BAHAYA SALAFI WAHABI
Hanif Taj Al-Bustami
Tidak asing lagi bagi kita, nama salafi ataupun wahabi. Kelompok yang terkenal sebagai kelompok radikal dikarenakan seringkali membid’ah-bid’ah kan dan mengkafir-kafir kan kelompok lain yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.
Namun tidak sedikit kaum muda mudi yang baru hijrah, justru mengikuti pemahaman salafi wahabi yang radikal. Sebab berbagai macam faktor yang banyak, seperti mengikuti ustadz-ustadz salafi muda yang memiliki suara bagus, tertarik dengan pola pikir salafi yang baru dan kritis, tertipu dengan embel-embel “kembali pada al-qur’an dan hadits” ataupun embel-embel “ahlu sunnah wal jama’ah”, melihat orang-orang salafi di saudi sedangkan dia memiliki anggapan bahwa saudi adalah panutan. Dengan berbagai macam sebab, kalangan muda mudi maupun kalangan lainnya banyak yang tertarik dengan pemikiran salafi wahabi.
Ada juga yang tidak mengaku sebagai salafi wahabi namun mengikuti pola pikir mereka. Ada juga yang tidak memilih kelompok manapun dan memilih zona aman, “Yang baik saya ambil dan yang tidak baik tidak saya ambil, siapapun orangnya.”. Dan tanpa mereka sadari, mereka menilai baik dan buruk berdasarkan keyakinan mereka sendiri tanpa didasari dengan ilmu yang cukup, dan terkadang justru terjerumus pada kesesatan yang lebih dalam.
Yang jelas apapun namanya, mereka memiliki kesamaan, yaitu ingin memahami agama tanpa mau mengikuti ulama-ulama ahlinya dan mengambil kesimpulan agama berdasarkan pemikiran mereka sendiri dengan ilmu yang rendah. Memiliki pemahaman seperti ini sangatlah berbahaya, sebab untuk memahami agama ini kita harus belajar dari para ahlinya disertai adab dan cinta kepada guru-guru dan pembawa syari’at, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak terpeleset kepada kesesatan.
Berikut ini bahaya-bahaya yang dapat terjadi sebab memiliki pemikiran salafi wahabi ataupun pemikiran-pemikiran yang sama dengan mereka.
BAHAYA-BAHAYA MEMILIKI PEMIKIRAN SALAFI WAHABI
- Kesalahan Akidah
Kesalahan yang paling fatal, ialah salah dalam ber-akidah. Karena taruhannya adalah kemusyrikan. Bila kita salah dalam memahami rukun iman maka iman kita tidak sah.
Seiring berkembangnya Islam, masuklah berbagai budaya, masuk berbagai opini, termasuk filsafat-filsafat Yunani dan pemahaman-pemahan agama lain yang dapat menyesatkan akidah kita.
Maka dalam akidah pun diperlukan pedoman, agar kita mengetahui akidah yang murni. Dengan mengikuti ulama-ulama ahlinya, kita dapat lebih mudah mendapatkannya.
Ahlu sunnah memiliki kaidah yang mudah untuk memahami rukun iman yang enam. Madzhab Asy’ari, ialah madzhab-nya ahlu sunnah dalam ber-akidah. Dengan mengikuti madzhab yang sudah jelas maka insya Alloh kita jauh dari kata sesat dalam ber-akidah.
Madzhab Asy’ari sendiri sebenarnya tidaklah asing bagi kita, seperti 20 sifat wajib bagi Alloh, 20 sifat mustahil bagi Alloh, sifat jaiz bagi Alloh, 4 sifat wajib bagi Rosul, 4 sifat mustahil bagi Rosul, sifat jaiz bagi Rosul. Dengan mempelajari ini, kita memiliki pedoman dalam ber-akidah.
Sekilas penjelasan, bahwa sifat-sifat Alloh sangatlah banyak, namun 20 sifat ini dapat memudahkan kita untuk memahami rukun iman yang benar, seperti Wujud, Qidam, Baqa, dan seterusnya. Karena di 20 sifat ini, banyak orang keliru memahaminya disebabkan filsafat-filsafat yang masuk. Adapun sifat-sifat Alloh lainnya seperti Rahman Rahim, sudah jelas bagi kita semua, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan manapun.
