ALERGI ARAB ATAU SUNNAH?
Hasan Biqi Muhammad
Gerakan anti Arab, yang dipelopori langsung oleh para pengusung paham Liberal, beberapa tahun terakhir, kembali ramai digaungkan. Isu-isu mengenai Islam Arab yang dinilai radikal, jumud, tidak berbudaya, tidak ramah, tidak akomodatif terhadap budaya setempat, dan aneka ragam tuduhan lainnya pun digulirkan. Belum lagi adanya banyak konflik berdarah di kawasan Timur Tengah yang menjadikan mereka seolah menemukan sebuah momen yang sangat tepat untuk kian gencar menggiring opini bahwa memang orang Islam -bahkan ajaran Islam- di sana terkesan garang, biadab dan tidak berperikemanusiaan. Maka, dengan tersudutnya bangsa Arab ini, mereka pun merasa memiliki peluang emas untuk mengampanyekan gerakan anti Arab secara besar-besaran.
Sebenarnya, bila yang mereka tuju adalah budaya arab saat ini, seperti hidup glamor, bermalas-malasan, mengumbar aurot (mirip dengan wanita barat) dan budaya buruk lainnya, maka tidak perlu kami persoalkan. Namun tidak demikian yang terjadi belakangan. Bukan budaya Arab Muta’akhir yang mereka nista dan cemarkan, tapi justru ajaran Islam dan Sunnah Baginda Nabi yang mereka angkat menjadi bahan ejekan. Gerakan alergi Arab ini pun pada gilirannya membawa semangat baru untuk kemudian berubah menjadi gerakan alergi Sunnah yang tak henti disemarakkan. Pada akhirnya, sunnah-sunnah agung semisal memelihara jenggot, bersorban, bersiwak, mengenakan baju gamis dan berhijab bagi wanita muslimah selalu menjadi tema utama untuk digugat dan dipertanyakan. Maka dalam edisi kali ini, kami akan mengulas beberapa poin penting berkaitan dengan tema ini secara singkat, padat dan jelas, meski tentunya dengan diiringi segala keterbatasan.
HUBUNGAN ISLAM DAN ARAB TIDAK BISA DILEPASKAN
Hubungan Islam dan Arab adalah hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Bagaimana tidak, Agama Islam diturunkan pertama kali di kalangan bangsa Arab. Melalui seorang Rosul yang berbangsa Arab. Al-Qur’an, sebagai pedoman utama umat Islam menggunakan bahasa Arab. Hadits Nabawi ditulis dan dikodifikasi dalam bahasa Arab. Kitab-kitab para Ulama’, baik salaf maupun kholaf didominasi bahasa Arab. Mayoritas para juru dakwah dan para penakluk negeri-negeri yang menyebarkan Islam pun berasal dari Arab.
CINTA ARAB ADALAH KENISCAYAAN
Oleh karena itu, sedari awal, Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mewanti-wanti agar selalu mengenang jasa besar bangsa Arab yaitu di antaranya dengan memulyakan dan mencintai mereka dari lubuk hati yang terdalam. Berkenaan dengan hal ini, beliau Shollallahu alaihi wa Sallam berpesan kepada seorang sahabat yang berasal dari negri Persia (non Arab), Sayyidina Salman Al-Farisi, “Wahai Salman, jangan sampai engkau membenciku maka engkau akan terlepas dari agama.” Sayyidina Salman pun terheran dan bertanya kepada Baginda Nabi, “Wahai Rosululloh, bagaimana aku dapat membencimu sementara dengan sebab engkaulah aku memperoleh hidayah dari Allah ‘Azza wa Jalla? ’’. Maka Baginda Nabi bersabda, “Ketika engkau membenci Arab maka saat itulah engkau membenciku.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, At-Thobaroni, dan Al-Hakim dengan sanad yang shohih).
Dalam riwayat lain yang cukup masyhur, Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Mencintai Arab adalah (salah satu tanda) Iman dan membencinya adalah (salah satu tanda) kemunafikan.” Dua hadits ini merupakan pesan yang cukup gamblang dari sang Rosul agar senantiasa memulyakan dan mencintai bangsa Arab. Bagaimana tidak, dengan sebab jasa dan pengorbanan leluhur mereka lah kita kenal dengan Islam. Bukankah sudah semestinya kita berbalas budi kepada mereka?
