0 items in your shopping cart

No products in the cart.

AHLI ILMU SEBAGAI SUMBER ILMU

IDZHARUL HASAN

Kesesatan, di banyak sekali kesempatan, kerap bersembunyi di balik kalam ijmal. Kalam ijmal adalah ungkapan yang bersifat general, ambigu, dan tidak memerinci persoalan. Ungkapan itu seringkali diteriakkan secara fantastis dan penuh kehebohan, bak sound horeg. Padahal jika ditelisik lagi, kalimat itu sesungguhnya kosong tak bermakna, atau bahkan menyembunyikan mughalatah di baliknya. Kekeliruan baru akan terungkap, mula-mula dengan meneliti tiap landasan di balik ungkapannya. Semakin seseorang masuk ke dalam rincian masalah dan memeriksanya, semakin terungkap di mana letak kesalahannya.

 

Apakah setiap orang harus menguasai seluruh detil persoalan? Jelas tidak. Hampir mustahil ada orang yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan secara terperinci. Sehingga seorang pakar di bidang tertentu juga akan disebut awam di bidang yang lain. Hanya saja, hal ini tidak lantas membuat kita—yang awam di bidang tertentu—boleh menerima seluruh maklumat tanpa filter. Minimal kita bisa memilah dan memilih, sumber ilmu apa yang bisa dipercaya? Dan kira-kira, klaim macam apa yang bisa disebut sebagai ilmu dan klaim macam apa yang tidak bisa disebut sebagai ilmu?

 

Tulisan ini, dengan serba terbatas, akan membahas hal itu. Apa itu ilmu, apa sumbernya, dan siapa itu ahli ilmu?

 

Ilmu yang Hakiki

 

Para ulama ahli nadzor—di kalangan mutakallim—mengatakan bahwa ilmu adalah: sifatun yatajalla biha al-madzkur liman qamat bihi (sifat yang ada pada diri seseorang, yang dengan sifat itu ia bisa mengetahui sesuatu). Dari definisi ini, kita bisa langsung memahami bahwa ilmu itu sesungguhnya sifat yang ada pada diri seorang ‘alim. Dengan sifat itu, seorang ‘alim bisa mengetahui hakikat sesuatu dan membedakan mana yang benar dan mana yang tidak.

 

Dengan mafhum ilmu semacam ini, maka sudah barang tentu produk dari ilmu itu—selain dilandasi oleh pembuktian—mestinya mendetail dan terperinci. Karena untuk mengetahui hakikat sesuatu, seseorang tidak bisa hanya mengetahui bagian-bangain luar dari sesuatu yang ingin diketahuinya. Namun ia harus masuk sampai ke bagian-bagian terdalamnya.

 

Banyak ulama mengatakan, “al-‘ilm fi at-tafashil”. Hanya disebut pengetahuan ketika pembahasan sudah masuk ke dalam rincian persoalan. Adapun pengetahuan umum, yang sifatnya global, hanya disebut sebagai ilmu secara majaz, bukan ilmu yang hakiki. Untuk bisa sampai pada hal-hal detail, perlu waktu dan kesabaran. Sehingga jalan yang ditempuh untuk menjadi seorang ‘alim hakiki memang tidak bisa instan.

 

Banyak orang mengira, dengan dirinya rajin mengikuti kajian-kajian umum, lalu mencatat maklumat yang disampaikan para penceramah, maka ia sudah layak disebut “penunutut ilmu”. Anggapan ini jelas datang dari orang yang tidak tahu hakikat ilmu. Kebodohan, sebagaimana ungkapan banyak ulama, justru banyak tersembunyi di balik kajian-kajian umum, sebab, “fi al-ijmal nau’ min al-jahl”.

 

Membiasakan diri dengan pernyataan-pernyataan umum tanpa mau berpayah-payah masuk ke dalam detail permasalahan adalah aib bagi pelajar ilmu. Syaikh Muhammad Abu Musa, seorang pakar bahasa Arab al-Azhar, kerap mengatakan, “aku suka dengan kitab-kitab yang sulit, sebab kitab itu menguak jati diriku, apakah aku memang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu atau tidak”.

 

Ahli Ilmu Sebagai Sumber Ilmu

 

Berangkat dari pengertian ilmu sebagaimana yang sudah disebut di atas—ilmu sebagai sifat yang ada pada diri seorang ‘alim—maka para ulama menyatakan, “al-‘ilmu fi as-sudur”. Ilmu itu ada di dalam diri seorang ‘alim. Ilmu bukan yang tertulis di buku. Buku adalah wasilah untuk membentuk malakah keilmuan, tapi ilmu itu sendiri bukan yang tertuang di dalamnya.

