MENENGOK KEBERKAHAN NEGERI YAMAN
Mas Hasan Biqi Muhammad
Mencintai sesuatu yang berkaitan dengan agama adalah sesuatu yang juga perlu ditanamkan dan dijaga. Termasuk mencintai dan menghormati negeri yang banyak berjasa kepada kita, serta leluhur kita juga perkara yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Maka bila kita melihat secara seksama, musuh-musuh Islam selalu “membidik” hal-hal yang bernuansa Arab dan semisalnya.
Iya, sebab, jika mereka “langsung” menyerang Islam, maka pasti banyak yang murka dan membela.
Namun, tidak jika yang mereka hina adalah sesuatu di luar syari’ah Islam -kendati sangat berhubungan-, maka tidak banyak yang merasa dihina.
Akhirnya, tidak sedikit umat Islam yang hanya diam seribu bahasa. Bahkan, alih-alih murka, banyak juga saudara kita yang justru turut membela musuhnya.
Ketika Baginda Nabi dihina, banyak yang bergerak murka, namun ketika bangsa Nabi dihina, tidak sedikit yang bungkam, bahkan kadang justru diam-diam menyetujuinya.
Dengan dalih nasionalisme, kehormatan pribumi, atau jargon-jargon lainnya, mereka bahkan berani merendahkan bangsa, juga keluarga sang Nabi tercinta.
Dan kini, selepas bangsa Arab mereka “ganyang” habis-habisan, giliran negeri Yaman yang mereka bidik secara serampangan.
Maka di edisi kali ini, kami ingin menulis “cuplikan” betapa berkahnya negeri satu ini. Negeri yang banyak melahirkan para Ulama, para da’i, dan para wali.
Keberkahan Negeri Yaman
Bagi pemerhati dan pecinta Hadits Nabawi, keberkahan serta “karomah” negeri Yaman adalah sesuatu yang cetha wela-wela, sangat jelas dengan sejelas-jelasnya.
Banyak hadits yang menjelaskan tentang ini. Sangat banyak sekali.
Di antara yang populer adalah petikan do’a:
اللهم بارك لنا في شامنا و في يمننا
“Ya Alloh berkahilah negeri Syam dan Yaman”
Dalam Shohih Bukhori sendiri, petikan hadits ini disebutkan sebanyak dua kali, yaitu dalam kitab Istisqo’ dan kitab Fitan.
Yang pertama berbentuk Mauquf dari Sayyidina Ibnu Umar (Mauquf fi Hukmil Marfu’) dan yang kedua dengan menyebut Baginda Nabi (Marfu’).
Dalam hadits Bukhori yang lain, Baginda Rosul shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa ahlu Yaman adalah orang-orang yang lembut hatinya dan lunak kalbunya.
(Paling mudah menerima iman, kebaikan, dan bagus akhlaknya, demikian kata Imam Nawawi dalam syarah Muslim-nya)
Belum lagi, banyak tokoh-tokoh top dari negeri Yaman yang berjasa besar dalam sejarah Islam, bahkan dari era Shohabat Nabi.
Nama-Nama Shohabat Nabi dari Yaman
Sebut saja nama-nama Shohabat agung sang Nabi Agung shallallahu alaihi wa sallam seperti:
- Sayyidina Abu Hurairah, perowi hadits terbanyak, 5000 lebih hadits yang beliau riwayatkan kepada umat ini.
- Sayyidina Zaid bin Haritsah, salah satu shahabat agung dan “anak angkat” Baginda Nabi yang sangat beliau cintai.
- Sayyidina Usamah bin Zaid bin Haritsah. Shohabat muda yang juga sangat dicintai Baginda Nabi.
- Sayyidina Abu Musa al-Asy’ari, Shahabat besar yang merupakan leluhur Imam Ahlussunnah wal Jama’ah; Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
- Sayyidina Ammar bin Yasir. Beliau beserta keluarganya termasuk Assabiqunal Awwalun dalam Islam dan banyak mengalami penderitaan di awal mula Islam.
- Sayyidina Jarir bin Abdillah. Salah satu shohabat yang dijuluki Baginda Nabi sebagai “Yusuf-nya” umat ini, saking tampan dan rupawannya wajah beliau..
- Sayyidina Miqdad bin Amr. Salah satu dari Shohabat yang berani menampakkan Islam-nya di era permulaan Islam.
- Sayyidina Alla bin al-Hadhromi, salah satu Shohabat yang terkenal dengan do’a dan “khoriqul adat”-nya. Beliau bersama pasukannya pernah menyebrangi lautan dengan menunggangi kuda tanpa perahu.
Ulama dan Kutubul Fiqh
Soal satu ini jangan ditanya. Negeri Yaman adalah salah satu basis fiqih terutama madzhab Syafi’i.