TRADISI ARAB ADALAH TRADISI TERBAIK
Beberapa bulan yang lalu, sebagaimana yang dilansir oleh Viva.Co.Id, salah satu tokoh ternama Indonesia yang berinisial SAS berkata, “Tradisi kita jauh terhormat daripada tradisi bangsa Arab.” Tentu saja, sebagai seorang muslim tulen, statemen seperti ini tidaklah benar, baik dipandang dari segi aqli maupun naqli. Secara logika, dengan terpilihnya salah satu lelaki berbangsa arab (yaitu Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ) menjadi pimpinan Nabi dan Rosul sekaligus ditahbiskan sebagai makhluk termulya adalah sebuah isyaroh yang jelas bahwa bangsa Arab adalah bangsa terbaik sehingga layak mengemban tugas risalah yang sangat agung ini. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melalui sebuah riwayat yang cukup populer yang berbunyi, “Ketika Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya maka Allah telah memilih bangsa Arab (dari bangsa lainnya) lalu memilih Quraisy dari sekalian bangsa Arab lalu memilih Bani Hasyim dari sekalian Quraisy lalu memilih Aku dari sekalian Bani Hasyim. Aku adalah terbaik dari yang terbaik.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrok. Bila bangsa Arab adalah bangsa yang terbaik maka sudah tentu tradisi mereka pun menjadi tradisi yang terbaik. Oleh karenanya, tidaklah mengherankan jika dalam hal Halal-Harom selera bangsawan Arab pun dipertimbangkan. Sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab fiqih, salah satunya Al-Iqna’ yang berbunyi, “Setiap binatang yang dinilai baik oleh bangsa Arab adalah halal kecuali yang diharamkan secara langsung oleh syara’ dan setiap binatang yang dinilai buruk oleh bangsa Arab adalah harom kecuali yang dihalalkan secara langsung oleh syara.”
MENGHIDUPKAN TRADISI JAHILIYYAH ADALAH TINDAKAN YANG TERCELA
Menghidupkan atau setidaknya membangga-banggakan tradisi nenek moyang yang tidak selaras dengan syari’at Islam merupakan sesuatu yang tercela dan terlarang dalam Agama. Dalam hal ini, Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berpesan, “Tiga orang yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala. (1) Orang yang melanggar aturan Agama di tanah Haram; (2) Orang yang mencari (ingin menghidupkan kembali) dalam Islam sunnah jahiliyyah (tradisi, budaya atau kepercayaan sebelum datangnya Islam); (3) Orang yang mengalirkan darah orang lain tanpa hak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori ini, Baginda Nabi dengan tegas mengecam siapa saja yang ingin menghidupkan kembali tradisi atau budaya jahiliyyah yang tidak selaras dengan syare’at.
Dalam riwayat yang cukup masyhur, Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang menghubungkan dirinya dengan hubungan jahiliyyah maka katakan lah padanya, ‘gigitlah kemaluan ayahmu!” Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sangat membenci siapa saja yang mengaitkan dirinya dengan rasa bangga terhadap apa saja yang berbau jahiliyyah, sehingga beliau pun mengaggap orang semacam ini layak untuk ditegur dan dicerca serta diingatkan bagaimana perilaku nenek moyangnya yang begitu buruk dan memalukan sebelum datangnya Islam. Oleh karenanya, membangga-banggakan tradisi Nusantara yang bertentangan dengan syara’ apalagi menganggapnya lebih terhormat dari pada ajaran Islam merupakan sebuah amalan buruk yang berbahaya. Sebenarnya, gerakan kampanye tradisi leluhur semacam ini atau yang biasa disebut gerakan Nativisasi bukanlah gerakan kemaren sore. Gerakan ini telah dimulai sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu di negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia. Gerakan ini diprakasai oleh para orientalis barat dengan bantuan para penjajah. Untuk mengetahui gerakan ini dengan sedikit panjang, antum bisa membaca kembali Al-Maktabah edisi 9.
