ISLAM AJARKAN RADIKALISME, FAKTA ATAU PROPAGANDA ?
Idzharul Hasan
Media-media mainstream barat beberapa kali menuding bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan radikalisme kepada para pengikutnya. Bahkan tidak sedikit para intelektual di berbagai negara yang juga mempunyai pandangan demikian. Mereka mencitrakan Al-Qur’an sebagai kitab yang banyak berisi doktrin terorisme. Mirisnya, framing dari media-media itu juga dikuatkan oleh sempalan kelompok Islam radikalis yang mengatasnamakan “jihad” di dalam setiap aksi terornya. Bahkan, sering kali mereka menukil ayat Al-Qur’an dan Hadits, untuk kepentingan mereka yang sebenarnya hanya bersifat politis.
Terlepas dari segala kontroversi yang menyatakan bahwa hampir semua “aksi teror” yang sedang marak di jagat raya dan mengatas namakan Islam hanyalah sebuah rekayasa, sebenarnya tuduhan-tuduhan itu bisa dibantah dengan obyektif dan tidak perlu membuat teori konspirasi, jika kita mau membuka sedikit mata dan akal kita.
- KELOMPOK TERORIS, SAMA SEKALI TIDAK MEWAKILI ISLAM SECARA GENERAL
Mungkin para teroris yang mengaku “Islam” sering berdalih dengan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga mereka mengklaim bahwa apa yang sedang mereka kerjakan adalah bagian dari syari’at Islam. Padahal sesungguhnya, dalil yang mereka jadikan argumentasi untuk membenarkan aksi radikalnya, tidaklah substantif dengan isi ayat itu sendiri. Dan apa yang mereka perbuat, sama sekali tidak pernah dicontohkan atau difahami oleh ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah yang diakui otoritasnya oleh ummat muslim seluruh dunia.
Sebagai contoh, berikut ayat yang sering mereka jadikan dalih untuk “membenar-benarkan” aksi radikalnya :
Surat Muhammad ayat keempat yang berbunyi :
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاق (محمد : ٤)
Artinya : “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka”
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (التوبة : ٣٦)
“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertakwa.”
Kedua ayat itu jika hanya dibaca sepotong, memang terkesan ekstrim, dan seakan-akan melegalkan pembunuhan orang-orang yang tidak seagama secara masal. Padahal jika kita melihat kelanjutan ayatnya, maka kita akan mengetahui bahwa ayat itu hanya diterapkan dalam konteks peperangan. Bukan dalam keadaan damai. Sebagaimana ayat keempat pada surat Muhammad :
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (محمد : ٤)
Artinya : “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allao menghendaki, niscaya Alloh akan membinasakan mereka, tetapi Alloh hendak menguji sebagian dari kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid di jalan Alloh, (maka) Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”
Jika ayat di atas diterapkan dalam kondisi damai, maka akan menimbulkan kontradiksi antara awal dan akhirnya. Karena perintah pertama adalah, membunuh semua orang kafir, siapa pun dan di manapun kita bertemu. Sedangkan kalimat selanjutnya, memerintahkan untuk menjadikannya tawanan. Berarti perintah membunuh di awal ayat, tidaklah bersifat mutlak. Bahkan kalimat setelah itu, orang Islam diberi pilihan oleh Alloh, antara boleh membebaskan secara gratis, atau bebas dengan tebusan. Dan di akhir ayat tersebut dijelaskan secara gamblang, bahwa perintah membunuh orang-orang kafir berlaku dalam konteks peperangan.
