0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MASIHKAH PENDIDIKAN ALA PESANTREN RELEVAN ?

Ust. Idzharul hasan
Metode belajar terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Semua itu tentu saja disebabkan oleh perubahan zaman, di mana ilmu, kebutuhan manusia, dan teknologi (sarana) terus berkembang.

Wacana metode pendidikan mutakhir, tidak lagi mengharuskan siswa untuk menjadi seorang spesialis. Para pengamat pendidikan sekarang, dengan melihat kebutuhan kehidupan mendatang, mencukupkan siswa untuk menjadi seorang generalis. Artinya, bagi mereka, cukup seorang siswa memahami konsep setiap ilmu secara umum, yang dengan begitu, mereka bisa beradaptasi untuk semua pekerjaan di masa mendatang.

Terjadi perdebatan akan wacana itu. Ada yang tetap mementingkan seorang spesialis, ada yang mencukupkan menjadi seorang generalis. Banyak faktor yang dijadikan sebagai pertimbangan. Namun, apapun faktor itu, pada hakikatnya tujuan pendidikan bagi mereka sama: menyiapkan manusia-manusia pekerja di masa mendatang (work oriented).

Tujuan Pendidikan

Jika kita ditanya, mana yang lebih unggul, antara pendidikan modern dengan pendidikan ala ulama terdahulu? Jawabannya selalu tergantung pada tujuan pendidikan itu sendiri.

Ulama terdahulu,untuk mempelajari ilmu agama, memiliki tujuan sebagaimana tujuan agama. Dalam Islam, ilmu selalu ditujukan agar seorang muslim lebih dekat dengan Tuhannya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmu, namun tidak bertambah hidayah dalam dirinya, maka ia hanya semakin menjauhkan dirinya dari Allah”.

Maka dalam Islam, semangat untuk belajar, berangkat dari semangat agar seseorang bisa lebih dekat dengan Allah. Sehingga, apa-apa yang membuat seorang pelajar agama jauh dari Tujuannya, meski itu nampak sebagai sebuah pelajaran, oleh agama tidak disebut sebagai ilmu. Paling tidak, itu disebut sebagai maklumat.

Jadi, sejak awal, sudah terjadi persimpangan yang sangat fundamental antara pendidikan modern dengan pendidikan Islam secara umum. Pendidikan modern berorientasi mencetak manusia-manusia pekerja, sedangkan pendidikan Islammemiliki tujuan mencetak manusia-manusia yang taat kepada Allah.

Dari situ, kita bisa langsung menyadari, mengapa ada gap yang teramat jauh, baik dari sisi metode hingga sarana pendidikan.

Namun, terlepas dari tujuan yang sangat berbeda, pendidikan agama secara umum bukan berarti tidak memiliki bobot ilmiah, sebagaimana yang sering menjadi dugaan banyak akademisi. Kajian ulama Islam, di setiap fannya, memiliki bobot ilmiahnya masing-masing.

Memandang Inferior Ilmu-Ilmu Keislaman
Mari kita abaikan wacana pendidikan generalis yang belakangan ini ramai disuarakan. Karena betapapun, model pendidikan semacam itu masih berupa wacana. Yang sedang kita hadapi saat ini adalah, anggapan bahwa upaya ilmiahkeilmuan Islam tidak bisa menghantarkan para pengkajinya untuk sampai pada level expert (spesialis). Dalam ungkapan yang lain, tidak memiliki bobot ilmiah.

Menukil syaikh Romadhon al-Buthi, dalam bukunya, Kubro al-Yaqiniyat, kata beliau, “Objek kajian ilmiah, apapun itu, terbatas pada dua hal: mengkaji klaim dan riwayat”.
Ilmu syari’at, oleh akademisi Barat seringkali dinilai inferior. Padahal, bobot ilmiah dalam ilmu syari’at tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari tafsir, hadits, fikih, hingga akidah, semua itu memiliki bobot ilmiahnya masing-masing.

