0 items in your shopping cart

No products in the cart.

HABAIB DAN KYAI TIDAK BISA DIPISAHKAN

Mas Hasan Biqi Muhammad

Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa persatuan umat Islam merupakan perintah Alloh dalam kitab suci, juga anjuran dari Rosul-Nya dalam hadits-hadits Nabawi. Cukup banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang menyebutkan pentingnya persatuan serta ancaman perpecahan di tengah umat ini.

Persatuan adalah harga mati untuk menggapai kejayaan dan kemuliaan. Dengan bersatu, kita menjadi kuat tak terkalahkan. Dengan berpecah, musuh Islam akan bergembira dan menertawakan.

Oleh karenanya, di antara tugas utama para setan durjana, baik dari kalangan jin maupun manusia adalah membuat perpecahan dan permusuhan di mana-mana. Mereka tahu bahwa jika laba-laba bersatu, maka mereka bisa mengikat singa, apalagi jika umat Nabi yang istimewa bersatu, maka kebatilan pasti akan sirna.

Al-Qur’an pun seolah tak bosan menasihati akan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Tidak hanya satu-dua ayat yang membicarakan, lebih dari itu, berkali-kali ayat turun untuk kembali mengingatkan. Baca saja seperti ayat dalam surat al-Anbiya ayat 92, surat al-Mu’minun ayat 52, surat al-Rum ayat 32, surat al-Anfal ayat 63, surat al-Nisa’ ayat 114, surat al-Taubah ayat 11, dan surat Ali Imran ayat 103, semuanya bersuara akan pentingnya menjaga kerukunan serta menjauhi pertikaian.

Maka suara-suara sumbang akhir-akhir ini, yang mengajak umat untuk mengadu domba antara para Ulama dan Habaib, di mana dua entitas ini merupakan ujung tombak dalam perjuangan Islam di tanah Nusantara adalah fitnah dan bahaya besar yang wajib diwaspadai.

Hubungan Antara Kiai dan Habaib di Nusantara

Bila kita membuka lembaran dan catatan sejarah, maka kita akan temukan bagaimana hubungan erat antara para Habaib dan Kiai di Nusantara sudah terjalin sejak ratusan tahun yang lalu. Banyak para Kiai dan Habaib yang telah mencatat kemesraan dan kehangatan mereka dalam sebuah buku. Di antaranya adalah KH. Nanal Ainal Fauz – seorang pemerhati turots Nusantara yang berhasil mengoleksi ribuan karya Ulama Nusantara- dengan bukunya yang berjudul “Fakta Sejarah Hubungan Ulama Nusantara dan Sadah Baalawi di Nusantara”.

Para Kiai dan Masyayikh di Nusantara telah menjalin hubungan melalui jalur transfer ilmu -sebagai murid dan guru- sejak ratusan tahun yang lalu.

Di antara peristiwa yang tercatat adalah istifta’ (permintaan fatwa) dari masyarakat Betawi atas beberapa kasus atau masalah di Betawi  (Jakarta) kepada cicit al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad. Yaitu Habib Alawi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alawi al-Haddad. Istifta’ ini kemudian melahirkan karya yang berjudul:

القول الحاوي لأهل بتاوي

 

Kitab ini beliau tulis ketika beliau tiba di Betawi untuk ziarah al-Habib al-Imam Badruddin al-Husain bin Abu Bakar al-Idrus Luar Batang pada awal Rabi’ul Awwal tahun 1227 H/ Maret 1812 M (dua abad yang lalu).

Musnid dunya Syaikh Yasin al-Padani al-Makki mencatat bahwa sanad Ihya’ Ulumuddin Syaikh Nawawi al-Bantani adalah melalui Sadat Baalawi, yaitu Syaikh Nawawi Banten, dari Syaikh Abdul Shamad al-Palimbangi, dari Sayyid Abdurahman Bin Musthofa al-Idrus.

Kemudian Syaikhona Kholil Bangkalan -Maha Guru Ulama Nusantara pada abad 19-20 M- yang juga banyak memiliki Guru dari kalangan Habaib, di antaranya Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi (ayahanda Habib Ali al-Habsy penyusun Simthud Durar), juga punya murid dari kalangan Habaib, di antaranya Habib Salim bin Jindan.

Bahkan di antara amalan andalan Syaikhona Kholil Bangkalan adalah Ratib Haddad, sebuah kumpulan doa yang disusun oleh Habib Abdullah al-Haddad Baalawi. Banyak ditemukan manuskrip ratib Haddad yang ditulis langsung oleh Syaikhona Kholil Bangkalan.

Lantas ada KH. Soleh Darat -Guru dari Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Mahfudz Termas- yang juga pernah tercatat pernah berguru kepada Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih saat sang Habib tinggal di Semarang.

