TASAWUF ANTARA DUA KUTUB EKSTREM
- Hasan Biki Muhammad
Bila ada yang bertanya apa pilar agama yang sesungguhnya, tentu Iman, Islam dan Ihsan adalah satu-satunya jawabannya. Ya, Tiga pilar itu telah dijelaskan melalui “Hadits Jibril” dengan gamblangnya.
Kemudian dari Iman inilah, para Ulama melahirkan apa yang dinamakan ilmu Aqidah, dari Islam lahir ilmu Syariah (Fiqih), dan dari Ihsan muncullah apa yang kita kenal dengan Tasawwuf atau ilmu Hakikat.
Oleh karena itu, tiga pilar ini tidak akan bisa dipisahkan. Siapa saja yang berupaya menyingkirkan salah satu dari tiga pokok ini, pasti akan jatuh dalam kehancuran dan kesesatan.
Siapa saja yang fokus ber-fiqih tanpa ber-tasawwuf, atau ber-tasawwuf tanpa ber-fiqih, maka akan jatuh dalam kefasikan dan kezindikan. Kesuksesan hanyalah bisa digapai oleh siapa saja yang mengumpulkan keduanya secara beriringan.
منتفقهولميتصوففقدتفسق،ومنتصوفولميتفقهفقدتزندقومنجمعبينهمافقدتحقق
Ilmu Tasawwuf sendiri merupakan samudra yang begitu luas tak terbatas. Bahkan, ada 1000 sampai 2000 definisi tasawwuf jika kita kaji dan ulas, sebagaimana kata Imam Zarruq, pembesar sufi abad 9 dari negeri Fas.
Namun, dari ribuan pengertian yang ada, terdapat satu titik kesimpulan yang sama, yakni shidqu tawajjuh ilalloh ta’ala; menghadapnya hati seorang hamba kepada Alloh dengan sebenarnya.
Dari kesimpulan ini, maka sudah semestinya seluruh umat Islam yang bercita-cita meraih kebahagiaan duniawi-ukhrowi, dan ridho-mahabbah ilahi agar berperilaku sebagai sufi yang sejati.
Namun sayangnya, akhir-akhir ini, tidak sedikit dari saudara kita yang salah dalam menyikapi. Baik sikap ekstrem kanan, maupun ekstrem kiri.
Ada sebagian yang mencela tasawwuf sebagai ilmu bid’ah yang tidak dicontohkan Baginda Nabi, atau ilmu hasil bajakan dari agama lain yang tidak islami, atau ilmu yang menjadikan pengamalnya menjadi muslim yang pasif dan hanya mementingkan diri sendiri.
Di lain pihak, ada pula sekelompok yang mendaku sebagai sufi, namun alih-alih mendekatkan diri kepada ilahi, justru mereka menjadi para zindik yang mengingkari aturan Ilahi dan sunnah Nabi. Membawa-bawa ajaran yang asing, tidak dikenali, bertentangan dengan pikiran yang logis, dan ditolak oleh jumhur Ulama Robbani.
Tentu saja ahlulhaq berada di tengah dua kubu ekstrem ini. Tidak ekstrem ke kanan ataupun ekstrem ke kiri. Baina al-Tafrithwaal-Ifrothi. Baina al-Ghuluwwaal-Tasahuli.
منبينفرثودملبناخالصاسائغاللشاربين
Ilmu Tasawwuf bersumber kepada Al-Qur’an dan al-Hadits serta Aqwal-Ahwal para Ulama Robbani. Maka, bagaimana bisa dituduh sebagai bid’ah yang dicela Baginda Nabi?
Taubat, Waro’, Zuhud, Faqr, Sabar, Tawakkal, dan Ridho Ilahi merupakan tujuh pilar yang disepakati para Sufi. Dari tujuh pilar ini, manakah yang bertentangan dengan ajaran Nabi?!
Apalagi jika di kata ilmu Tasawwuf tidak Islami (hanya menjiplak dari agama di luar Islam), sungguh tuduhan keji yang tidak sesuai dengan fakta hakiki.
Adakah ajaran memasrahkan diri kepada sang Ilahi bukan ajaran Islami?
Atau ajaran menjauhi gemerlap dan fitnah duniawi juga bukan ajaran Qur’ani?!
Sekali lagi, ini semua hanyalah omong kosong tanpa bukti dan tuduhan yang berasal dari kotornya hati.
Pengamal Tasawwuf adalah kaum pasif dan biang kemunduran Islam, demikian kata sebagian mereka.
Setali tiga uang, sami mawon dengan tuduhan kelompok sebelumnya; tuduhan usang yang hanya dilontarkan para pecundang! Tanpa bukti dan argumentasi gamblang.
Bacalah sejarah Islam dengan seksama. Amati siapa saja tokoh dibalik kemenangan Islam atas musuhnya. Cermati siapakah sosok-sosok dibalik kedigdayaannya?
Adakah orang-orang materialistik yang berjuang di dalamnya? Adakah para pecinta dunia yang turut berjasa? Adakah darah para penggila jabatan dan harta benda yang tumpah mengalir karenanya? Jawabannya jelas: Tidak ada!
