0 items in your shopping cart

No products in the cart.

AWAS, HOAX ISLAMI…!!! KEBOHONGAN BERLABEL AGAMA

Hanif_J

Hoax.. kata yang satu ini memang banyak sekali kita dengar, terlebih di jaman now ini, di era yang semakin berkembangnya teknologi sehingga dunia maya pun hampir merata di belahan bumi mana saja dan berita di dalamnya pun menjadi berita yang mudah tersebar di masyarakat, dengan mudahnya menyampaikan pesan dan komunikasi.

Di era kebebasan seperti sekarang ini, beberapa media arus utama seolah sudah tak mempedulikan lagi apakah beritanya bisa mengakibatkan salah faham bagi pembacanya atau tidak. Mereka juga tak peduli apakah pemberitaannya benar atau tidak, yang penting asal menarik, memprovokasi, maka langsung mereka sebarkan. Celah ini pun banyak digunakan orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk menyebarkan kebohongan, mengadu umat Islam dll.  Banyaknya lalu lintas pesan, banyak pula berita-berita palsu yang tersebar, sebenarnya jika orang lebih bijak dalam menyaring apa yang diterima maka dia pasti bisa membedakan mana yang FACT dan mana yang HOAX.

Namun, orang awam masih banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan berita palsu yang tersebar baik lewat kabar angin, selebaran-selebaran maupun berita yang tersebar di medsos. Karena itu, kita akan bercerita sedikit tentang HOAX yang tersebar di masyarakat, tetapi kali ini kami lebih cenderung fokus membahas hoax yang berlabel Islami baik yang mendukung Islam ataupun menjatuhkan. Jadi, sekali hoax tetaplah hoax, walaupun disampul dengan cover yang baik, walaupun bertujuan baik maka tetap saja menyebarkan berita hoax adalah tidak dibenarkan, jika demi meyakinkan orang lain terhadap apa yang ia yakini menggunakan hoax, maka apa bedanya hal tersebut dengan Taqiyyah, maka dari itu bagaimana kita lebih hati-hati dalam berdakwah.

Mungkin kalian pernah membaca tulisan ini :

BERITA PENTING!!!
Wasiat untuk umat Islam dari Syekh Ahmad seorang penjaga makam Rosululloh di Madinah,
AKU BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA DAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ’ALAIHI WASALLAM
Pada malam takala hamba membaca Al-Qur’an di makam Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hamba sampai tertidur, lalu bermimpi. Di dalam mimpi, hamba bertemu dengan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau berkata, di dalam 50.000 orang yang meninggal dunia, maka di antara bilangan itu tidak ada seorangpun yang mati beriman . . . . .
……….. Maka berdasarkan pesan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, hamba berpesan kepada semua umat Islam di dunia:
1. Bersholawatlah kepada Nabi Besar kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Janganlah bermalas-malas untuk mengerjakan
sholat 5 (lima) waktu… dst.

(Mungkin sampai sini kata-katanya bagus, tetapi yang buat mengesalkan adalah kata-kata setelahnya)

“…………Bagi siapa saja yang membaca surat ini hendaklah menyalin/mengcopynya untuk disampaikan kepada orang-orang lain yang beriman kepada hari kiamat. Dan barang siapa yang menyebarkan surat ini sebanyak 20 lembar dan disebarkan kepada teman-teman anda atau Masyarakat Islam sekitarnya, maka percayalah anda akan memperoleh keuntungan setelah dua minggu kemudian. Telah terbukti pada seorang pengusaha di Bandung, setelah membaca dan menyalinnya juga menyebarkan sebanyak 20 lembar, maka dalam jangka waktu 2 minggu kemudian, dia mendapat keuntungan yang sangat luar biasa besarnya.

Sedangkan terhadap orang yang menyepelekannya dan membuang surat ini, dia akan mendapat musibah yang besar yaitu kehilangan sesuatu harta/benda yang sangat dicintai dan disayanginya. Perlu diingat kalau kita sengaja tidak memberitahukan surat ini kepada orang lain, maka tunggulah saatnya nasib apa yang akan anda alami, dan jangan menyesal apabila mendapat bencana secara tiba-tiba atau kerugian yang sangat besar.