Mari kita coba ungkap satu hal sebagai contoh. Salah satu instrumen metodologi yang sangat dibanggakan oleh akademisi baratadalah, alat ukur empiris yang seringkali dipakai sebagai salah satu instrumen metodologi, untuk mengupas suatu hal secara konkrit. Untuk objek yang sama, ilmuan Islam tidak hanya berpegang pada bukti fisik. Ulama Islam memiliki disiplin ilmu riwayat.

Secara sederhana, dalam melacak sebuah kebenaran berita atau sejarah, ulama Islam menggunakan metode riwayat sedangkan ilmuwan Barat menggunakan pendekatan arkeologis dan bukti fisik.

Temuan arkeologis dianggap lebih kredibel, karena benda mati (temuan arkeologis) oleh mereka dianggap tidak melibatkan unsur emosional disana, sehingga lebih objektif. Padahal, selalu ada yang disebut “margin of error” dari pendekatan arkeologis dan bukti fisik.

Apakah bukti fisik selalu akurat? Sama sekali tidak. Misalnya, dalam bukti fisik berupa sebuah tulisan. Barangkali kita bisa, meski dengan kemungkinan margin of error tadi, melacak kapan itu ditulis. Namun, untuk melacak kebenaran isi tulisan itu, kembali membutuhkan konfirmasi, siapa yang menulis?

Oleh mereka, pendekatan riwayat dianggap kurang kredibel, karena disinyalir ada unsur emosional dari seorang perawi, sehingga terjadi bias.

Anggapan ini jelas membuktikan bahwa yang bersangkutan tidak memahami proses penelitian sebuah riwayat.

Karena dalam disiplin ilmu hadits, diterima atau ditolaknya satu kabar, membutuhkan penelitian yang tidak mudah. Ada serangkaian metode yang begitu kompleks, yang tidak cukup dengan membaca temuan buku dari antah brantah, atau mempercayai kabar satu orang yang tidak memenuhi kriteria tertentu.

Misalnya di tahap pertama, ilmuan hadits akan meneliti Ittishal Sanad (terjadi transmisi riwayat yang sambung). Kemudian, di tahap kedua,meneliti perawi yang ‘adil dan dhabith (mencakup intelektual dan moralitas)—kemudian juga meneliti matan haditsnya,apakah mengandung Syadz (mengandung kontradiksi yang tidak dimaafkan) atau mengandung ‘Illat (cacat yang lebih luas; baik teks maupun makna teks).

Selain itu, dalam menilai perawi, seorang kritikus dituntut untuk menilai dengan sangat teliti dan obyektif. Tidak boleh seorang kritikus menolak sebuah riwayat, hanya karena memiliki sentimen mazhab!

Di sini kita bisa melihat bahwa ulama hadits melakukan kritik eksternal (keritik perowi, alias transmitor sebuah riwayat) sekaligus kritik internal (kritik matan, alias, isi teks hadits) secara komprehensif.

Sampai di sini, yang patut untuk ditanyakan kepada siapa-siapa yang menganggap inferior keilmuan Islam adalah, kajian seperti apa yang mereka maksud berbobot ilmiah? Apa ukurannya? Skeptis dengan agama? Liberal? Meninggalkan atau merombak kajian ulama-ulama terdahulu? Melakukan interpretasi ulang terhadap al-Qur’an dan Hadits? Mengkaji agama dengan cara mereka?

Kalau benar demikian, ini sungguh memalukan. Bagaimana bisa seorang akademisi menilai bobot atau tidaknya sebuah penelitian, menggunakan ukurannya sendiri? Padahal, kalau sedikit saja kita melihat bagaimana mereka mengkaji Islam, kita akan segera tahu, bahwa kajian mereka tidak memiliki nilai yang begitu berarti.

Misalnya, lihatlahbagaimana akademisi Barat itumengkaji Islam.Mereka selalu sibuk membahas hal-hal yang tidak substansial, seperti —sebagaimana yang beberapa episode lalu kita bahas—ketika mereka mengkaji al-Qur’an. Mereka sibuk membahas aspek kulitnya, namun menghindar —atau bahkan menolak—dari membahas klaim al-Qur’an sebagai firman Tuhan, yang menjadi substansinya.

