0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MENGENAL ORIENTALISME

Mas Hasan Biqi Muhammad

Apa itu Orientalisme?

Orientalisme secara lughowi berasal dari kata orient  yang bermakna ‘ketimuran’. Adapun secara istilah –sebagaimana yang ditulis oleh Pemikir Islam, Sayyid Muhammad Wadhih An-Nadwi- adalah sebuah gerakan ilmiyah yang diprakasai oleh pemikir Barat untuk mengkaji keilmuan timur (Dunia Islam atau Dunia Arab) dengan tujuan yang bersifat agamis atau politis.

Kapankah awal mula munculnya Orientalisme?

Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, namun menurut mayoritas pakar peneliti bahwa Orientalisme dimulai pada abad ke-7 Hijriyah, meski majhudat syakhsyiyah (usaha individu) telah dimulai beberapa abad sebelumnya. Adalah Gerbert D. Aurillac (938-1003 M), seorang pendeta yang kemudian diangkat menjadi Paus tertinggi di Gereja Roma dianggap sebagai orientalis pertama dengan gelar “Silvestre Tsani” yang mulai menekuni keilmuan timur yang dia pelajari dari Ulama’ dan para pakar Islam.

Namun Orientalisme sebagai ‘gerakan ilmiyah’ yang memiliki berbagai tujuan khusus  ( diantara tujuan inti nya yaitu mendalami keilmuan Islam untuk kemudian digunakan sebagai senjata guna menyerang Islam itu sendiri) dimulai pada masa Perang Salib (1097-1295 M) yakni pada abad 13 Masehi.

Apa Target dan Tujuan Gerakan Orientalisme ?

Ada berbagai macam target Orientalisme. Di antaranya:

1. Target yang bersifat Agamis

– Memasukkan keraguan dalam diri umat Islam akan keabsahan Risalah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus mengklaim bahwa Hadits-Hadits Nabi adalah buatan Ulama’ Islam di tiga abad pertama Islam.

– Menyerang kesakralan dan kevalidan kitab suci  Al-Qur’an.

– Merendahkan nilai dan keagungan Fiqh Islam dengan menumbuhkan anggapan bahwa Fiqh Islam hanyalah jiplakan hukum Romawi.

– Mengecilkan dan meremehkan peran dan kehebatan Bahasa Arab.

– Melemahkan rasa solidaritas dan persaudaraan antar Umat Islam.

– Dan Lain-lain.

2. Target Politis

– Para Orientalis menginginkan agar Budaya dan Peradaban Timur dan Islam berada di bawah kendali orang-orang Barat.

3. Target Ekonomis

– Kitab dan buku-buku yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan ketimuran dan Islam cukup banyak diminati oleh orang-orang Barat dan Timur yang tunduk kepada Penjajahan Barat.

4. Target Ilmiyyah

– Sebagian para peneliti mengungkapkan bahwa di antara pegiat Orientalisme terdapat sebagian yang memang murni hendak mengkaji dan mendalami keilmuan Islam dan Timur tanpa ada maksud lainnya.

Oleh karena itu, Pegiat Orientalisme terbagi menjadi beberapa macam; ada yang murni faktor agama, murni kajian ilmiyyah, murni politik, murni factor ekonomi dan lainnya. Namun secara garis besar, Tokoh Orientalisme hanya ada dua. Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa nama tokoh Orientalis dengan dibagi menjadi dua macam :

 

  1. Orientalis Munshif (Jujur dan Obyektif)

 

– Hardian Ronald (w. 1719 M), Guru besar Bahasa Syarqiyah (Bahasa Arab) di Belanda. Pada tahun 1705 M menyusun kitab “Ad-Diyanah Al-Muhammadiyah” dalam bahasa latin.

– Johan Reiske (w. 1774 M), Orientalis Jerman pertama.

– Silvestre de Sacy (w. 1838 M), seorang cendikia yang fokus dalam bidang Adab dan Nahwu. Dia menjadikan kota Paris sebagai Pusat Kajian Islam.

– Thomas Arnild (w.1930 M), Orientalis dari negri Elizabet (Inggris). Cukup populer dengan bukunya “Ad-Da’wah ila Al-Islam.”

– Gustave le Bon (w. 1931 M), seorang filosof materialistik. Dia mengakui kehebatan dan kelebihan Islam meski tidak percaya dengan kebenaran seluruh Agama.

– Sigrid Hunke (w. 1999 M). Dia mengakui kelebihan peradaban Arab (Islam) di atas peradaban Barat melalui bukunya “Syamsu Al-Arab Tastho’u ala Al-Ghorb.”

 

  1. Orientalis Muta’asshib (Fanatik buta/tidak jujur)

– Goldziher (w.1920 M), Seorang Yahudi tulen. Di antara karyanya “Tarikh Madzahib At-Tafsir Al-Islami.”

– John Maynard. Ilmuan Amerika. Editor dalam Majalah “Ad-Dirosat Al-Islamiyyah.”

– S.M. Zweimer. Orientalis sekaligus Misionaris. Pendiri Majalah “Al-Alam Al-Islami.”

– G. Von Grunbaun. SeorangYahudi Jerman. Di antara karyanya “Al-A’yad Al-Muhammadiyyah” dan “Dirosat fi Tarikh At-Tsaqofah Al-Islamiyyah” terbit pada tahun 1954 M.

– A. G. Wensink. Cendikia Barat yang sangat memusuhi Islam. Menulis buku “Aqidatul Islam”

– Dan lain-lain.

Referensi :

Al-Ghozwu al-Fikri, karya Syaikh Muhammad Wadhih Rosyid al-Hasani an-Nadwi.

Share this