CELOTEH DA’I KONDANG
Mas Hasan Biqi Muhammad
Datangnya berbagai macam fitnah di akhir zaman merupakan perkara yang telah wanti-wanti oleh Baginda Nabi, agar umatnya selalu waspada dan berhati-hati. Fitnah yang tidak hanya datang sekali dua kali, namun menghampiri bertubi-tubi tiada henti. Gelombang kesesatan yang membingungkan akan tiba laksana potongan malam yang gelap gulita menimpa umat ini. Dan akan ditutup dengan fitnah terbesar yang merata di muka bumi. Siapa lagi jika bukan Al-Masih Dajjal, si tuhan palsu di akhir zaman nanti.
Namun fitnah-fitnah ini akan bisa dilalui, bila kita selalu mengikuti arahan sang Baginda Nabi. Di antaranya yaitu dengan selalu meniti jalan para Ulama yang hakiki, yang tidak berucap dan bertindak kecuali berdasarkan Al-Qur’an, al-Hadits dan Ijma’ para pewaris Nabi. Sebab, Allah Ta’ala telah menjamin untuk umat ini, bahwa mereka tidak akan tersesat secara kolektif dan jama’i. Selama kita masih berpegang teguh pada mayoritas Ulama rabbani, insya Allah kita akan selamat duniawi sampai ukhrawi.
Fenomena Penceramah Ngawur
Akhir-akhir ini, penceramah atau da’i panggung semakin marak digemari umat. Apalagi penceramah yang pandai melucu dan melawak, perlu bertahun-tahun untuk bisa mengundang mereka. Saking larisnya.
Sebenarnya bukan masalah larisnya, bahkan jika laris kemudian membuat syi’ar Islam semakin menyala, itu tentu sangat baik dan perlu diapresiasi.
Bukan pula masalah melawaknya, sebab membuat orang tertawa, jika memang isinya benar dan untuk menggembirakan pendengar, ini juga masih wajar. Apalagi jika materi bobot, namun melucu hanya dijadikan selingan agar tidak membosankan, tentu semua juga setuju.
Masalahnya sekarang adalah kian banyak penceramah yang tidak kredibel, hanya mengandalkan pandai bicara, melucu, namun tidak berisi. Tidak ada materi ilmu agama yang mereka sampaikan. Hanya cerita ngalor ngidul, yang penting jama’ah senang dan tertawa.
Bahkan yang lebih meresahkan lagi adalah tidak sedikit penceramah kondang yang justru membuat umat jauh dari syari’at. Menjadikan syari’at dan para pemikulnya -yaitu para Ulama- sebagai bahan lelucon.
Lengkap sudah; ceramah yang tidak memiliki bobot ilmiah, ditambah dengan ajakan untuk menjauhi Ulama yang shalih. Umat pun tidak mendapatkan apa-apa selain tertawa, dan bahkan menertawakan agama.
Bukan Hal Baru
Dan ternyata, kasus dan fenomena ini bukanlah hal yang baru. Ratusan tahun yang lalu, para Ulama agung sudah mengingatkan dan meresahkan persoalan ini.
Imam Abu Nuaim dalam Hilyah-nya (04/193) meriwayatkan bahwa Imam Abu Qilabah al-Jarmi, seorang Tabi’in agung berkata:
ما أمات العلم إلا القصاص؛ يجالس الرجلُ الرجلَ سنة -أي من القصاص- فلا يتعلق منه شيء، ويجلس إلى العالم؛ فلا يقوم حتى يتعلق منه شيء
“Tidaklah membunuh ilmu kecuali para tukang cerita (penceramah), seseorang duduk bersama mereka selama satu tahun, namun tidak ada (ilmu ) yang masuk ke otak sedikitpun. Akan tetapi ketika seseorang tersebut duduk di majelis ilmu (bersama para Ulama), maka ia tidak berdiri sampai ia mendapatkan ilmu.”
Dari kata-kata ini, tersirat betapa risaunya beliau akan hadirnya para penceramah yang hanya banyak bercerita, daripada mengajarkan ilmu di majelisnya. Padahal ini zaman Tabi’in, salah satu zaman emas umat Islam, di mana para penceramahnya tentu juga orang-orang pilihan. Dan insya Allah cerita-cerita yang mereka sampaikan di atas mimbar adalah cerita-cerita kaum yang benar-benar shalih.
Itupun beliau sudah risau dan resah. Tidak bisa dibayangkan jika beliau mengetahui dan merasakan fenomena para penceramah hari ini.
Di mana yang disampaikan oleh para penceramah adalah kisah-kisah tidak jelas. Bahkan, ada beberapa penceramah yang suka menceritakan kehebatan leluhurnya yang masih menyembah bebatuan, sembari merendahkan bangsa lain, terutama bangsa Arab. Nauzubillah min dzalik.
Penceramah semacam ini, bukan hanya membodohi umat, tapi lebih dari itu, mereka telah menjerumuskan umat dalam kesesatan.
Bisa Membedakan Mana Penceramah yang Alim dan Tidak Alim
Bila kita cermati, para penceramah yang banyak membodohi umat, bahkan menyesatkan umat, kebanyakan adalah orang-orang yang memang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni. Kebanyakan mereka hanya mengandalkan pandai bicara, public speaking yang baik, juga tim media yang profesional.