TRADISI DALAM ISLAM
Sebenarnya, Islam tidak serta merta menolak tradisi begitu saja. Islam datang adalah untuk menyempurnakan akhlak dan kehidupan manusia. Oleh karenanya, tradisi dan budaya asalkan tidak bersebrangan dengan syara’ adalah dilegalkan dalam Islam. Syaikh Ibnu Aqil, penyusun kitab Al-Funun, beliau mengatakan bahwa seorang muslim tidak seyogyanya keluar dari sebuah tradisi selama tradisi tersebut tidak diharomkan. Namun, perlu digaris bawahi bahwa meski tradisi tidak tercela dalam Islam (selama masih dalam koridor syara’), kita juga tidak boleh menganggapnya lebih mulya dan terhormat dari Sunnah Nabi. Ambil contoh mengenakan baju batik misalnya. Mengenakan baju batik dilegalkan dalam Agama namun kita tetap mesti meyakini bahwa mengenakan gamis dengan niat meneladani dan mahabbah kepada Baginda Nabi adalah lebih mulya dan lebih terhormat dari pada mengenakan baju batik.
MENG-INDONESIAKAN ISLAM?
Seorang tokoh berinisial MMD, dalam bebarapa kali kesempatan, misalnya pada 22/4/2017 pada saat pelantikan pengurus IKA-UII (Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia) Cabang Australia di Melbourne berkata, “Tugas kita dalam berdakwah dan mensyiarkan Islam sebagai Rohmatan lil ‘Alamin adalah mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia.” Bisa dipastikan bahwa pernyataan konyol ini merupakan bentuk kekeliruan dalam berpikir. Bagaimana tidak, umat Islam diminta untuk mengindonesiakan Islam, sementara Indonesia sendiri kini sudah terbaratkan. Cara berpakaian, mulai anak muda, pejabat negara sampai pakaian resmi akademisi meniru gaya barat (berjas dan berdasi). Politiknya demokrasi, dari Barat. Ekonominya kapitalis, dari Barat. Hukumnya dari Belanda, Barat. Maka jika umat Islam diajak untuk mengindonesiakan Islam, berarti sama saja dengan membaratkan Islam.
AJARAN ISLAM DAN BUDAYA ARAB
Perlu diketahui bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sangatlah berbeda dengan budaya Arab. Sebab, andaikan ajaran Islam sama dengan budaya bangsa Arab atau bahkan dianggap melestarikan budaya Arab tentu tidak ada pengingkaran dan gejolak perlawanan kepada Baginda Nabi. Namun kenyataannya tidak demikian. Seluruh bangsa Arab saat itu bersama-sama menentang ajaran yang dibawa oleh Baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam karena dianggap baru dan menyalahi budaya, tradisi dan keyakinan yang mengakar kala itu. Maka hal ini menunjukkan bahwa ajaran Nabi bukanlah budaya dan tradisi Arab.
Meski kita juga tidak mengingkari bahwa terdapat amaliyyah dalam Islam yang juga dikerjakan pada masa Jahiliyyah. Namun hal tersebut tidak bisa dinamakan tradisi Arab, sebab telah dirubah statusnya menjadi sebuah ibadah melalui titah Baginda Nabi yang mulya. Sebut saja semisal haji dan khitan. Dua ibadah ini telah dikerjakan jauh sebelum Islam datang (dengan cara yang sedikit berbeda). Namun haji dan khitan tidak bisa dikatakan tradisi Arab sebab telah menjadi amaliyah yang diperintahkan. Wal hasil, apa saja yang masuk dalam titah Allah dan Rosul-Nya, baik pernah dikerjakan oleh orang Arab atau tidak, adalah ajaran Islam, bukan budaya Arab!.