Pun jika kita merujuk pada penjelasan para Ulama dalam tafsir-tafsir yang mu’tabar madzhab Ahlussunnah Waljamaah, seperti tafsir Ibnu Katsir, pada surat Muhammad ayat 4 :
ثُمَّ أَنْتُمْ بَعْدَ انْقِضَاءِ الْحَرْبِ وَانْفِصَالِ الْمَعْرَكَةِ مُخَيَّرُونَ فِي أَمْرِهِمْ، إِنْ شِئْتُمْ مَنَنْتُمْ عَلَيْهِمْ فَأَطْلَقْتُمْ أُسَارَاهُمْ مَجَّانًا، وَإِنْ شِئْتُمْ فَادَيْتُمُوهُمْ بِمَالٍ تَأْخُذُونَهُ مِنْهُم (ج٧/ص٣٠٧)
Artinya : “Kemudian, setelah selesainya pertempuran dan berakhirnya perkelahian, (orang-orang muslim) diberi pilihan dalam urusan (tawanan perang) mereka. Mereka (orang-orang muslim) boleh membebaskan mereka (tawanan) secara geratis, jika mereka mau. Atau jika mereka mau, mereka boleh membebaskan tawanan dengan tebusan harta (yang diambil dari) harta-harta para tawanan tersebut”
Tafsir Al-Qurtubi pada surat At-Taubah ayat 36 :
كان الغرض بهذه الآية قد توجه على الا عيان ثُمَّ نُسِخَ ذَلِكَ
“Dahulu, ayat ini ditujukan untuk golongan tertentu. Kemudian, ayat ini dihapus (pengamalannya)”
Dari tafsir di atas, kita bisa melihat jelas bahwa kelompok sempalan Islam yang masih melakukan aksi teror (di luar wilayah peperangan), bukanlah termasuk golongan Islam Ahlussunnah Waljamaah, karena pemahaman mereka terhadap ayat Al-Qur’an tidaklah sama sebagaimana pemahaman para ulama Ahlussunnah Waljamaah. Sehingga interpretasi dan apa yang mereka terapkan dari ayat Al-Qur’an sangat menyimpang. Dan mereka sama sekali tidak bisa dijadikan icon untuk ummat muslim di seluruh dunia.
- CONTOH SIKAP / PRILAKU NABI TERHADAP ORANG KAFIR
Jika kita mau menengok zaman Nabi, maka kita akan melihat berapa banyak orang masuk Islam, bukan dengan kekerasan. Tetapi dengan kelembutan dan akhlak baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kisah semacam itu banyak diceritakan dalam hadits-hadits sohih. Alloh subhanahu wata’ala sendiri bahkan dalam surat at-Taubah ayat 6, memerintahkan baginda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melindungi orang kafir yang meminta perlindungan, dengan tujuan agar mereka mendengarkan keindahan Islam. Sehingga dengan demikian, ada harapan agar mereka masuk Islam :
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ (التوبة : ٦)
Artinya : “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Alloh, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengetahui (ajaran Islam)”
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (الممتحنة : ٨)
“Alloh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan, bahwa cara lembut seperti itu akan menjadi penyebab hidayah untuk orang-orang kafir.
Bahkan ada ancaman khusus bagi orang Islam, yang sengaja membunuh orang kafir mu’ahad / musta’man (orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan orang islam) :
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَد مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا (أخرجه البخاري : ١٣٢٧)
Artinya : “Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu sudah tercium dari perjalanan empat puluh tahun”
Wal hasil, sebenarnya anggapan bahwa kitab-kitab orang Islam telah mengajarkan radikalisme kepada pemeluknya, adalah propaganda musuh-musuh Islam, agar Islam tercitrakan buruk di mata dunia, sehingga membuat para simpatisan menjauh dari Islam.
- BANYAK RADIKALISME DI LUAR AGAMA ISLAM
Jika ada yang bertanya, apakah diluar Islam tidak ada teroris dan radikalis? Tentu jawabannya adalah “BANYAK”. Sudah ada riset dari berbagai jurnalis atau lembaga independen yang membongkar kedok propaganda terorisme disertai data-data yang valid, sehingga sulit untuk disebut “sekedar teori”.
Dalam bukunya yang berjudul “The Terror Factory : Inside the FBI’s Manufactured War On Terrorism” seorang jurnalis senior asal washington, Trevor Aaronson mengatakan bahwa ada taktik teror palsu yang sengaja dibuat untuk sebuah proyek. Dan uniknya lagi adalah, dalam bukunya itu, Aaronson memaparkan banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa FBI termasuk dalang dibalik sekian banyak aksi teror yang terjadi di Amerika.
Tetapi, point yang harus disepakati bersama adalah, terorisme bukanlah label untuk satu agama tertentu. Karena faktanya, terorisme juga banyak terjadi di berbagai tempat yang aktornya bukan dari orang muslim. Bahkan, ada aksi teror yang terjadi di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 50 orang, di mana ada seseorang membawa senjata dan masuk kedalam masjid, kemudian membantai muslim yang ada di dalamnya. Dan yang membuat tragedi ini sangat anti mainstream adalah, pelaku itu sendiri yang melakukan perekaman video dan ditayangkan secara live di facebook. Belum lagi tragedi-tragedi yang lain, seperti pembantaian ummat muslim di Rohingnya, di Palestina, di Afghanistan, yang mana korban dari semua tindakan radikal itu adalah ummat muslim.