Ribuan tokoh dan kitab-kitab babon fiqih madzhab Syafi’i ditulis oleh para Ulama Yaman.
Bahkan, tidak sedikit yang kemudian menjadi kurikulum wajib di berbagai negeri Islam, termasuk Indonesia.
Lebih detailnya silahkan anda baca di kajian tiga.
Da’i dari Negeri Yaman
Tidak hanya itu, yang mem-Futuh dan membawa Islam ke negeri tercinta ini pun juga kebanyakan berasal dari negeri Yaman, siapa lagi jika bukan Wali Songo.
Iya, Wali Songo merupakan para da’i agung yang berasal dari negeri Yaman dan sukses meng-Islamkan hampir seluruh Nusantara.
Tidak sampai di sini, para Habaib dan Masyayikh dari Yaman sampai hari ini juga memiliki banyak majelis dakwah -termasuk Pesantren- yang tersebar di seantero Nusantara.
Aurod dan Dzikir
Belum lagi fakta bahwa tidak sedikit kitab-kitab keilmuan, wirid-wirid, rotib, hizib-hizib yang juga dibawa oleh Masyayikh dan para Habaib “dari” Yaman.
Sebut saja Rotib al-Haddad, Rotib al-Athhos, dan semisalnya.
Kopi pun juga dari Yaman
Iya, tidak hanya dakwah, ilmu dan wirid mereka yang barokah, bahkan minuman pun juga tak kalah barokahnya.
Sebagaimana yang ditulis oleh banyak sejarawan bahwa minuman kopi berasal dari negeri Yaman.
Minuman yang kemudian menyebar dan banyak membawa manfaat ini pada mulanya ditemukan di negeri Yaman.
Bahkan, minuman Yaman pun barokah!
Perjuangan untuk Bangsa Indonesia dan Kontribusi Mereka
1825 Perang Jawa ente dan keluarga ente ada di mana?
Narasi ini dibuat seolah tidak ada kontribusi keturunan Yaman dalam perjuangan bangsa Indonesia. Tentu saja narasi semacam ini narasi sesat dan ahistoris.
Sebab, para Habaib maupun non Habaib dari Yaman yang turut memperjuangkan bangsa Indonesia dari kolonial tidak terhitung jumlahnya, saking banyaknya.
Sebut saja nama Raden Mas Alwi al-Haddad, Mufti Keraton yang menghasut Sunan Pakubuwono II untuk melawan Kompeni pada tahun 1743 M.
Sayyid Hasan bin Yahya atau RT Sumodiningrat yang menjadi utusan khusus Hamengkubuwono II tentang rencana perlawanan terhadap Inggris pada tahun 1810 di daerah Wedi-Klaten.
Sayyid Ibrohim bin Hasan bin Alwi Baabud (atau RMH Madiokusumo yang mendukung Pangeran Diponegoro melawan Belanda dalam perang Jawa).
Sayyid Ali Akbar bin Sulaiman Basyaiban yang menjadi “buron” kolonial Belanda dan akhirnya wafat di pengasingan.
Dalam perjuangan detik-detik kemerdekaan Indonesia juga tidak sedikit para Habaib maupun Masyayikh yang turut andil berkontribusi, sebut saja seperti Habib Ali Kwitang yang “menentukan” tanggal yang tepat untuk membacakan proklamasi, Habib Salim bin Jindan yang sampai ditangkap oleh kolonial Jepang, Habib Husain Muthohhar pejuang dan pencipta lagu Hymne Syukur dan mars Hari Merdeka. Lagu ciptaannya, Dirgahayu Indonesiaku menjadi lagu resmi HUT ke-50 Kemerdekaan RI.
Kemudian ada Syarif Abdul Hamid II yang merupakan perancang lambang Garuda Indonesia.
Belum lagi perjuangan yang berbentuk pergerakan dan lembaga pendidikan. Seperti Jamiat al-Khoir, al-Khoirot, sampai Partai Arab Indonesia yang bergerak di bidang politik dan berkontribusi besar dalam kemerdekaan Republik Indonesia.
Ikhtitam
Maka dari sini, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mencintai dan menghormati ahlu Yaman. Jasa mereka begitu banyak kepada kita juga leluhur kita semua.
Dan jangan sampai, hanya karena ada satu-dua “imigran” Yaman -meminjam istilah minhum- yang tak berakhlaq membuat kita membenci dan mengolok-olok negeri Yaman.
Ingat, jika anda punya masalah dengan seseorang, seyogyanya anda tidak membawa-bawa nama keluarga, leluhur, apalagi satu negeri, tentu itu tindakan bodoh nan konyol.
Semoga kita semua mendapatkan keberkahan para Auliya dan Habaib Yamaniyyin juga para Auliya di seluruh alam sepanjang zaman. Amiin.


