ANTARA PAUS DAN PAUS-TADZ
Muhammad Fauzi
KETIKA TOKOH AGAMA MENGKULTUSKAN DIRI
Sejarah mengajarkan banyak hal — jika kita mau belajar. Salah satu pelajaran besar datang dari sejarah Gereja Katolik Internasional; bagaimana tokoh-tokoh agama yang menganggap dirinya tidak bisa salah, suci, dan tak boleh dikritik, justru membawa agama ke dalam krisis moral dan spiritual.
Fenomena serupa kini mulai terlihat di sebagian kalangan Islam, khususnya di tengah oknum para tokoh agama, seperti ustadz, kyai, gus, bahkan Habib tertentu, yang bukan hanya mengultuskan diri, tapi juga menuntut umat agar memperlakukan mereka layaknya manusia keramat. Ini bukan sekadar penyimpangan, tapi potensi bencana.
Ketika Paus Tak Bisa Salah
Dalam doktrin Katolik Roma, Paus dianggap infallible—tak bisa salah—ketika berbicara secara resmi tentang apapun; iman, moral, bahkan politik. Konsep ini memberi kekuasaan luar biasa kepada satu orang atas miliaran umat.
Dalam praktiknya, banyak Paus justru menyalahgunakan posisi ini. Korupsi, skandal moral, hingga penjualan indulgensi – surat pengampunan dosa yang bisa dibeli dengan uang – kerap mewarnai istana Vatikan. Agama menjadi komoditas, dan kekuasaan menjadi alat legitimasi dosa. Kritik terhadap mereka dianggap dosa besar.
Akibatnya fatal, kepercayaan publik runtuh. Akhirnya pada Abad ke-16, seorang biarawan Jerman bernama Martin Luther memimpin gerakan Reformasi bersama publik. Mereka mengutuk praktik kotor & korup gereja, dan mengoyak tubuh Kekristenan hingga kini terbelah menjadi Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Semua bermula dari arogansi religius yang merasa dirinya tak tersentuh.
Oknum Para Paus-Tadz
Sejarah gelap Paus harusnya menjadi contoh semua tokoh agama, termasuk Islam. Ironisnya, terkadang kalah oleh kepentingan; popularitas, takut kehilangan jamaah, pemasukan komoditi dan validasi.
Sebagian oknum tokoh agama – termasuk Islam, terkena virus ini. Mereka memposisikan dirinya seolah suci dan tak boleh disentuh kritik. Ia mengklaim keberkahan bagi pengikutnya, dan siapapun yang mengkritik, tidak ikut, dan menolak, diancam tegas akan “kualat”. Lebih parahnya, ia menceritakan bagaimana kisah-kisah ‘horor spiritual’ agar orang takut menyentuh aibnya dan berhusnudzon akan kesalahannya. Akhirnya, tokoh-tokoh agama yang seharusnya berkhidmat membimbing umat, malah menjadi figur keramat bak para Paus sebagai sabda Tuhan yang tak bisa terbantahkan.
Banyak masyarakat yang geram melihat fenomena seperti ini; pembodohan umat, doktrinasi keramat ustadz, tidak mencintainya dianggap tidak cinta Ulama, akan kualat, bahkan gemar memberikan cerita-cerita khurafat agar klaim kekeramatannya tetap terjaga.
Ini jelas penyimpangan. Dalam Islam, ajaran ini jelas sangat tercela. Sayyidina Umar bin Khattab—khalifah besar—pernah dikoreksi oleh seorang perempuan tua di tengah keramaian, dan ia menerima dengan lapang dada. Lalu siapa mereka yang marah ketika dikritik, atau mengancam umat dengan musibah spiritual bahkan hanya karena berbeda pendapat?
Pewaris Ilmu, Bukan Kemaksuman
Dalam tradisi Islam, tidak dikenal konsep infallibility (kemaksuman) selain pada para Nabi. Ulama memang pewaris para Nabi (waratsatul anbiya’), tetapi warisan yang mereka emban adalah ilmu, bukan kemaksuman. Karena itu, wajar jika seorang ulama bisa salah, keliru, atau bahkan tergelincir. Dalam sejarah Islam, kita mengenal banyak perdebatan ilmiah antar ulama besar, seperti antara Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya sendiri, atau antara Imam Malik dan Imam Syafi‘i. Perbedaan pendapat adalah hal biasa.
Yang lebih penting adalah akhlak dalam berbeda. Islam mengajarkan adab-adab dalam mengkritik, serta menghindari cercaan pribadi. Namun, membungkam kritik dengan dalih menghina ulama adalah praktik yang justru menyimpang dari tradisi ilmiah Islam.
Singkirkan Ego, Junjung Kebenaran
Dalam tradisi Islam yang sehat, saling mengkritik adalah hal biasa dan diperlukan. Kritik bukan tanda kurang ajar, tapi justru wujud cinta terhadap ilmu dan tanggung jawab terhadap umat. Ulama tidak maksum. Mereka bisa salah. Dan jika salah, maka harus dikoreksi, ini amanah ilmiah, bukan malah dikultuskan atau dilindungi dengan cerita kualat.
Sebaliknya, ulama sejati adalah mereka yang siap dikoreksi, siap dikritik. Mereka tidak merasa tersinggung ketika disanggah, karena yang mereka bela bukan ego pribadi, tapi kebenaran. Mereka tidak menyuruh murid-muridnya “melawan” pengkritik, karena mereka tahu agama ini dibangun di atas Ilmu Pengetahuan, bukan doktrin semata.
Kembali pada Ilmu, Bukan Kultus
Sejarah Gereja Katolik mengajarkan bahwa ketika agama dipimpin oleh tokoh yang tak bisa disentuh kritik, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Umat akan merasa bahwa agama tidak bisa memenuhi kebutuhan kritis mereka. Agama sempit, penuh dengan doktrin dan takhayul. Perlahan orang akan menjauh dari Agama, kemudian meninggalkannya.
Umat Islam tak boleh mengulangi kesalahan itu. Mari kita didik umat agar mencintai ilmu, bukan individu. Islam mengajarkan prinsip al-haqq yu‘raf bil-dalil, la bi al-rijal — kebenaran itu diukur dengan dalil, bukan dengan siapa yang mengucapkannya. Dan yang terpenting: membangun budaya kritik yang beradab agar agama tidak jatuh ke tangan para pencari pengaruh yang berlindung di balik jubah. Namun tetap, dalam mengkritik, argumentasi adalah intinya. Selain adab dan tatakrama, kritik harus dengan argumen, bukan komentar belaka.
Islam adalah agama yang agung, dan tidak butuh tokoh-tokoh yang memaksa umat untuk takut padanya agar merasa berwibawa. Biarlah wibawa lahir dari akhlak, bukan dari ancaman kualat. Wallaahu a’lam.


