0 items in your shopping cart

No products in the cart.

NYOLAWAT DI GEREJA ADA DALILNYA, KATANYA

USTADZ IDZHARUL HASAN
Gus Sahal, seorang tokoh intelektual Islam Nahdliyin yang menjadi PCINU Amerika, dikenal sebagai Islam kiri melalui cuitan-cuitannya di medsos yang banyak menuai kontroversi. Twit kontroversial itu sering beliau arahkan kepada mereka para “Islam garis keras”, di mata beliau.

Beberapa waktu yang lalu, beliau menjadi pemateri di channel Youtube Cokrotv. Cokrotv adalah channel yang terkenal banyak diisi oleh politisi Islam kiri. Dalam mengkampanyekan pemikiran “liberalnya” beliau menyitir sebuah hadits Riwayat syaikh Ibnu Ishaq, kejadian saat Nabi menerima tamu dari kalangan Nasrani Najran.

وحدثني محمد بن جعفر بن الزبير، قال: قدموا على رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة فدخلوا عليه مسجده حين صلى العصر، عليهم ثياب الحبرات: جبب وأردية في جمال رجال بني الحارث بن كعب، قال: يقول بعض من رآهم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم: ما رأينا بعدهم وفداً مثلهم، وقد حانت صلاتهم، فقاموا في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلون، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: دعوهم، فصلوا إلى المشرق.

Dengan Riwayat tersebut, gus Sahal mengatakan bahwa mengizinkan orang Nasrani untuk masuk ke dalam masjid, dan mempersilahkan mereka melakukan kebaktian adalah salah satu bentuk toleransi yang diajarkan oleh Islam. Istidlal yang kemudian beliau ambil adalah; bolehnya orang Islam masuk ke gereja, sholat di dalamnya, mengikuti acaranya, termasuk membuat sholawatan di dalamnya. Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Bantahan :
Pertama-tama kita perlu membaca Riwayat tersebut secara lengkap, melihat status kesahihannya (karena ini menyangkut ahkam), setelah itu kita baru membahas komentar ulama mengenai Riwayat tersebut.

Utusan Nasrani Njaran.
وروينا عن أبي عبد الله الحاكم ، عن الأصم ، عن أحمد بن عبد الجبار ، عن يونس
بن بكير ، عن سلمة بن عبد يسوع ، عن أبيه ، عن جده – قال يونس – وكان نصرانيا
فأسلم – : إن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كتب إلى أهل نجران : “باسم إله
إبراهيم وإسحاق ويعقوب ، أما بعد : فإني أدعوكم إلى عبادة الله من عبادة العباد ،
وأدعوكم إلى ولاية الله من ولاية العباد ، فإن أبيتم فالجزية ، فإن أبيتم فقد آذنتكم بحرب ، والسلام”
عليهم كتاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وسألهم عن الرأي فيه ، فاجتمع رأي فقرأ -الى قوله-
أهل الوادي منهم على أن يبعثوا شرحبيل بن وداعة الهمداني ، وعبد الله بن شرحبيل
، وجبار بن فيض الحارثي ، فيأتوهم بخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم
فانطلق الوفد حتى إذا كانوا بالمدينة

Pertama-tama kita perlu memahami bahwa tujuan utusan Nasrani Najran datang ke Madinah adalah dalam rangka mengklarifikasi kenabian Nabi Muhammad shallAllohu ‘alaihi wasallam, sebab surat Nabi yang dikirim kepada uskup Najran (perlu diperhatikan pula redaksi surat Nabi kepada Nasrani Najran. Untuk kajian khusus mengenai surat ini, Alhamdulillah pernah kami bahas di al-Maktabah edisi ke-35).

Ketika mereka sampai di Madinah, dan saat itu bertepatan Nabi selesai shalat ashar, para utusan Nasrani ini ingin melakukan kebaktian dalam masjid, karena kebetulan hari itu adalah hari kebaktian mereka. Awalnya para sahabat ingin melarang mereka, namun kemudian Nabi mengatakan, “biarkanlah mereka”. Yang perlu diperhatikan di sini adalah konteks kedatangan Nasrani Najran sebagai delegasi. Dalam Islam, delegasi wajib dihormati -sebagai delegasi, bukan karena agamanya-.