Jika boleh saya ibaratkan, mereka ini ibarat orang yang sedang mengkajimakanan, misalnya Bakso, yang oleh mereka sibuk dibahas adalah mangkoknya, kuahnya, dan paling dalam mereka membahas mie-nya. Mereka menghindar membahas Baksonya!

Apakah itu yang disebut berbobot ilmiah?

Kapan Seseorang Disebut Spesialis?
Islam, meski tidak mewajibkan setiap orang (fardhu ‘ain) untuk menjadi seorang spesialis, tetap saja mewajibkan—setidaknya ada— sebagian orang (fardhu kifayah) yangmenjadi spesialis di bidang tertentu.

Spesialis, bukan hanya orang yang memahami dan hafal materi-materi ilmu tertentu.Lebih dari itu, spesialis adalah orang yang sudah memiliki malakah untuk setiap ilmu yang ditekuninya. Malakah ini tidak didapatkan hanya dengan membaca, memahami, dan menghafal. Namun harus ditambah dengan mengaplikasikan, mendiskusikan, menulis ulang, dan mengajarkan.

Ilmu yang sudah kita pahami dan hafalkan, jika tidak pernah kita aplikasikan, seolah masih tersimpan rapi di alam pikiran kita. Dan ketika kita mulai menerapkannya, menulisnya, mendiskusikannya, maka perlahan-lahan ilmu-ilmu itu akan terekam dengan baik di otak sistem satu kita.

Ada sebuah penelitian menarik dari NTL Institute of Applied Behavioral Science Learning. Hasil penelitian mereka mengatakan, bahwa tingkat pemahaman seseorang akan sebuah materi pelajaran berbeda-beda, tergantung bagaimana ia mempelajari itu.

Di situ disebutkan, pemahaman yang didapat dari belajar dengan sistem mendengarkan penjelasan orang lain, hanya 5%. Dengan disertai membaca, meningkat menjadi 10%. Jika disertai audio-visual, naik lagi menjadi 20%. Dengan demonstrasi 30%.

Belajar dengan cara diskusi, bisa mencapai 50%. Dengan langsung dipraktekkan, berkisar 75%. Dan terakhir, dengan cara mengajari orang yang lain, pemahaman bisa mencapai 90%!

Saya teringat metode pendidikan Nabi kepada para sahabatnya. Para sahabat Nabi, setelah mendengarkan dari Nabi, mereka akan langsung mengamalkan (praktek, mengaplikasikan) dan tidak akan menghafalkan ayat berikutnya, sebelum ayat yang pertama benar-benar sudah diamalkan.

Selain itu, Nabi kerap kali mengajari sahabatnya dengan cara diskusi. Seperti, ketika ada seseorang meminta izin untuk berzina kepada Nabi, maka Nabi tidak langsung mengatakan, “Haram!”. Beliau mengajaknya berdiskusi, “Bagaimana jika ibumu dizinai, anak wanitamu, saudaramu..” dst., hingga akhirnya, setelah diskusi itu, ia benar-benar membenci perbuatan zina selama hidupnya.

Nabi juga memerintahkan sahabatnya untuk menulis. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, “Menulis adalah proses mengikat ilmu”

Selain itu, Nabi pun smemerintahkan semua sahabat untuk menyampaikan (mengajarkan) apa yang mereka dengar dari Nabi kepada orang lain, meskipun satu ayat!

Lengkap sudah.

Adakah metode pendidikan yang lebih baik dan sempurna dari pendidikan Nabi? Rasanya tidak. Maka tidak heran, jika sahabat Nabi adalah orang yang benar-benar malakah terhadap ilmu agama.

Pendidikan inilah yang sejatinya diterapkan di pesantren, seperti yang akan segera kita lihat.

Dalam bahasa Arab, ada yang disebut sebagai Ta’lim (pengajaran) dan Tarbiyah (pendidikan). Kedua istilah itu, dalam banyak hal dipisah pengertiannya sebagai berikut; Ta’lim (pengajaran) hanya memuat transfer knowlage, sedangkan Tarbiyah (pendidikan) bukan sekadar mentransfer maklumat, lebih dari itu, mendidik artinya juga menuntun, memberi contoh, mengedukasi, dsb.