 

Buku adalah kumpulan hasil pengetahuan yang ditulis oleh seorang ‘alim (produk ilmu). Sehingga yang menjadi sumber ilmu sesungguhnya bukan buku, melainkan si ‘alim yang menulisnya. Jika buku bisa disebut sebagai produk ilmu yang dituliskan, maka mestinya ada produk ilmu yang tidak tertulis!

 

Apakah teknologi yang “bisa berpikir” layak dijadikan sumber ilmu? Atau bahkan menggantikan peran si ‘alim? Di era ini, teknologi AI dianggap memiliki kemampuan “belajar”. Sehingga banyak disalahpahami seolah AI memiliki malakah keilmuan sendiri. Namun yang kerap dilupakan adalah, dari mana AI mengambil data yang akan ia olah? Dan metode seperti apa yang dipakai untuk membaca data itu? Apakah AI bisa memproduksi ilmu sendiri?

 

Dr. Ahmad Ataka, seorang pakar robotika menulis di bukunya yang berjudul, Logika Keimanan, tentang fakta kunci dari teknologi AI ini. Ia menulis, “Teknologi AI tidak belajar memahami pertanyaan, tetapi belajar menjawab dengan jawaban yang secara probabilitas paling mungkin berdasarkan contoh-contoh yang diberikan dan juga timbal balik, reward, yang didapatkan sebelumnya”. Masih menurut Dr. Ataka, konsekuensi besar dari fakta ini adalah, AI tidak bisa memahami konsep dalam menghasilkan jawaban (istilah yang kerap digunakan: tidak memiliki world model).

 

Bahkan, untuk menjawab sesuatu secara konsisten dan koheren saja AI belum mampu. Padahal ia sudah diberi asupan banyak sekali maklumat-maklumat hasil penelitian dari pakar. Apalagi AI diminta untuk memproduksi ilmu, masih sangat jauh.

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan manfaat AI. Sama sekali tidak. AI memiliki banyak sekali manfaat, antara lain misalnya, menerjemahkan teks, mengolah data-data rumit, dan lain sebagainya. Namun untuk disebut sebagai sumber ilmu—dengan definisi ilmu di atas—jelas tidak. Di banyak sekali persoalan, AI juga hanya memberikan jawaban-jawaban yang bersifat umum (kalam ijmaly).

 

Kini AI bisa diakses siapapun dan setiap orang bisa bertanya apapun, lalu, dengan serba instan, jawaban tersedia begitu saja. Banyak pakar yang sudah lebih dulu sadar bahwa AI, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, tidak bisa membuat seseorang menjadi seorang ahli ilmu. AI ini, sama seperti alat pada umumnya. Ia hanya bisa menjadi sesuatu di tangan orang yang ahli. Namun, sebagaimana alat yang lain, AI bisa membuat orang bodoh semakin bodoh (dalam arti, yang semula jahl basith, menjadi jahl murakkab).

 

Tatimmah

 

Fenomena krisis ini sudah lama menjadi isu masyarakat dunia. Tom Nichols, seorang profesor ahli di bidang hubungan internasional, di tahun 2017 menulis buku The Dead of Expertise (Matinya Kepakaran). Di situ ada ungkapannya yang menarik, “… ini adalah saat-saat yang paling berbahaya. Belum pernah terjadi, ada banyak sekali orang yang dapat mengakses ke begitu banyak pengetahuan, tetapi mereka enggan untuk mempelajari apapun!”

 

Ungkapan itu dapat dipahami dalam dua pemaknaan. Salah satunya, kemudahan akses terhadap informasi itu membuat orang tidak mau sungguh-sungguh dalam belajar, namun justru hanya mencukupkan diri dengan maklumat-maklumat yang tersedia secara instan.

 

Di sinilah letak paradoksnya. Teknologi ternyata tidak membuat orang semakin tertarik untuk mempelajari sesuatu, namun justru membuat orang mudah merasa menjadi ahli sesuatu. Yang penting untuk dipahami, teknologi hanya memberikan maklumat (informasi). Sebanyak apapun seseorang mengumpulkan maklumat, itu tidak akan membuat dirinya menjadi seorang ahli ilmu!

 

Sebagai contoh, ketika ada seseorang membaca berita tentang kecelakaan pesawat terbang, berikut keterangan para ahli. Berbagai informasi hasil analisa pakar forensik telah ia jelajahi. Lantas, apakah ia bisa disebut pakar sebab dengan fasih bisa mengomentari? Jelas tidak.

 

Kita bisa merasakan gejala yang sama dalam dunia ilmu agama. Saat ini, kita mudah mengakses banyak sekali maklumat seputar agama, baik melalui AI, media sosial secara umum, atau bahkan para penceramah. Tapi kita melupakan satu hal, bahwa ilmu tidak diproduksi melalui kanal-kanal itu! Ilmu diproduksi oleh seorang ‘alim. Sehingga sumber ilmu yang sesungguhnya adalah seorang ‘alim!

 

Share this