BANGSA ARAB BUKANLAH ARAB SAUDI DAN WAHABISME
Sebagian orang menganggap bahwa gerakan anti Arab sebenarnya adalah gerakan melawan paham Wahabisme yang menjadi ideologi resmi kerajaan Saudi Arabia. Tentu hal ini tidaklah benar. Sebab, bangsa Arab tidak hanya Saudi Arabia. Menjadikan Arab Saudi sebagai barometer atau tolak ukur untuk menilai bangsa Arab secara umun adalah kesalah pahaman. Bangsa Arab adalah bangsa yang saat ini tersebai di berbagai negara. Menurut catatan Charter of the Arab League, ada sekitar 22 Negara Arab di Timur Tengan yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi/nasional.
Persepsi bahwa Saudi Arabia adalah Wahabi secara total juga tidak benar. Sebab, masih banyak warga Arab Saudi yang berpandangan Sunni-Sufi layaknya umat Islam di Nusantara. Ideologi Wahabi adalah ideology resmi pemerintahan yang belum tentu diikuti oleh seluruh rakyatnya. Lagi pula, tidak semua yang identik dengan kaum wahabi adalah buruk. Terdapat beberapa ciri mereka yang sebenarnya juga merupakan identitas umat Islam pada umumnya. Seperti memelihara jenggot, mengenakan gamis panjang, berhijab sempurna dan semacamnya. Maka antipasti dengan bangsa Arab dengan dalih melawan paham Wahabisme tidaklah dibenarkan.
AMALAN SUNNAH MENJADI SYI’AR WAHABY?
“Berjenggot, Memakai siwak dan gamis itu simbol kaum Wahabi!.” Demikianlah salah satu dalih gerombolan liberal dalam menyuarakan anti Sunnah. Tentu saja statemen ini tidak benar. Sebab, bergamis, berjenggot, bersorban dan semacamnya masih banyak diamalkan oleh para Kyai, santri dan masyarakat umum Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Bahkan, salah satu gambar Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari yang sangat populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia adalah dengan mengenakan sorban dan berjenggot (dan kita yakin bahwa niat beliau bersorban adalah mengamalkan sunnah sang Kekasih Baginda Muhammad, bukan menghidupkan tradisi Arab!). Oleh karenanya, tuduhan bahwa berjenggot dan semacamnya merupakan syi’ar dan simbol Wahabi adalah tuduhan yang keliru dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
ABU JAHAL JUGA BERJENGGOT DAN BERSORBAN!
Logika kuno, basi plus menggelikan ini ternyata masih banyak dikumandangkan oleh para pengekor paham Liberal hingga detik ini. Bagaimana tidak, sebagaimana yang telah kita maklumi bersama bahwa seluruh amalan yang telah ditetapkan oleh syara’ –baik mandub atau bahkan wajib- tetaplah berstatus masyru’ (tidak berubah sekedar sebuah tradisi) meskipun dalam beberapa hal juga dikerjakan oleh non Muslim, termasuk Abu Jahal. Menunaikan Haji tetaplah menjadi kewajiban meski sebagian musyrikin jahiliyyah juga menunaikan haji. Khitan pun juga tetap harus dikerjakan oleh setiap muslim meski musyrikin jahiliyyah juga mengerjakan. Memakmurkan masjid juga musti dihidupakan meski musyrikin jahiliyyah juga dulu memakmurkan Masjidil Harom. Dan tentu masih banyak seabrek contoh lainnya untuk menolak logika bodoh ini.
TOTALITAS DALAM ITTIBA’ BAGINDA NABI SHOLLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Memang, dalam kajian ushul fiqih, Af’al Nabi (perbuatan Baginda Nabi) adakalanya memiliki unsur qurubat dan jabali atau adat. Mayoritas Ulama berpendapat bahwa Af’al Nabi yang tidak ada unsur Qurubat atau ibadat dan tidak ada perintah atau anjuran di dalamnya, maka menunjukkan makna ibahah (tidak wajib dan tidak pula sunnah). Seperti cara duduk, cara berdiri, berjalan, makan dan lain sebagainya (bersorban, berjenggot dan bersiwak tidak masuk dalam bagian kedua ini, sebab terlampau banyak hadits yang menyebutkan anjuran dan fadhilahnya). Namun, bukan berarti Af’al Nabi yang semacam ini tidak bernilai. Setiap insan yang hatinya terpatri rasa Mahabbah kepada sang Kekasih dan Idolanya tentu tidak akan menyepelekan hal ini. Apalagi menjadikannya sebagai bahan guyon dan lawakan. Bahkan menurut sebagian Ulama yang lain, Af’al Nabi yang semacam ini pun masuk dalam kategori mandub. Sebab, seluruh Af’al Nabi, meski bersifat adat, merupakan sesuatu yang mulya dan terhormat yang tentu perlu untuk diteladani. Hal ini sebagaimana ungkapan populer Adatu sayyid sayyidul Adat (kebiasaan orang mulya adalah kebiasaan termulya)”.
