jantan dari Timur, juga turut melawan.
Tak ketinggalan, Kapten Pattimura, seorang tokoh muslim Maluku, bangkit membebaskan Maluku dari agresi Belanda yang penuh kelaliman.
Di Sumatra, Imam Bonjol yang kemudian dibantu Sentot Ali Basyah, juga berdiri menggempur kolonial Belanda sampai wafat di pengasingan.
Dan yang terbesar, juga terdahsyat, apalagi kalau bukan perang Jawa!
Dengan dukungan 108 kiai, 31 hadji, 12 pegawai penghulu Yogyakarta, 4 kiai guru Tasawuf, Pangeran Diponegoro mengobarkan seruan jihad di pulau Jawa.
Kolonial Belanda pun kelimpungan dan hampir tak berdaya.
15.000 tentaranya mati sia-sia.
20 juta gulden lebih, Belanda merugi tak terkira.
Perjuangan maha Agung yang tak kan pernah terlupa.
Kendati, lagi-lagi, berakhir dengan diasingkannya sang pangeran beserta keluarganya.
Akan tetapi, para pengikutnya tak juga putus asa. Mereka berpencar ke berbagai penjuru Nusantara. Melanjutkan estafet perjuangan dengan mendirikan langgar, pesantren, dan markas-markas ahli agama.
Selepas era beliau, sejarah jihad para Santri tak juga padam.
Lahirlah dari rahim mereka, kantong-kantong perjuangan berbentuk jam’iyah serta lembaga pendidikan Islam.
Syarekat Islam, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Masyumi, Nahdhatul Wathon, dan semacamnya lahir dan bangkit dengan metodenya yang beragam.
Dari sini, lahirlah perlawanan-perlawanan yang membuat kolonial semakin terancam.
Resolusi Jihad pun berkumandang.
Ribuan santri turun ke medan pertempuran dengan takbir berkumandang.
Bambu runcing menjadi saksi para santri bergelanggang di medan juang.
22 Oktober dan 10 November adalah bukti nyata yang mesti dikenang!
Dan sampai detik ini pun, para santri masih terus berjihad dengan masing-masing cara dan bentuk di bidangnya.
Mengaji dan mengkaji, dzikir dan wirid, serta berdakwah dengan berbagai macam metodenya.
Ingat, jihad tidak selalu dengan mengangkat senjata!
Jihad itu identik dengan radikalisme, dan terorisme, katanya.
Iya, benar, kata orang-orang yang dangkal pemikirannya!