Orang-orang salafi wahabi sendiri memiliki akidah uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wasifat. Dalam akidah uluhiyah dan rububiyah mereka bermaksud membedakan antara meyakini tuhan dan menghamba pada tuhan, bagi mereka semua manusia pasti memiliki tauhid uluhiyah (meyakini tuhan), namun belum tentu mereka memliki tauhid rububiyah (menghamba pada tuhan), sehingga dalam keyakinan mereka, orang yang telah bersyahadat belum tentu dia Islam, sebelum ia memiliki tauhid rububiyah maka tidak ada bedanya ia dengan nasrani yahudi. Ini jelaslah akidah yang salah. Maksud akidah ini bertujuan untuk mengkafir-kafirkan dan membunuh para ahli suffi, dengan tuduhan penyembah kuburan. Adapun akidah asma’ wasifat, maksudnya ialah membahas nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahinya ada apanya tanpa menerima pentakwilan. Ini juga akidah yang salah karena berujung tajsim (menyerupakan tuhan dengan makhluk).
- Kesalahan menentukan sunnah dan bid’ah
Tahlilan, maulid nabi, yasinan, dan sebagainya dianggap bid’ah oleh kaum salafi wahabi. Padahal isi dari semua acara ini adalah membaca syahadat, membaca sholawat, membaca al-qur’an, membaca dizikir dan do’a-do’a. Namun mereka menuduhnya sebagai bid’ah dengan alasan dizaman nabi tidak ada acara seperti itu. Ini jelas salah, nama dan bentuk sebuah acara tidaklah harus sama persis dengan apa yang dicontohkan dizaman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selama acara itu mengikuti dalil umum yang ada, sesuai dengan kebaikan yang dibawa nabi, dan tidak ada pelanggaran syariat didalamnya maka tidak ada masalah apapun.
Ini dikarenakan mereka memiliki dasar yang salah, sekedar mengambil kesimpulan “Semua yang baru itu bid’ah dan salah” dari hadits Nabi “كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار”. Padahal untuk memahami sebuah hadits nabi perlu kita pelajari maksudnya, kita cari dalil-dalil lainnya, mendengar penjelasan dari ahlinya, melihat sikap para sahabat yang mendengar langsung dari sumbernya. Dengan begitu kita memiliki pemahaman yang benar terhadap sabda-sabdanya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, memiliki pemahaman yang benar dalam menentukan sunnah dan bid’ah.
Setidaknya ada 71 hadits yang menerangkan bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima dan meridloi perkara baru yang dikerjakan oleh para sahabat di masa hidup beliau yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau yang memang sesuai dengan aturan syariat. Adapun perkara baru yang tidak sesuai dengan syariat maka Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menolaknya.
- Kesalahan Beradab
Adab alias sopan santun sangatlah penting. Puncak dari ilmu adalah akhlak yang beradab. Segala hal ada adabnya, kepada orang tua, pada teman sebaya, pada yang lebih muda, pada guru, bahkan pada hewan pun ada adabnya. Apalagi kepada orang-orang mulia seperti para sahabat, para nabi dan rasul, tentu harus memiliki adab yang lebih.
Termasuk prinsip Ahlu Sunnah wal Jama’ah yaitu menjaga hati dan lisan mereka terhadap para shohabat Radhiyallahu ‘anhum. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri langsung mengingatkan kita pentingnya memiliki adab kepada para sahabatnya, beliau bersabda :
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencaci sahabatku! Sungguh seandainya salah seorang dari kalian memberi infaq emas sebesar gunung Uhud, maka belumlah mencapai nilai infaq mereka sebanyak satu mudd dan bahkan tidak setengahnya pun.“ (H.R. Bukhari, hadits no. 3.673)
Para sahabat adalah santri-santri nabi, orang-orang yang belajar agama langsung dari nabi. Meski begitu, kita pun tetap tidak menganggap mereka ma’shum, namun mereka para sahabat haruslah kita cintai dan hormati.
Namun para tokoh salafi tidak segan dalam mengatakan salah kepada para sahabat. Bahkan Ibnu Taymiyah sebagai pelopor dan panutan orang-orang salafi berkata bahwa perbuatan Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu sebagai ulamanya para shohabat telah berbuat kesalahan dan terlalu berlebihan dalam mengikuti sunnah nabi. Sungguh hal seperti ini benar-benar salah dan sangatlah tidak adab.
Bahkan tokoh-tokoh salafi di Indonesia khususnya, tidak segan mengatakan bahwa orangtua Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk neraka. Sungguh ini perkataan yang sangat biadab. Kita pun orang islam biasa akan marah bila disebut orangtua kita masuk neraka, bagaimana kalau hal ini dikatakan kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sang pembawa syariat.
Tidaklah perlu bagi kita mengotori mulut kita dengan perkataan-perkataan yang biadab kepada orang-orang mulia. Pembahasan-pembahasan tentang orangtua nabi yang tidak ada kepentingannya untuk kita, tidak perlu kita bahas. Jauh lebih baik kita sibukkan diri dengan beramal dan mencari ilmu.