Berkaitan dengan hal ini, panutan kita, Al-Imam Al-Ghozali rahmatulloh alaih menulis dalam salah satu kitab beliau, Al-Arba’in fi Ushul Ad-Din, “Ketahuilah bahwa kunci kesuksesan adalah dalam ittiba’ (mengikut) sunnah Baginda Nabi dan iqtida’ (meneladani) Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam seluruh sumber, gerakan dan diamnya, bahkan sampai gaya makan, berdiri, cara tidur dan cara bicaranya… tidak hanya meneladani adab-adab Nabawi dalam urusan ibadah saja namun dalam hal-hal yang bersifat kebiasaan, sehingga mendapatkan predikat Al-Ittiba’ Al-Mutlaq (meneladani Baginda Nabi secara total). Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya: “Katakanlah jika kalian mencintai Allah ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
Maka amalkanlah (amalan seperti) bercelana sambil duduk, bersorban dengan posisi berdiri, makan dengan tangan kanan… bahkan sebagian ulama salaf enggan memakan buah semangka sebab tidak pernah mendengar cara makan semangka menurut Baginda Nabi. Tidak sampai di sini, dikisahkan bahwa seorang salaf lupa mengenakan khuff dengan menadahulukan bagian kiri maka beliau pun merasa salah dan membayar satu kirr gandum (720 Sho’ / -+ 2 ton gandum) sebagai kaffarohnya. Lantas, apakah pantas bagi seorang yang berakal untuk meremehkan ittiba’ Sunnah dan berkata bahwa amalan ini hanyalah kebiasaan Nabi (bukan ibadah yang diperintahkan syara’) ?!. Sikap semacam ini (meremehkan ittiba’ secara mutlaq) merupakan penghalang dari gerbang kesuksesan.
KONSEKUENSI CINTA SANG IDOLA
Merupakan konsekuensi cinta adalah mengikut yang dicinta. Hal ini adalah sesuatu yang manusiawi dan menjadi naluri setiap insan. Bahkan, Orang yang jatuh cinta dan mengidolakan seseorang tertentu maka pasti akan mencintai dan mengidolakan apa saja yang berhubungan sang kekasih. Gaya rambut, cara berpakaian, cara berjalan dan semacamnya. Ia akan masa bodoh dengan komentar dan celaan siapa saja. Oleh karenanya, seseorang yang telah jatuh cinta dengan Baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam–dan memang beliaulah satu-satunya makhluk yang layak dicinta dari segi jasad, akhlaq dan jasanya- maka tentunya akan mengikut dan meneladani apa saja yang berhubungan dengan beliau. Wal hasil, siapa saja yang tidak suka dan nyinyir dengan sunnah Nabi maka perlu dipertanyakan ke mana hati dan rasa dia terpatri?!
IKHTITAM
Selepas membaca beberapa ulasan di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa siapa saja yang mengajak untuk menyudutkan bangsa Arab dan meninggalkan tradisinya maka sejatinya ia mengajak untuk menyudutkan sunnah Nabi dan menyeru untuk segera meninggalkannya. Bukan budaya Arab yang mereka persoalkan namun Sunnah Nabi yang mereka perkarakan. Mereka menginginkan agar umat Islam alergi dengan segala sesuatu yang berbau Arab sehingga pada gilirannya alergi dengan sunnah-sunnah Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Ya Robb, Sallimna wal Muslimin min mudhillatil fitani wal ihani wal mihan.


