0 items in your shopping cart

No products in the cart.

PERANG SALIB DAN LITERATUR ISLAM

 MAS HASAN BIKI MUHAMMAD

Kajian mengenai Kristenisasi tidak lepas dari pembahasan Perang Salib. Sebab Kristenisasi memiliki kaitan erat dengan tema Ghozwul Fikiri (Perang Ideologi) yang dicanangkan oleh pihak Kristen pasca mereka menelan kekalahan telak pada Perang Salib. Kristenisasi sering disebut sebagai gerakan politis kolonialisasi dalam rangka pengokohan hegemoni atas negara-negara Islam, di mana mereka gagal mencapainya dalam Perang Salib.

Perang Salib sangatlah kompleks di mata sejarawan. Bahkan dari penamaannya sebagai Perang Salib, sudah diperdebatkan. Di sini kami akan mencoba merangkumnya dari beberapa sudut pandang, wabil khusus sudut pandang umat Islam. Sebab, diakui atau tidak; Islam merupakan korban pertama sekaligus pemenang dalam pertempuran tersebut.

Penamaan Perang Salib

       Ruang lingkup istilah Perang Salib masih menjadi perdebatan. Dan dalam penggunaannya, dapat dimaknai secara berbeda tergantung sudut pandang penulis. Biasanya kelompok tradisionalis menganggap bahwa Perang Salib hanyalah perang yang dilakukan oleh umat Kristen di Yerussalem. Sedangkan kaum Pluralis memandang bahwa Perang Salib adalah setiap peperangan (aksi militer) yang direstui oleh Paus yang sedang menjabat. Ada pula yang memandang Perang Salib sebagai perang yang hanya dilakukan oleh Gereja Latin dalam rangka membela agamanya.

Namun dalam literatur Islam yang muncul belakangan, mereka menyebut bahwa Perang Salib merupakan setiap perang yang dicanangkan oleh Gereja, dalam rangka mengambil kembali tanah -yang menurut mereka- telah dirampas oleh umat Islam. Objek penyerangan ini berpusat di Andalusia, Mesir, Syam, dan Irak. Perang ini juga disimboli dengan penggunaan atribut Salib oleh para pasukan Salib. Ini sebagaimana keterangan Sayyid Wadih Rasyid dalam bukunya, al-Ghozwu al-Fikri.

Yarussalem Sebelum Perang Salib

Sebelum Masehi

Raja Neo-Babilonia Nebukadnezar II menaklukkan Yerusalem pada tahun 597 SM. Dia membawa Raja Yoyakim dan kelas atas Yahudi ke dalam tahanan, mengirim mereka ke Babel dan menghancurkan Bait Suci. Namun kemudian, raja Persia Cyrus Agung merebut kembali Babel, dan mempersilahkan orang Yahudi membangun Bait Suci mereka.

Masa Kekuasaan Romawi

Sejak tahun 63 M, Yerusalem berada di bawah pemerintahan Romawi. Pada tahun 66 M, terjadi perang Yahudi dan Romawi Pertama. Perang berakhir 4 tahun kemudian, dengan kemenangan Romawi; Kuil Yahudi dihancurkan dan warga Yahudi kembali dibantai dan diusir.

Masa Pemerintahan Islam

Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, Yerusalem dikepung dan dikuasai bangsa Arab pada tahun 637 Masehi. Tidak ada pembantaian warga sipil, warga Muslim, Yahudi, dan Nasrani hidup berdampingan bersama.

Latar Belakang Perang Salib

       Selain perasaan semangat “merebut kembali tanah yang telah dirampas oleg umat Islam”, sebenarnya pihak Kristen sangat khawatir akan kekuatan Islam di Anatolia (Turki sekarang) dan Suriah oleh Bani Seljuk yang terus menguat, dan pada tahun 1092 tidak ada satu pun kota besar di Asia yang dikuasai oleh Kristen. Kemudian aturan dari bani Saljuk yang membatasi dan memperketat ziarah umat Kristen ke Yerusalem, dijadikan sebagai justifikasi umat Kristen untuk merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslim.