Percayalah beberapa hari lagi sesuatu akan datang kepada Anda dan keluarga Anda.
kejadian-kejadian yang telah terbukti !
1. Tn. Mustafa mantan menteri Nasabah Malaysia, dipecat dari jabatannya karena beliau lupa setelah menerima surat ini, tidak menyebarkannya, kemudian beliau ingat surat ini, lalu beliau menyalinnya dan menyebarkannya sebanyak 20 lembar. Beberapa lama kemudian beliau dilantik kembali menjadi menteri Kabinet.
2. Tn. Gojali mantan menteri Malaysia telah menerima surat ini, kemudian beliau menyalinnya sebanyak 20 lembar dan menyebarkannya, dan beberapa hari kemudian beliau mendapat keuntungan yang luar biasa besarnya.

Dengan adanya kejadian-kejadian tersebut di atas sebagai bukti, untuk itu saya sarankan agar Anda tidak merahasiakannya, dan anda segeralah menyebarkannya untuk teman-teman atau rekan-rekan Anda, dst………”

Tulisan ini telah banyak tersebar dengan berbagai bahasa di belahan dunia, dengan berbagai versi yang ujung-ujung mengancam untuk menyebarkannya, ada juga yang bunyinya lebih parah lagi, semisal:

“Wahai Syaikh Ahmad, sebarkanlah wasiat ini kepada mereka, sebab wasiat ini dinukil dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang menulisnya dan mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain, baginya disediakan istana dalam surga, dan barang siapa yang tidak menulis dan tidak mengirimnya, maka haramlah baginya syafa’atku di hari kiamat nanti.”

Demi Alloh (3x) wasiat ini adalah benar, jika aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan tidak memeluk agama Islam, barang siapa yang percaya kepada wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan jika tidak percaya maka kafirlah ia..”

Lihatlah tulisan akhirnya, ia menjadikan kepercayaan kepada tulisan ini seolah-olah telah menjadi rukun iman yang ke-7…?! Begitukah??!

Mungkin anda juga pernah membaca kisah di atas, dan bagaimana reaksi anda??? Mungkin bagi orang yang mudah percaya akan segera ketakutan dan mengcopynya…

Tahukah anda bahwasannya tulisan tersebut sudah menyebar di berbagai pelosok dunia, dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, terbukti tim riset dan fatwa arab saudi, begitu pula Dr. Qardhawi (lihat: Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah), Majelis Ulama’ Malaysia serta para ulama’ kontemporer saat ini pernah membahas berita ini di fatwa mereka, inilah sebabnya hoax disebut juga dengan kabar burung, karena bisa mondar-mandir ke luar negeri tersebar tanpa perlu tiket, visa, dan pasport dan sepertinya kita tidak perlu membahas panjang lebar bagaimana bantahan-bantahan mereka mengenai kisah ini, karena bagi orang yang berakal sehat pasti dapat mengetahui bahwasannya ini hanyalah hoax dan berita yang mengada-ada.

Isi wasiat tersebut justru merupakan indikasi yang memperlihatkan kebohongan dan kepalsuan wasiat tersebut. Sebab, pewasiat telah mengancam dan menakut-nakuti orang yang tidak mau menyebarluaskannya bahwa ia akan mendapat musibah dan kesusahan, anaknya akan mati, dan hartanya akan habis. Al-Qur’an saja yang merupakan Kalam tertinggi tidak pernah mengancam manusia untuk menulis dan mengirimnya, begitu pula Shohih Bukhori yang merupakan perkataan asli Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam tidak pernah ada perintah ancaman bagi yang tidak menulisnya. Kalau Al-Qur’an dan Hadits saja tidak begitu, maka bagaimana dengan wasiat yang tidak jelas asal-usulnya ini? Ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dibenarkan oleh akal orang muslim yang memahami Islam dengan baik dan benar.

Kita tidak tau apa motif sang penulis itu membuatnya, tetapi terlepas dari itu semua, keburukan tetaplah keburukan, “Janganlah engkau mencampur adukkan kebaikan dengan kebathilan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengajarkan kita dakwah dengan cara baik, hikmah, bukan dengan menakut-nakuti manusia, apalagi ancamannya hanya untuk yang membacanya saja, tidaklah pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita dakwah dengan kebohongan, mengkhianati orang dsb, bahkan kepada musuh Islam pun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan kebohongan, maka bagaimana menurutmu jika kebohongan tersebut ditujukan kepada umat Islam..?

Surat tentang peringatan terakhir Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih beredar hingga kini. Bedanya dahulu memakai selebaran-selebaran, tetapi kali ini dengan kemajuan komunikasi berita ini tersebar di dunia maya, melalui situs, email, WA, dsb. Isi wasiatnya sama: kiamat sudah dekat.