Maka dari sini, memang ada tiga hal yang problematik; yang pertama adalah penceramah itu sendiri -yang tidak tahu diri-, yang kedua adalah para jamaahnya -yang salah pilih atau memang hanya mencari hiburan semata-, dan yang terakhir adalah panitia penyelenggara -yang mengundang penceramah bodoh tersebut -.
Sadar Diri
Untuk problem yang pertama, maka hendaknya semua orang tahu kapasitas dirinya masing-masing. Jika memang belum waktunya tampil di depan umat, maka seyogyanya untuk tidak memberanikan dirinya berbicara di atas mimbar.
Ada satu ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali yang berbunyi:
هلك امرؤ لم يعرف قدره
Celakalah seseorang yang tidak mengetahui kapasitas dirinya
Apalagi dalam hal agama dan mengatasnamakan agama, maka bukan hanya mencelakai dia, tapi juga berpotensi mencelakai orang lain; sesat menyesatkan.
Dan inilah salah satu fenomena yang diwanti-wanti oleh Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam bahwa di akhir zaman, ketika Ulama semakin langka, maka umat menjadikan orang bodoh sebagai pimpinan dan panutan, akhirnya sesat menyesatkan.
اتخذ الناس رءوسا جهالا ، فسئلوا فأفتوا بغير علم ، فضلوا وأضلوا
Sebenarnya, jika para penceramah yang tidak alim ini tahu diri, sehingga hanya membicarakan sesuatu yang jelas dan mudah dalam agama (seperti pentingnya shalat, puasa, zakat, dan sejenisnya), itu tidak terlalu masalah. Namun yang menjadi masalah besar, adalah kebanyakan dari mereka sudah melampaui batas. Berani bicara sesuatu yang hanya boleh dibahas oleh para Ulama yang ahlinya, juga berani ikutan mengeluarkan fatwa, bahkan yang baru-baru ini terjadi, ada beberapa penceramah bodoh yang terang-terangan dan sok-sokan “membantah” fatwa seorang alim allamah di depan ribuan jamaahnya. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un.
Mencari Guru Alim Rabbani
Yang kedua, bagi jama’ah majelis, atau siapapun yang ingin mendapatkan ilmu nafi’, hendaknya ia berupaya sekuat tenaga untuk mencari guru yang benar-benar berilmu, bertaqwa, dan memiliki sanad yang muttasil kepada Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam.
Dan jika seseorang bersungguh-sungguh dalam meminta kepada Allah, juga berikhtiar dengan mencari dan bertanya kepada orang-orang yang shalih (sebab orang yang shalih pasti berkumpul dan saling mengenal dengan orang shalih lainnya), pasti Allah akan pertemukan kita dengan orang alim yang shalih ini.
Hal ini sebagaimana yang diamalkan oleh seorang Tabiin, Imam Khaitsamah bin Abi Sabrah yang berdoa kepada Allah agar dimudahkan mendapatkan teman duduk (guru) yang shalih, dan tidak lama selepas berdo’a, beliau dipertemukan dengan Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu anhu (Sunan Tirmidzi, hadits nomor 3811).
Khiyanat Kepada Umat dan Baginda Nabi
Dan yang ketiga, untuk panitia atau orang yang mengundang penceramah, maka hendaknya berhati-hati dalam memilih. Jangan sampai hanya mengedepankan banyaknya followers, atau pandai melucu saja, tanpa mempertimbangkan ilmu dan taqwa calon pemateri.
Sebab, jika ada yang disampaikan oleh si penceramah, sesuatu yang melanggar syari’at, maka panitia tentu juga mendapatkan jariah dosanya. Tidak sampai di sini, panitia juga akan mendapatkan dosa “berkhianat” kepada umat, sebab ia tidak amanah dalam memilih pemateri. Bahkan berkhianat kepada Baginda Nabi, sebab pemilik sah mimbar dalam Islam adalah Baginda Nabi. Maka siapa saja yang mengangkat seseorang yang tidak termasuk pewaris Nabi, sama saja dengan “menggashab” atau merampas maqam Baginda Nabi. Nauzubillah min dzalik.
Maka sebagaimana panitia pengundang, wajib berhati-hati, lebih selektif, serta bisa membedakan mana tokoh yang benar-benar berilmu, dan mana tokoh yang hanya pandai beretorika belaka.
Ikhtitam
Kami akan menutup tulisan ringkas ini dengan beberapa hadits Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam:
لا يقصُّ على الناسِ إلا أميرٌ أوْ مأمورٌ أوْ مُراءٍ
Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berceramah kecuali pimpinan (pejabat), atau orang yang diperintah (diberi izin untuk berceramah), atau orang yang riya” (Misykah al-Mashabih no. 241).
Maksudnya, jika bukan pejabat (berceramah untuk kepentingan rakyat), bukan pula Ulama, maka kemungkinan seseorang memaksa naik mimbar adalah hanya karena riya’ (tujuan duniawi), yang tentu ada urusannya di akhirat kelak.
Dan andaikan terpaksa berceramah, lantas anda tidak termasuk ahli ilm, maka hendaknya berbicara sesuatu kapasitas anda, tidak perlu bergaya ulama, atau berfatwa, apalagi menyanggah fatwa para Ulama yang ahlinya.