Tidak ketinggalan, pendiri Nahdlatul Ulama, kiainya para kiai, yang juga guru dari Muassis Ponpes Al-Fatah, Romo Kiai Mahmud, yakni Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari memiliki banyak guru dari kalangan Sadat Baalawi, di antaranya adalah Sayyid Alwi bin Ahmad Al-Saqqaf, Sayyid Husain bin Muhammad Al-Habsyi, dan lainnya.

Dari sini, maka bisa kita simpulkan bahwa hubungan antara para Ulama Nusantara dengan para Habaib Baalawi adalah sangat kuat dan erat. Hampir seluruh Masyayikh memiliki jalur nasab keilmuan kepada para Sadat Baalawi.

Keabsahan Nasab Sadat Baalawi

Ketersambungan nasab Baalawi kepada Baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam merupakan perkara yang sangat masyhur di berbagai negeri Islam. Hanya segelintir manusia saja yang menolak dan mengingkarinya.

Di sini kami akan mengutip pernyataan beberapa Aimmah Kibar mengenai ketersambungan nasab Baalawi kepada Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam (bahwa Sadat Baalawi benar-benar anak cucu Baginda Nabi).

Yang pertama adalah pernyataan tokoh agung Syafiiiyah, muhaqqiq madzhab Syafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah. Beliau menulis dalam Tsabatnya (hal. 211-213);

ولنتختم بطريقة جليلة عالية المقدار؛ لأن مشايخها من أولهم إلى منتهاهم من آل البيت كل عن أبيه قال القطب أبو بكر العيدروس: لبستها من أبي القطب عبد الله العيدروس من أبيه أبي بكر وهو من أبيه عبد الرحمن السقاف وهو من أبيه محمد، من أبيه علي من أبيه ، علوي من أبيه الفقيه محمد الذي يتشعب منه أ أنساب بني علوي من أبيه علي من أبيه محمد، من أبيه علي من أبيه علوي، من أبيه محمد، من أبيه ، علوي من أبيه عبد الله من أبيه أحمد، من أبيه عيسى، من أبيه محمد، من أبيه علي من أبيه جعفر الصادق، من أبيه محمد الباقر من أبيه علي زين العابدين من أبيه سيد الشهداء الحسين، من أبيه علي رضي الله عنه من رسول الله صلى الله عليه واله وسلم عدد معلوماته أبدا

Dalam tulisan ini, dengan jelas bahwa Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa Bani Alawi tersambung sampai Baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menyebut nama-nama keluarga Bani Alawi (Baalawi) sampai berakhir kepada nama Baginda Muhammad. Bahkan, beliau memberikan gelar “al-Quthb” kepada Sayyid Abu Bakar al-Idrus rahimahumullah. Tentu “pengakuan” ini sangat istimewa, sebab lahir dari sosok yang super istimewa.

Kemudian yang tidak kalah istimewa, yaitu pernyataan dari salah satu tokoh Syam, Qadhi agung di masanya, al-Allamah al-Qadhi Yusuf bin Ismail al-Nabhani. Beliau berkata:

إِنَّ سَادَتَنَا آلَ بَاعَلَوِي، وَقَدْ أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ فِي سَائِرِ الْأَعْصارِ والأقطار عَلَى أَنَّهُمْ مِنْ أَصَحِّ أَهْلِ بَيْتِ النُّبُوَّةِ نَسَبًا.  . لَا يُنْكَرُ فِي صِحَّةِ نَسَبِهِمْ وَكَثْرَةِ فَضَائِلِهِمْ، وَمَنَاقِبِهِمُ الَّتِي تَمَيَّزُوا بِهَا عَنْ الْآخَرِينَ بِبَرَكَةِ جَدِّهِمْ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، إِلَّا مَنْ قلّ حَظُّهُ فِي الْإِسْلَامِ.

 

Sungguh para Saadah kami dari keluarga Ba’alawi, umat Muhammad di seluruh zaman dan pelosok telah berkonsensus (bersepakat) bahwa mereka dari Ahlu Bait kenabian yang memiliki nasab paling sahih… Dan tidak meragukan kesahihan nasab mereka dan banyaknya keutamaan serta keistimewaan mereka yang membedakan mereka dengan kelompok yang lain dengan berkat datuk mereka shallallahu alaihi wa sallam, kecuali orang yang sedikit bagiannya dalam Islam.