Ada lagi HOAX yang mengatakan si Anu masuk Islam dengan mengatas-namakan tokoh-tokoh internasional sebut saja, berita Wong Fei Hung adalah seorang Muslim, Hajar Aswad adalah Super Konduktor Bumi, seorang astronot berjalan memutari rotasi bulan untuk membuktikan bulan terbelah, Islam diakui PBB dengan adanya Sertifikat UNESCO: Islam adalah agama paling damai di dunia, Neil Amstrong masuk Islam setelah dengar Adzan di Bulan (padahal info dirinya ke bulan saja sudah dianggap kebohongan besar, dan ia pun tidak bisa memberikan klarifikasi, apalagi beritanya dengar azan di bulan), dll yang sejenis.

Sadarilah bahwa sampai kapanpun Islam akan berjaya, tanpa perlu didukung oleh tokoh-tokoh terkenal. Umat muslim tidak perlu PBB, Wong Fei Hung, Neil Armstrong untuk meyakinkan bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Percayalah, nama Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat Islam sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan jika terlalu mudah menyebarkan apa yang diterima.

Al-Qur’an serta apa yang disampaikan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mukjizat tanpa perlu dibuktikan oleh ilmuwan, bahkan walaupun sepintas berbeda dengan kenyataan. Kenapa? karena ilmu kita terbatas, sehingga apa yang menurut kita kenyataan belum tentu itu kebenaran. Maka lebih baik diam karena takut kebenaran yang kita sampaikan adalah kesalahan, daripada berbicara menyebarkan kebenaran, tetapi kenyataannya hanyalah kepalsuan.

Ada lagi kisah yang sebenarnya benar akan tetapi dibumbui dengan kebohongan untuk menjustifikasi kebenaran, sebut saja kisah-kisah yang menyulut emosi seperti: Derita Muslim Aleppo, Derita Muslim Palestina, Pembakaran Masjid Tolikara, Kekejaman Myanmar terhadap Muslim Rohingya, dll. Untuk penggalangan dana ataupun untuk menyemangatkan manusia banyak sebagian pihak yang menambahkan dan menyisipkan di dalam berita tersebut tambahan-tambahan yang dibuat-buat, misalnya foto-foto bencana alam yang mengakibatkan kematian manusia dengan berserakan, lalu ditulis judulnya pembantaian Aleppo, bukankah berita yang jelas asal-usulnya sudah cukup untuk membuktikan kejahatan kaum kuffar tersebut, kenapa harus ditambah dengan berita-berita yang HOAX.

Ada lagi berita-berita tentang penghinaan-penghinaan kuffar terhadap Islam seperti foto orang menginjak Al-Qur’an, karikatur nabi, dll yang sebenarnya sudah diberantas belasan tahun yang silam, kemudian sengaja dibangkitkan dan disebarkan lagi di media masa seolah-olah ini adalah berita yang hangat, bukankah menyimpan dan menyebarkan foto itu sama saja dengan menyebarkan syi’ar penghinaan terhadap Islam.

Maka, dari itu hendaknya kita lebih berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu, walaupun tujuannya baik, tetapi jika dengan kebohongan mengatasnamakan agama tetap saja itu adalah hal yang sangat berbahaya, tak heran jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sering sekali mengingatkan dalam haditsnya hingga dihitung mencapai jumlah yang mutawatir :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim)

Mungkin karena banyaknya Hoax yang mengatasnamakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun juga berulang kali mengingatkan dan menyampaikan ke banyak orang hingga jumlah yang mutawatir.

Sejak kemajuan teknologi, banyak HOAX yang tersebar di masyarakat, tetapi yang memprihatinkan adalah banyak pula HOAX yang mengatasnamakan Islam, menghadapi hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan sebuah fatwa tentang masalah penyebaran berita bohong alias hoax ini. Fatwa itu dikeluarkan komisi fatwa MUI pada 13 Mei 2017.

Dalam fatwa ini tertulis jelas bahwa dalam firman  Alllh Subhanahu wata’ala, diperintahkan pentingnya tabayyun (klarifikasi) ketika memperoleh informasi. Seperti di dalam Al-Quran:

 

يَاأَيُّهَاالَّذِ ينَ آمَنُواإِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُواأَن تُصِيبُواقَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُواعَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Alloh Subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنتَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاتَعْلَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Alloh Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Dalam fatwa tersebut, MUI mengharamkan setiap  muslim yang menggunakan media sosial untuk melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan. Juga diharamkan untuk bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar SARA. Haram juga bagi seorang muslim untuk menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.

 

Share this