KHURUJ FI SABILILLAH
Sebagian orang mengatakan, bahwa khuruj fi sabilillah atau keluar berdakwah di jalan Alloh SWT selama beberapa waktu, dari satu hari, tiga hari sampai empat bulan, dengan meninggalkan keluarga adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan!
Nah, apakah benar pernyataan mereka itu?
Pada dasarnya, melaksanakan safar itu adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama. Baik safar tersebut adalah untuk mencari nafkah, berdagang, berbisnis, atau safar mubah lainnya. Apalagi jika safar tersebut adalah safar yang dihukumi fardhu kifayah, sebagaimana safar untuk berdakwah. Maka, tentu hal tersebut juga diperbolehkan.
Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah disebutkan,
الموسوعة الفقهية الكويتية (21/ 349، بترقيم الشاملة آليا)
أنّ الدّعوة إلى اللّه هو على المسلمين فرض كفاية على الرّاجح
“Bahwasanya berdakwah (mengajak) kepada Allah hukumnya adalah fardhu kifayah atas setiap orang islam, menurut pendapat yang rajih.”
Dapat dipahami, safar dengan tujuan berdakwah adalah sesuatu yang diperbolehkan. Dan ketika seseorang memiliki tanggungan keluarga, yaitu anak dan istri, maka kebolehan dia dalam safar untuk berdakwah adalah dengan syarat terdapat nafkah yang cukup bagi mereka selama dia pergi.
Sebagaimana yang telah dinukilan dari al-Imam al-Baghawi bahwasanya beliau mengatakan, “Barangsiapa menginginkan safar yang lama maka boleh bagi istrinya untuk meminta nafaqah kepadanya selama ia pergi. Sebagaimana seorang suami tidak boleh pergi untuk haji sampai dia meninggalkan nafaqah bagi istrinya selama perginya itu”.
أسنى المطالب في شرح روض الطالب (3/ 431)
قَالَ الْبَغَوِيّ فِي فَتَاوِيهِ: وَإِذَا أَرَادَ سَفَرًا طَوِيلًا فَلَهَا مُطَالَبَتُهُ بِنَفَقَتِهَا لِمُدَّةِ ذَهَابِهِ وَرُجُوعِهِ كَمَا لَا يَخْرُجُ إلَى الْحَجِّ حَتَّى يَتْرُكَ لَهَا هَذَا الْقَدْرَ، وَظَاهِرٌ أَنَّهُ لَوْ هَيَّأَ ذَلِكَ إلَى نَائِبِهِ لِيَدْفَعَهُ إلَيْهَا يَوْمًا بِيَوْمٍ كَفَى وَلَا يُكَلَّفُ إعْطَاءَهُ لَهَا دَفْعَةً وَاحِدَةً
Wal hasil, safar untuk dakwah dengan meninggalkan keluarga adalah sesuatu yang dilegalkan oleh syari’at. Dengan catatan, suami telah meninggalkan nafaqah yang cukup bagi keluarganya selama dia pergi. Dan hal ini sudah dikerjakan oleh para ahbab jama’ah tabligh. Mereka safar dengan meninggalkan nafaqah yang cukup bagi keluarganya.
Wallahu a’lam.


