0 items in your shopping cart

No products in the cart.

FITNAH SANTRI ZAMAN NOW

Mas Hasan Biqi Muhammad

Fitnah Santri Zaman Now

‘’Tidaklah bertambah suatu zaman melainkan zaman selepasnya lebih buruk dari sebelumnya’’.

Demikianlah bunyi hadits yang sering kita dengar. Sebuah pesan yang begitu penting yang keluar dari lisan seorang Nabi yang maha benar. Pesan yang membuat hati menjadi takut dan khawatir akan terjaganya agama yang agung lagi maha besar. Terlebih bagi umat yang hidup di zaman akhir di mana antara haq dan bathil semakin remang dan samar.

Menjadi santri di masa now tentunya juga berbeda dengan menjadi santri di zaman old. Dengan atmosfer dan tantangan yang sedemikian rupa, menjadi santri di zaman sekarang tidaklah semudah menjadi santri di zaman dulu.

Majunya teknologi yang tak terbendung dan tak terkendali menjadikan segala macam bentuk fitnah semakin membabi buta dan tak pandang bulu menyerang seluruh kalangan manusia terlebih para pemuda dan pemudi; tak terkecuali para santri. Maka menjadi santri dengan keimanan yang kokoh, keilmuwan yang rosikh, akhlaq yang karimah dan mental yang kuat merupakan sebuah keniscayaan.

Bila salah satu komponen ini tidak ada atau kurang dalam diri seorang santri maka dapat dipastikan penyakit ‘minder’ akan merasuki dirinya. Dan pada gilirannya, santri tersebut jatuh terjungkal dalam kubangan fitnah masa kini. Dan inilah yang terjadi pada kebanyakan santri zaman now, rasa bangga menjadi santri tulen kian pudar. Rasa ini diganti dengan rasa bangga menjadi santri yang kekinian, modern dan maju meski rela melepas atribut dan jati diri sebagai seorang santri sejati.

Munculnya istilah Santri Gaul, Santri Kece, Santri Band atau sebutan lainnya merupakan diantara bukti adanya ‘perubahan rasa’ dalam diri santri zaman now. Sehingga tidaklah heran, pada masa kini, santri yang kemudian menjadi artis sinetron, anak band, pesepak bola nasional – seperti yang terjadi saat ini- atau yang semacamnya menjadi santri idaman yang namanya dielu-elukan di hampir seluruh bilik-bilik pesantren di Indonesia.

Namun hal semacam ini tidak bisa kita gebyak uyah-kan mengingat bila kita amati dan teliti, masih banyak beberapa pesantren yang memiliki jurus untuk menghalau fitnah yang mewabah ini. Dan alhamdulillah, pesantren kita adalah salah satu di antaranya. Di Al-Fatah tercinta ini, dengan sebab barokah fikir dan mujahadah para Masyayikh-nya, fitnah-fitnah santri zaman now bisa dihalau atau setidaknya diminimalisir.

Hal ini tidaklah lepas dari upaya penanaman bibit iman yang kokoh dan yakin yang mantap yang ditanamkan oleh para pendidik di pesantren kita sejak santri pertama kali masuk pesantren. Adanya pelajaran Aqidah yang lurus semenjak kelas dasar sampai kelas tertinggi ditambah dengan digalakkannya ‘majlis mudzkaroh iman 25 majlis setiap hari’ di asrama-asrama menunjukkan bahwa iman yang kokoh merupakan prioritas utama dalam pesantren kita.

Tidak hanya itu, peningkatan keilmuwan dalam diri setiap santri di pesantren kita ini pun juga sangat ditekankan. Adanya standarisasi nilai dan kemampuan serta persyaratan hapalan pada setiap jenjang merupakan bukti upaya para pendidik untuk selalu meningkatkan keilmuwan para santri.

Keimanan yang kuat dan Keilmuwan yang rosikh pun belum dianggap cukup dalam menghadapi fitnah zaman now bila tidak diringi dengan ‘amal’ yang giat dan ikhlas. Maka di pesantren kita, sholat-sholat masnunah dan dzikir pagi petang terutama ayatul hirz (ayat penjagaan) adalah harga mati yang tak dapat ditawar lagi bagi setiap santri. bahkan tidak sampai di sini saja, jasad yang sehat dan jasmani yang kuat juga tidak pandang sebelah mata. Karna sebagaimana kata-kata yang sering kita dengar:

‘’Mental yang sehat dipengaruhi oleh badan yang sehat’’,

di pesantren kita tercinta – tidak seperti kebanyakan pesantren lainnya- sangat memperhatikan masalah ini. Adanya program Furusiyyah, Olahraga berkuda dan memanah sampai keharusan minum sepuluh gelas bagi setiap santri merupakan bukti bagaimana para pendidik di pesantren kita tidak memandang sebelah mata urusan kesehatan jasmani ini.

Para pembaca yang budiman, inilah diantara jurus pesantren kita dalam membendung wabah fitnah santri zaman now yang sedang marak akhir-akhir ini. Dan Alhamdulillah, standar santri idaman di pesantren kita tidak berubah. Santri penghapal Bukhori atau Minhaj, Santri yang rajin sholat dan khidmat, santri yang giat dalam dakwah dan fikir umat masih menjadi yang terdepan dalam menyandang gelar ‘’Santri Idaman’’.

Share this