Lantas ada juga tokoh muhaddits, muarrikh, dan muhaqqiq tersohor dari negeri Fez Maroko (Afrika Bagian Utara), yaitu Al-Musnid al-Allamah Abdul Hafidz bin Muhammad al-Tahir al-Fasi, beliau berkata:

بَيْتُ السَّادَةِ آلِ بَاعَلَوِي اليَمَانِيِّينَ الحَضْرَمِيِّينَ أَعْظَمُ بُيُوتَاتِ الدُّنْيَا قَدْرًا وَاسْمًا وَفَخْرًا. اكْتَمَلَ بَدْرُهُمْ، وشاع في البسيطة نُورُهُمْ وَسِردهُمْ، وَسَالَ سِلْسالُ فَضْلِهِمْ فِي الْأَقْطَارِ، وَذاعَ شذا نور روضهم المعطار فِي جَمِيعِ الأصقاع، وَالْأَمصَارِ وبيتهم معمور بالعلم والعرفان، وَطَرِيقَتُهُمْ المثلى يَتَوَارَثُونَهَا عَنْ آبَائِهِمُ الأكْرَمِينَ عَلَى مَمرِّ الأَزْمَانِ، وينقلها نجيب عَنْ نَجِيبٍ، خَصيصَةً مِنَ القَرِيبِ المجيب. مَعَ اشْتِهَارِهِمْ بِصِحَّةِ النَّسَبِ، وَعَرَاقَتِهِمُ فِي الْمَجْدِ، وَالْحَسَبِ.

Keluarga Saadah Ba’alawi yang berasal dari Hadramaut Yaman adalah keluarga yang memiliki kedudukan paling agung dan kebanggaan yang paling luhur. Mereka seperti purnama yang sempurna, cahaya dan sebutan mereka menyebar di seluruh dunia, keutamaan mereka mengelilingi belahan bumi laksana sebuah lilitan rantai. Wangi harum mereka tercium hingga berbagai penjuru laksana sebuah taman bunga.

 

Keluarga ini terkenal dengan ilmu dan tasawuf. Tarekat mereka adalah anutan yang mereka wariskan dari leluhur mereka yang mulia di sepanjang masa, tarekat yang diwariskan oleh putera yang mulia dari ayah yang mulia, oleh kerabat dari kerabat, dengan kemasyhuran nasab mereka yang shahih serta keagungan mereka.

Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh agung dari berbagai penjuru dunia yang mengakui dan sangat memuliakan keluarga Bani Alawi. Hanya saja tiga tokoh agung ini kami rasa sudah sangat mencukupi dan mewakili.

Sebab level para penolak nasab Habaib Baalawi jauh dan sangat jauh dibandingkan tiga nama di atas, bahkan untuk menyebut nama mereka -para penolak Baalawi- di tulisan inipun pun kami rasa tidak pantas.

Bagaikan Bahtera dan Bintang

Keluarga Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah bagaikan bahtera Nuh, sedangkan para shahabat Nabi adalah bagaikan bintang di langit (sebagaimana dalam beberapa riwayat, kendati fihi kalam).

Dalam perjalanan malam, bahtera tanpa bintang akan menyesatkan. Begitu pula mengandalkan bintang tanpa bahtera, seseorang akan tenggelam.

Mencintai Shahabat Nabi (dan para Ulama sebagai pewarisnya) beriringan dengan mencintai Dzurriyah Nabi adalah bagaikan bintang dan bahtera yang tak boleh dipisahkan. Keduanya tidak boleh dipisahkan.

Apalagi dalam perjuangan Islam di Nusantara, Habaib dan para Kiai begitu sangat melengkapi. Kiai dengan pesantrennya dan Habaib dengan majelisnya. Begitu istimewa. Bahkan dalam sejarah Islam di Nusantara, banyak kerja sama yang telah terjalin antara para Habaib, Ulama dan raja-raja setempat. Mereka bahu membahu berjuang bersama sama dalam menyiarkan Islam di bumi Nusantara. Dalam perjuangan melawan penjajahan pun, banyak dari kalangan Habaib yang turut andil dalam gelanggang pertempuran. Sejarah indah ini sangat mudah kita temukan dalam buku-buku sejarah, tentu bagi para pemilik hati yang jernih.

Ikhtitam

Sebenarnya banyak yang ingin kami tulis dalam tema Almaktabah kali ini. Hanya saja karena keterbatasan alokasi tempat, maka hanya inilah yang dapat kami sajikan kepada para pembaca.

Kami menutup tulisan singkat ini dengan nasihat dan pesan Guru kami yang tercinta, Romo Kiai Uzairan Thaifur Abdillah rahimahullah yang cukup populer,

“Ada tiga kekuatan Islam yang terbesar di Indonesia yang ingin dirusak oleh ahli batil, yaitu para Habaib, para Kiai pesantren, dan ahli Dakwah”.

Semoga umat Islam terkhusus di Indonesia tetap istiqamah mencintai para kiai, para habaib, dan sesama saudara muslimnya, sehingga Islam tetap terjaga dari musuh-musuhnya. Amiin.

 

 

Share this