Pada tahun 1095, Kaisar Alexius Komnenus meminta Paus Urbanus II untuk mengobarkan semangat Perang Salib kepada umat Kristen di Eropa. Untuk menyatukan kekuatan, ia menyerukan peperangan dengan tujuan menundukkan gereja-gereja di Timur yang dikuasai oleh umat Islam.

Di sini kami akan rangkumkan Perang Salib dengan delapan kejadiannya, yang kami rangkum dari berbagai sumber, termasuk sedikit cuplikan keterangan dari Dr. Ibrahim Syamsuddin, yang menuliskan catatan kaki kitab, ar-Roudhatain fi Akhbaari ad-Daulatain, karya Syaikh Abi Syamah al-Maqdisi as-Syafi’i.

Perang Salib

Perang Salib 1  (1095-1101)

Pada bulan Maret 1095 di Konsili Piacenza, duta besar yang dikirim oleh kaisar Bizantium, Alexius Komnenus (Alexius I), meminta bantuan untuk melawan Turki Seljuk. Sedangkan di Konsili Clermont, Paus Urbanus II meminta seluruh umat Kristen untuk bergabung dalam perang melawan Turki Seljuk, sekaligus memberikan jaminan kepada siapa pun yang ikut serta dan mati saat perang salib, bahwa mereka akan masuk surga walaupun mempunyai banyak dosa pada masa lalunya.

Setelah turun ke medan perang, pasukan Salib berhasil mengalahkan dua pasukan besar Turki di Dorylaeum dan di Antiokhia. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslimin yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.” (dari sebuah artikel Insist.Id)

Perang Salib 2  (1145-1150)

Titik balik Perang Salib bagi umat Islam terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imaduddin Zengi, ayah dari Nuruddin Zengi. Dua tahun sesudah itu, Imaduddin Zengi wafat, tahun 1146. Perjuangan kemudian diteruskan oleh anaknya Nuruddin Zengi, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nuruddin meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim.

Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib baru ini didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal adalah Bernardus dari Clairvaux. Tentara Prancis dan Jerman, di bawah pimpinan Raja Louis VII dan Konrad III, berbaris ke Yerusalem pada tahun 1147 tetapi gagal mencapai keberhasilan besar. Pada 1150, kedua pemimpin besar itu kembali ke negaranya dengan tangan kosong.

Setelah meninggalnya Nuruddin pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nuruddin, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Beliau berhasil membebaskan Yarussalem dengan memberi jaminan kepada warga Kristen yang ingin pergi, agar dapat pergi dengan aman.

Pembebasan ini tidak sama dengan kependudukan Yarussalem oleh Pasukan Salib di perang pertama mereka, di mana mereka menumpas warga sipil; baik Muslim maupun Yahudi yang berada di sana. Sehingga masuknya Salahuddin bersama tentaranya lebih tepat disebut pembebasan, bukan penaklukan.

Perang Salib 3 (1188-1192)

Dengan jatuhnya Yarussalem ke tangan umat Islam, Paus Gregorius VIII pun menyerukan perang salib ketiga, yang langsung disambut oleh Raja Richard I dari Inggris (Richard the Lionheart), Kaisar Romawi Suci Frederick I dan Raja Philip II dari Perancis. Namun mereka gagal merebut Yarussalem dari tangan umat Islam. Richard pun meninggalkan perang salib setelah mengadakan gencatan senjata dengan Salahuddin. Paus Gregorius VIII mati sebelum melihat akhir dari Perang Salib ketiga ini.