Sebenarnya, jawaban tentang tuduhan tidak mendasar ini sudah ditulis lengkap oleh banyak Ulama. Syaikh As’ad Khotib salah satunya. Beliau mengumpulkan nama-nama Sufi dari generasi awal sampai generasi akhir yang menjadi garda terdepan dalam perjuangan agama. Namun, ada kiranya kami tetap akan menyebut beberapa nama sebagai contohnya.
Sebut saja nama-nama tenar seperti Sultan Solahuddin al-Ayyubi, penakluk Yerusalem, Palestina.
Atau Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur di Eropa.
Atau Sultan Aurangzeb Alamghir, pengamal tarekat Naqsyabandiyyah yang juga seorang Mujahid dan Raja Besar Mughol India.
Atau tidak perlu jauh-jauh sampai Eropa, cukup di negeri kita tercinta, yang juga mencatat ratusan atau ribuan pahlawan dari para Sufi ternama.
Siapa tidak kenal, Pangeran Diponegoro pengobar perang terbesar di tanah Jawa. Beliau adalah pengamal tarekat Syatariyyah yang taat beragama.
Bahkan, jika anda membaca sejarah, pencetus jihad sejarah kemerdekaan Indonesia adalah para Sufiyyah dengan Resolusi Jihad-nya.
Maka, tuduhan bahwa Tasawuf mengajarkan pasif dan berdiam diri dari perjuangan adalah fitnah belaka.
Namun, sungguhpun demikian, kita tidak memungkiri bahwa banyak pendaku tasawwuf yang telah keluar dari aturan yang dibenarkan. Mereka berkata dan bertindak tidak berdasarkan ajaran Al-Qur’an, al-Hadits, dan para Ulama muktabar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dari mulai paham wahdatul wujud, wilayah di atas nubuwwah, haqiqah di atas syari’ah, ghuluw dalam beberapa hal dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, dalam menyikapi hal ihwal tentang tasawwuf kita harus benar-benar berhati-hati. Kita mesti mengambil ilmu yang sangat istimewa ini dari para Masyayikh yang mumpuni. Para Masyayikh yang bersambung sanad-nya sampai Baginda Nabi. Para Masyayikh yang memiliki ilmu dzohir dan ilmu bathin yang diakui.
Adapun perihal penyimpangan yang ada dalam kalangan Sufi, maka para Ulama sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti.
Pemuka Sufiyah abad ketiga, Imam Abu Yazid al-Bustomi quddisasirruh berpesan, “Jika kalian melihat seseorang yang mampu berjalan di atas udara, ataupun di permukaan air, maka janganlah tertipu, sebelum kalian melihat bagaimana sikapnya terhadap perintah dan larangan Agama (syariat).”
Para Sufi juga banyak menulis tentang aturan dan kaidah-kaidah tasawwuf sesuai dengan ajaran Baginda Nabi. Hal ini menunjukkan bagaimana keseriusan mereka dalam membentengi umat dari berbagai macam aneka kesesatan ‘oknum’ Sufi. Mereka membuat rambu-rambu agar ilmu tasawwuf diamalkan sesuai mestinya, sehingga benar-benar mengantarkan kepada ma’rifat yang hakiki.
Di antara tokoh Sufi yang menulis tentang kaidah atau rambu-rambu ber-tasawwuf adalah Imam Ahmad Zarruq al-Fasi. Seorang Ulama besar dari negeri Fez, Maroko yang bermadzhab Maliki. Beliau menulis satu kitab fenomenal dengan judul “Qowaid al-Tasawwuf wa Syawahid al-Ta’arrufi”.
Ada juga tokoh Sufi abad 10, Imam Ahmad al-Sirhindi dengan kitab Maktubat-nya. Sufi agung yang juga seorang Masyayikh Naqsyabandiyyah ternama dari negeri India.
Dalam kitab yang merupakan kumpulan surat menyurat itu, beliau meng-counter banyak paham-paham Sufi yang menyimpang dari paham Jumhur Ulama. Mulai dari paham wahdatul wujud, wilayah (derajat kewalian) di atas nubuwwah (derajat kenabian), hakikat di atas syariat (menyepelekan ilmu fiqh/syariat), dan sebagainya.
Kami sudah pernah menulisnya dalam sebuah buku biografi “Imam Sirhindi”, bacalah insya Alloh banyak fawaid dan manfaatnya.
Ikhtitam
Wal hasil, mendalami tasawwuf adalah sebuah keniscayaan, apalagi di zaman yang penuh dengan fitnah duniawi yang menyesatkan. Namun, tentu saja, sekali lagi, mesti melalui bimbingan para Masyayikh dengan silsilahnya yang berkesinambungan. Bukan belajar dari medsos, atau orang sembarangan.
Maka memiliki Guru Mursyid yang paham syariat dan hakikat adalah sebuah anugerah besar tak terkira. Peganglah erat-erat, jangan sampai lepas dan kita tinggalkan sia-sia.