Setelah mereka melakukan kebaktian dalam masjid, mereka memberi salam Nabi, namun Nabi tidak menjawab salam mereka lantaran pakaian yang mereka kenakan. Setelah mereka mengganti pakaian mereka, barulah Nabi berkenan berbicara kepada mereka.

Ringkas cerita, terjadi perdebatan antara utusan Najran dengan Nabi, hingga hampir terjadi Mubahalah. Dalam riwayat Imam al-Bukhari, sayyidina Hudzaifah meriwayatkan, “ada dua orang pembesar Najran, yaitu al-Aqib dan al-Sayid yang menantang Nabi saw. Untuk bermubahalah. Namun, salah satu dari keduanya agak khawatir atas ajuan tantangan tersebut. ‘Jangan, kalau Muhammad itu benar seorang Nabi, lantas kita bermubahalah dengannya, kita dan anak cucu kita akan binasa,’ kata salah satu dari keduanya”.

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan secara rinci riwayat-riwayat terkait peristiwa tersebut. Pada saat romobongan Nasrani Najran yang datang, Nabi saw. Mencoba mengajak mereka masuk Islam dan membacakan ayat Al-Qur’an. Namun mereka menolak dan menantang Nabi untuk bermubahalah. Tantangan mubahalah itu pun direspon oleh Nabi saw. secara tegas. Jika mubahalah itu terjadi, Nabi saw. Sudah bersiap-siap mengikutsertakan sayyidah Fatimah, sayyidina Ali, Hasan, dan Husain radhiyAllohu ‘anhum. Namun, respon Nabi saw. Mengenai mubahalah itu tidak mendapat jawaban dari Nasrani Najran, bahkan mereka taslim kepada Nabi dan akhirnya memilih membayar jizyah (pajak).

وروى البيهقي بإسناد صحيح إلى ابن مسعود ، أن السيد والعاقب أتيا رسول الله –
صلى الله عليه وسلم ، فأراد أن يلاعنهما ، فقال أحدهما لصاحبه : لا تلاعنه ، فوالله
إن كان نبيا فلاعنته لا نفلح نحن ، ولا عقبنا من بعدنا ، قالوا له : نعطيك ما سألت

Di Riwayat yang lain, dalam Dala’ilun Nubuwwah milik imam Baihaqi, sebagian utusan sudah yakin bahwasanya Nabi Muhammad adalah benar-banar Nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, namun mereka enggan untuk mengikutinya, karena khawatir jabatan mereka akan dicopot oleh petinggi-petinggi Najran.

فقال له أبو حارثة : بل أنت تعست ، فقال له : ولم يا أخ ؟ فقال : والله إنه للنبي الذي كنا ننتظر ، قال له كوز : فما يمنعك وأنت تعلم هذا ؟ قال : ما صنع بنا هؤلاء القوم ، شرفونا ومولونا وأكرمونا ، وقد أبوا إلا خلافه ولو فعلت نزعوا منا كل ما ترى

Dari kisah lengkap di atas, ada beberapa point yang perlu digaris bawahi:

Tujuan kedatangan Nasrani untuk mengklarifikasi, bahkan bermujadalah dengan Nabi. Bukan dalam rangka menjalin hubungan kerjasama

Mereka datang sebagai delegasi. Dan sudah menjadi tradisi di Arab, untuk memuliakan seorang delegasi karena statusnya sebagai delegasi, bukan toleransi terhadap agamanya.

Nabi tidak menjawab salamnya, bahkan awalnya beliau tidak mau diajak bicara

Terjadi perdebatan sengit hingga hampir diadakan mubahalah (saling laknat)

Nabi mengajak mereka masuk Islam. Artinya, beliau tetap menyatakan ingkar terhadap agama mereka meskipun Nabi sempat membiarkan mereka melakukan kebaktian
Mereka pada akhirnya membayar jizyah

Derajat Hadits.

Jika kita mentakhrij hadits ini dengan metode ke-6, maka kita akan banyak menemukan Riwayat ini dalam kitab-kitab Siroh, Tafsir, dll. Sepanjang pencarian kami, Riwayat ini memiliki tiga jalur sebagai berikut:

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Ishaq, at-Thabari, ats-Tsa’labi, melalui jalur Muhammad bin Ja’far, yang merupakan seorang Tabi’ut Tabi’in. “Beliau berada di tobaqoh keenam, dan bertemu dengan tobaqoh kelima. Dan tidak ada kepastian beliau bertemu langsung dengan salah seorang sahabat pun”. Demikian yang dikatakan imam Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzib.