Perang Salib 4 (1202-1204)

Perang Salib Keempat dimulai pada tahun 1202 oleh Paus Innosensius III, dengan maksud untuk menginvasi Tanah Suci melalui Mesir. Perang ini juga menjadi kendaraan bagi ambisi politik Doge Enrico Dandolo dari Venesia untuk memperluas kekuasaan Venesia di Timur Dekat dan melepaskan diri dari Bizantium. Namun karena kekurangan dana, mereka pun mengalihkan Perang Salib ke Bizantium. Paus Innosensius III yang terkejut karena peristiwa itu, langsung mengekskomunikasi mereka semua. Walau begitu, mereka kembali melakukan pengepungan pada bulan April 1204. Kali ini Konstantinopel dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak penduduk yang dibunuh. Namun misi awal mereka untuk menginvasi Yarussalem gagal.

Perang Salib 5 (1217)

Pada tahun 1215, Dewan Keempat Lateran merumuskan sebuah rencana untuk pemulihan Tanah Suci. Pada tahun 1219, pasukan perang salib berhasil mengepung Damietta di Mesir. Namun di bawah desakan seorang legatus kepausan, Pelagius, mereka melanjutkan serangan ke Kairo. Blokade pasukan Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil memaksa mereka untuk menyerah dan mengadakan gencatan senjata. Lagi-lagi pasukan Salib gagal memasuki Yarussalem.

Perang Salib 6 (1228-1229, 1239)

Perang Salib Keenam berawal pada tahun 1228 sebagai suatu upaya untuk mendapatkan kembali Yerusalem. Perang ini dimulai setelah kegagalan Perang Salib Kelima. Manuver diplomatik Friedrich II, Kaisar Romawi Suci, menyebabkan Yerusalem dan beberapa daerah lainnya seperti Nazaret, Sidon, Yafo, dan Betlehem diserahkan ke Tentara Salib sepanjang lima belas tahun berikutnya (1229-39, 1241-44).

Perang Salib 7 (1249-1254)

Perang Salib Ketujuh merupakan suatu perang salib yang dipimpin oleh Louis IX dari Prancis dari tahun 1248 sampai 1254. Sekitar 800.000 bezant (mata uang emas pada abad pertengahan) dibayarkan sebagai uang tebusan untuk Raja Louis. Ia dikalahkan dan ditangkap pasukan Mesir yang dipimpin oleh Sultan Ayyubiyyah Turanshah yang dididukung kaum Mamluk dari Bahri yang dipimpin oleh Faris ad-Din Aktai, Baibars al-Bunduqdari, Saif ad-Din Al-Qutuz, Izz al-Din Aybak, dan al-Mansur Qalawun dalam kurun waktu empat puluh delapan jam.

Pertempuran ini dianggap oleh banyak sejarawan sebagai lonceng kematian bagi negara-negara Kristen. Kemenangan telak diperoleh umat Islam.

Perang Salib 8 (1270)

Perang Salib kedelapan diorganisasi oleh Louis IX pada tahun 1270, yang berlayar dari Aigues-Mortes untuk membantu sisa-sisa negara-negara tentara salib di Suriah. Perang salib ini dianggap gagal karena Louis meninggal dunia akibat penyakit tidak lama setelah tiba di pesisir Tunisia, dan pasukannya yang juga dilanda wabah penyakit membubarkan diri kembali ke Eropa tidak lama setelahnya. Hasil dari perang salib ini adalah hilangnya kekuasaan Kristen di Suriah, namun umat Kristen tetap diizinkan untuk hidup damai di wilayah tersebut.

Pasca Perang Salib

Setelah menelan banyak sekali kekalahan dan kerugian, Barat (Kristen) mengalihkan fokusnya dari peperangan militer, menuju Perang Ideologi. Setelah banyak sarjana mereka yang belajar ilmu Timur (Orientalis), mereka mulai membuat skema dan arah baru. Militer -untuk sementara waktu- bukan lagi prioritas mereka. Mereka menyerang Islam dan umat Islam dengan Ilmu dan budaya. Mereka menyerang peradaban Islam. Dan dari sekian “senjata” yang mereka gunakan; Kristenisasi merupakan salah satunya.