Oleh karena itu, Tuhan, dalam bahasa Arab, juga disebut “Rabb” yang memiliki akar kata yang sama dengan Tarbiyah.

Untuk saat ini, praktis bisa dinyatakan bahwa pendidikan sejati –dengan makna Tarbiyah, sebagaimana pengakuan banyak praktisi pendidikan– hanya ditemukan di pesantren. Lembaga-lembaga pendidikan secara umum, sejatinya hanya berisi “pengajaran”, transfer knowlage, bukan “pendidikan” dalam makna Tarbiyah.

Pesantren, memiliki cara belajar tertentu, yang menuntut seorang santri benar-benar malakah terhadap ilmu tersebut.

Misalnya dengan belajar sistem tadrij. Dimulai dari mempelajari matan, menghafal matan, mempelajari syarah, dan hasyiah. Setelah itu, apa yang sudah mereka pelajari itu kemudian digodok di dalam forum-forum diskusi ilmiah. Jika ada maklumat-maklumat yang bisa diaplikasikan, maka akan segera diaplikasiakan. Dan di masa-masa akhir, biasanya seorang santri diperintahkan kiyainya untuk berkhidmad, dengan cara mengajar.

Jadi sesungguhnya, pesantren, mengumpulkan metode belajar Nabi: membaca, memahami, menghafalkan, mengaplikasikan, mendiskusikan, dan mengajarkan.

Sesuai dengan tujuannya, pesantren tidak hanya melakukan transfer knowlage, namun juga melakukan bimbingan secara langsung kepada santri, sehingga ada interaksi langsung antara guru dengan murid.

Sebagaimana pendidikan Nabi, beliau tidak hanya memberi maklumat kepada para sabhabat, namun juga memberi contoh langsung, dan mengoreksi langsung praktek amaliahnya. Di pesantren pun demikian. Para santri bisa melihat langsung bagaimana praktek ilmu dari gurunya. Sehingga sejatinya mereka belajar selama 24 jam.

Dalam hal ini, pesantren terbukti melahirkan manusia-manusia yang dapat hidup di mana saja, dengan siapa saja, dan selalu cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Kemampuan cepat beradaptasi ini yang menjadi jawaban atas pertanyaan,“Masihkah pendidikan ala pesantren ini relevan?”.

Penutup

Karenakeilmuan Islam tidak hanya menyangkut hal-hal fisik, namun juga rohani, maka ciri khas pendidikan ulama salaf adalah,selain memberikan pendidikan fisik, juga memberi pendidikan rohani bagi murid-muridnya. Fenomena ini jelas tidak akan kita temukan di lembaga pendidikan modern pada umumnya.

Di sinilah kekuatan pendidikan ulama salaf sesungguhnya. Ada hubungan rohani (robitoh) antara santri dan kiyainya.Hubungan ini, membuat ikatan keduanya bukan sekadar ikatan belajar-mengajar, namun juga ada ikatan batin. Hubungan inilah yang akan terus langgeng, bukan hanya ketika siswa masih berada dibawah bimbingan gurunya, namun akan terus ada sampai mati. Minimal, ada hubungan saling mendoakan antara guru dengan muridnya.

Sebagai penutup, saya ingin menuliskan cerita pendek. Seorang pengurus pondok bercerita, ada seorang kiyai yang rutin meminta para pengurus untuk mengumpulkan nama-nama santri yang bermasalah. Kiyai itu memerintahkan agar pengurus menulisnya, lengkap dengan alamat, tanggal lahir, sekaligus tingkat kenakalannya. Tak disangka, ternyata nama-nama itu adalah nama-nama yang hendak didoakan setiap malam di dalam sujud sholat tahajud sang kiyai. Inilah pendidikan yang akan selalu relevan, tidak tergilas oleh zaman. Whallahu’alam.

Share this