0 items in your shopping cart

No products in the cart.

Urgensi Ilmu Kalam, Mengokohkan Aqidah Dengan Argumentasi Aqliyah

Mas Hasan Biki Muhammad

Di era globalisasi informasi seperti saat ini, mempelajari ilmu Kalam (ilmu Aqidah) semestinya sudah menjadi kewajiban yang diprioritaskan. Membentengi keimanan dengan argumentasi aqliyah adalah keniscayaan yang tidak bisa disepelekan.

Mudah setiap insan untuk mengakses berbagai informasi dari segala macam aliran adalah salah satu biangnya. Memang, kemudahan ini juga membawa banyak manfaat, namun kemudharatan sepertinya lebih nampak nyata. Apalagi dalam persoalan agama, semua orang bebas beropini dan berbicara semaunya. Dan celakanya, pendengar sebagian manusia tak berkompeten juga tidak sedikit jumlahnya.

Pada gilirannya, berjamurnya berbagai macam penyelewengan dan kesesatan agama pun semakin hari kian tak terbendung adanya. Akhirnya, jika tidak dibekali dengan ilmu aqidah yang mencukupi, maka kebingungan dan kerancuan aqidah hampir sudah pasti menjangkitinya.

Islam dibangun atas dasar keyakinan dan argumentasi, bukan sekedar taqlid buta

Di antara jawaban kaum kuffar ketika diajak beriman oleh Baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam adalah merasa cukup dengan ajaran nenek moyang mereka. Maka al-Qur’an al-Karim pun mencela sikap dan perbuatan mereka.

Dalam al-Maidah ayat 104, Alloh ta’ala berfirman:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Syaikh Romadhon al-Buthi rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa aqidah Islam adalah dibangun atas dasar keyakinan dan argumentasi aqliyah ilmiyah.

Dari sini, mengokohkan aqidah dan iman dengan argumentasi rasional merupakan perkara yang sangat penting.

Ilmu Kalam ala Nabiyulloh Ibrohim alaihissalam

Dalam al-Qur’an al-Karim sendiri, banyak ayat-ayat yang menjelaskan keimanan dan aqidah yang berlandaskan argumentasi aqliyah.

Di antaranya adalah kisah dialog Nabiyulloh Ibrohim alaihissalam dengan kaumnya yang tercantum dalam surat al-An’am ayat 76-79.

Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrohim alaihissalam memaparkan tema ketuhanan.

Imam Rozi rahimahullah dalam Mafatihul-Ghoibnya berkata menafsiri ayat di atas,

“Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa;

  1. Agama (aqidah) Islam wajib di bangun atas argumentasi atau dalil, bukan sekedar taqlid (ikut-ikutan)
  2. Tuhan (Alloh ta’ala) tidaklah berupa jism (benda), sebab jika Alloh itu jism, tentu Alloh adalah sesuatu yang آفل (terbenam/tenggelam) selamanya, dan ini mustahil sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat tersebut.
  3. Tuhan (Alloh ta’ala) tidak ditempati sifat-sifat yang hadits (baru adanya, seperti suara dan semisalnya), sebab jika demikian, berarti Alloh itu Dzat yang berubah, dan hal ini semakna juga dengan آفل .
  4. Ayat ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan keyakinan yang mantap dan kokoh (makrifatulloh) maka perlu nadzor (nalar yang sohih) serta istidlal dari keadaan makhluq-makhluq-Nya.

Ilmu Kalam ala Baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam

Dalam banyak hadist, Baginda Nabi juga kerap menjawab pertanyaan seputar aqidah menggunakan dalil aqli.

Di antara yang cukup masyhur adalah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam Sohih-nya;

Bahwa pernah salah satu a’robi (orang pedalaman Arab) bertanya kepada Baginda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam (selepas dijelaskan bahwa tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, hakikatnya yang menurunkan penyakit adalah Alloh ta’ala) “Ya Rosulalloh, bagaimana dengan unta kudisan yang mendatangi unta-unta yang sehat kemudian unta-unta tersebut menjadi ikut sakit (tertular penyakit)?”

Mendengar pertanyaan ini, Baginda Nabi shollallohu alaihi wasallam menjawab, “(Jika unta-unta tersebut tertular dari unta pertama) Lantas siapa yang menulari (memberi penyakit) unta yang pertama?! ”

Si a’robi pun terdiam dan paham bahwa hakikat yang menurunkan penyakit adalah Alloh ta’ala.

Ikhtitam

Selain untuk memperkokoh keyakinan dan aqidah diri sendiri, mendalami ilmu Kalam juga berguna sebagai benteng aqidah umat Islam.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa musuh-musuh Islam sedari dulu tidak pernah rela dengan kemajuan Islam. Berbagai macam cara mereka lancarkan demi merusak umat Islam. Dan tentu saja aqidah umat yang menjadi sasaran utama mereka.

Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai calon-calon pejuang Islam dan pewaris ilmu kenabian untuk menjadi garda terdepan dalam membentengi aqidah umat.

Apalagi kalau bukan dengan mendalami ilmu Kalam dengan sungguh-sungguh!

Ingat, seorang muslim memiliki tiga kekuatan. Kekuatan dalam akalnya, kekuatan dalam jasadnya, dan kekuatan dalam amalnya. Maka tiga kekuatan ini haruslah dirawat dengan baik.

Kekuatan akal kita maksimalkan dengan mendalam ilmu aqliyah yang mengokohkan aqidah kita, apalagi kalau bukan ilmu Kalam!

Share this