Banyak sekali dokumen-dokumen yang merupakan hasil Konferensi Misionaris, menyatakan bahwa misi utama mereka (Misionaris) dalam gerakan Kristenisasi, bukanlah membuat umat Islam masuk ke dalam agama Nasrani. Jika nantinya ada dari orang muslim yang Masuk Kristen, itu merupakan suatu anugrah tersendiri (bonus). Namun tujuan utama mereka adalah membuat umat Islam terutama generasi muda Islam, jauh dari agama, bahkan tidak lagi memiliki hubungan dengan Tuhannya. Bukti tersebut memperkuat bahwa Kristenisasi tidak sama dengan konsep Dakwah dalam Islam. Kajian ini yang insyaallah penulis bahas dalam rubrik Rudud, Membantah anggapan bahwa Kristenisasi sama dengan konsep Dakwah Islam.

Kontroversi Literatur Islam

       “Sejarah selalu ditulis oleh pemenang”, begitulah kaidah peradaban. Namun kaidah ini tidak berlaku dalam Perang Salib. Seluruh dunia mengetahui bahwa pemenang dalam Perang Salib adalah umat Islam, bahkan pihak Kristen pun mengakui itu. Tetapi sebagaimana yang kita ketahui, literatur sejarah yang membahas peperangan ini banyak ditulis dan dinarasikan oleh pihak yang kalah. Ya, sejarah Perang Salib banyak ditulis oleh sejarawan Kristen, termasuk Orientalis Barat, meskipun -kami juga tidak menutup mata- beberapa di antaranya menulis dengan obyektif.

Sedikitnya literatur Islam yang membahas Perang Salib, masih menjadi teka-teki banyak pihak. Padahal tidak sedikit sejarawan muslim tersohor yang hidup di zaman itu. Beberapa sejarawan muslim ada yang menuliskan peperangan tersebut, namun tulisan mereka tidak sebanyak dan sedetail tulisan sejarawan pihak Kristen. Bahkan sebagian pihak mengklaim, tidak ditemukan sama sekali literatur Islam mengenai kejadian Perang Salib. Sebagian mereka juga turut menyeret nama al-Imam al-Ghazali yang dianggap ‘bungkam’ atas kejadian yang memilukan bagi umat Islam ini. Pihak tersebut menganggap bahwa Imam al-Ghazali terlalu sibuk dengan kezuhudan-nya, hingga di masa Perang Salib -di tahun beliau menulis kitab monumentalnya, Ihya’ ‘Ulumiddin- beliau tidak menyinggung sama sekali, bahkan tidak menuliskan urgensi Jihad melawan orang kafir; sebagai gantinya, beliau menuliskan bab Jihad an-Nafs.

Literatur Islam dan Imam al-Ghazali

Anggapan bahwa tidak ditemukan sama sekali kisah Perang Salib dalam literatur Islam, tentu anggapan yang bersumber dari minimnya wawasan. Sebutlah Syaikh Abi Syamah al-Maqdisi (1203-1267 M), seorang Ulama’ bermadzhab Syafi’i, sekaligus seorang sejarawan besar. Beliau menulis kitab berjudul, “’Uyun ar-Roudhatain fi Akhbar ad-Daulatain an-Nuriyah wa As-Salahiyah”. Dalam kitabnya beliau bercerita mengenai panjang lebar mengenai sosok Nuruddin Zanki dan Salahuddin al-Ayyubi, beserta kejadian-kejadian yang dialami kedua sosok tersebut, termasuk Perang Salib. Namun tidak dengan penamaan al-Harb as-Sholibiyah. Sebab penamaan Perang Salib belum muncul di saat perang pertama kali dimulai.

Adapun anggapan bahwa Imam al-Ghazali sibuk dengan kezuhudannya dan melupakan nasib umat Islam, -menurut kami- ini anggapan yang sembrono. Tidak menuliskan kejadian Perang Salib dalam buku-bukunya, bukan berarti tidak mempedulikan kejadiannya. Ini dua hal yang berbeda. Terlebih Imam al-Ghazali dalam literatur Islam tidak dikenal sebagai sosok sejarawan, dan Kitab Ihya’ Ulumiddin bukanlah kitab Fikih -meski ada beberapa kajian fikih di dalamnya- yang fokus membahas hukum-hukum Islam, dan bukan pula kitab sejarah. Namun sebetulnya, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin beliau menuliskan bab Amar Makruf Nahi Munkar, di mana terdapat penjelasan bahwa “seorang muslim yang melihat kemungkaran dan tidak berusaha mencegahnya, maka dosa pelaku munkar tersebut juga Allah timpakan kepadanya”. Penjelasan tersebut sebetulnya sudah mencukupi bagi kita yang ingin mengetahui posisi Imam al-Ghazali dalam Perang Salib, sebagaimana yang sempat diragukan oleh sebagian pihak, dan ditulis oleh Prof. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya, “al-Imam al-Ghazali Baina Madihihi wa Naqidhihi”.

Sebagian pihak memberikan pembelaan kepada Imam al-Ghazali dengan argumen bahwa, Imam al-Ghazali justru sedang memperbaiki jiwa umat yang kala itu terlena oleh kehidupan dunia, sehingga pasukan Salib didatangkan oleh Allah sebagai ujian. Peran al-Ghazali dalam membangun moral kaum Muslim disebutkan oleh Nikita Elisseef, dalam bukunya The Reaction, hlm. 165. Bahwa, kelemahan spiritual di kalangan Muslim pada awal Perang Salib ditekankan oleh al-Ghazali, yang ketika itu mengajar di Damaskus. Al-Ghazali menekankan jihad melawan hawa nafsu, melawan kejahatan, di atas jihad melawan musuh. Tujuannya adalah untuk membantu kaum Muslim mereformasi jiwa mereka. Faktanya, sekitar 50 tahun kemudian, di masa Nur ad-Din Zengi, kaum Muslim mampu melaksanakan jihad efektif. Elisseef mencatat: “The person who would realize the ideal of the jihad which as-Sulami, Ghazali, and the ‘ulama of Damascus had advocated, was Nur ad-Din.” (Hegemoni Kristen Barat, oleh Adian Husaini, hlm. 20).

Ringkasnya, di masa Perang Salib kaum Muslim berhasil memperoleh kemenangan pasca kekalahan pada Perang Salib pertama, sebab menggabungkan konsep Jihad al-Nafs dan jihad melawan musuh.

Tatimmah

Sebagian kalangan berusaha meyakinkan kepada umat Islam agar tidak terlalu membesar-besarkan peristiwa Crusades (Perang Salib). “Ini bukan perang agama, ini perang merebutkan kekuasaan! Jangan dikait-kaitkan dengan agama!”, begitu celotehnya. Fakta bahwa gereja yang pertama kali mendeklarasikan peperangan ini dengan memberi iming-iming kepada Laskar Salib (Salibis) akan ampunan Tuhan (Indulgensi), tidak terbantahkan. Juga fakta adanya pembantaian (warga sipil) umat Islam dan Yahudi di Yarussalem pada Perang Salib pertama, memperkuat indikasi bahwa perang ini sarat akan adanya faktor keagamaan dari pihak Kristen.

Jika dilihat dari sudut pandang Islam, tentu peperangan ini merupakan perang yang diperintahkan oleh agama (Jihad) yang hukumnya Fardhu ‘Ain bagi setiap lelaki Muslim, baik yang memahami konsep Jihad dalam Islam sebagai Difa’i maupun Hujumi, sebab musuh sudah masuk ke dalam negeri Islam. Membela negara dan mengusir penjajah merupakan perintah agama Islam. Dan Itu yang juga melatar belakangi resolusi Jihad yang dibuat oleh Ulama’ Nusantara tatkala mengajak masyarakat Islam untuk melawan penjajah.

Share this