Dengan begitu, Muhammad bin Ja’far meriwayatkan kisah ini tanpa perantara seorang tabi’in dan sahabat. Artinya, ada dua perawi yang dibuang, sehingga jalur ini bisa dikatakan sebagai Mu’dhal. Hadits Mu’dhal dihukumi dha’if.

Imam Tsa’labi dalam tafsirnya meriwayatkan kisah ini melalui jalur yang lain, yaitu Muhammad bin Marwan as-Suddy as-Soghir. Namun jalur ini bermasalah karena beliau adalah seorang rawi yang banyak di-Jarh oleh ulama Jarh wa Ta’dil.

قال فيه البخاري في “الضعفاء الصغير” (340) ” سكتوا عَنهُ لَا يكْتب حَدِيثه أَلْبَتَّة “. اهـ ، وقال النسائي في “الضعفاء والمتروكون” (538) :” متروك الحديث “.اهـ ، وقال أبو حاتم كما في “الجرح والتعديل” (8/86) :” ذاهب الحديث متروك الحديث لا يكتب حديثه البتة “. اهـ ، وقال ابن حبان في “المجروحين” (2/286) :” كَانَ مِمَّن يروي الموضوعات عَن الْأَثْبَات لَا يحل كِتَابَة حَدِيثه إِلَّا عَلَى جِهَة الِاعْتِبَار وَلَا الِاحْتِجَاج بِهِ بِحَال من الْأَحْوَال “. اه

Lagi-lagi imam Tsa’labi meriwayatkan kisah ini dengan jalur lain. Kali ini beliau meriwayatkannya melalui Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, dari ayahnya, dari Rabi’ bin Anas. Yang pertama hadits ini munqathi’, karena beliau adalah seorang Tabi’in. Rabi’ bin anas pula seorang yang bermasalah, beliau dianggap sering meriwayatkan hadits yang Mudtharib.

قال ابن حبان في “الثقات” (4/228) في ترجمة الربيع بن أنس : وَالنَّاس يَتَّقُونَ حَدِيثه مَا كَانَ من رِوَايَة أَبِي جَعْفَر عَنهُ لِأَن فِيهَا اضْطِرَاب كثير
Walhasil, dari ketiga jalur yang ada, riwayat ini bermasalah. Banyak ulama yang menganggap riwayat ini cukup dijadikan I’tibar, bukan Ihtijaj.

Menarik Simpati, Agar Mereka Tidak Lari dari Islam

Sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari milik beliau, bahwasanya Nabi memberi izin kepada mereka untuk melakukan kebaktian di masjid, dalam rangka menarik simpati mereka. Harapan Nabi, mereka nantinya akan tertarik dengan Islam selepas mereka berdiskusi dengan Nabi.

يحمل على أن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تألفهم بذلك في ذلك الوقت استجلابا لقلوبهم، وخشية لنفورهم عن الإسلام، ولما زالت الحاجة إلى مثل ذلك، لم يجز

Banyaknya Dalil Lain yang Menguatkan Adanya Larangan

Banyak dalil menunjukkan larangan membiarkan orang musyrik masuk ke masjid, kecuali ada keperluan dan telah mendapatkan izin dari umat Islam. namun jika melakukan ritual kemusyrikan, belum ditemukan satu pendapat pun dari Madzahib al-Arba’ah akan kebolehannya. Berikut dalil-dalil yang menguatkan larangan tersebut:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
الْمَعْنَى: أَفْرِدُوا الْمَسَاجِدَ لِذِكْرِ اللَّهِ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا هُزُوًا وَمَتْجَرًا وَمَجْلِسًا، وَلَا طُرُقًا، وَلَا تَجْعَلُوا لِغَيْرِ اللَّهِ فِيهَا نَصِيبًا

Makna ayat tersebut adalah, “Khususkanlah masjid-masjid untuk mengingat Alloh, jangan kalian jadikan masjid sebagai tempat sendagurau, tempat berniaga, tempat nongkrong, jalan pintas, dan jangan kalian beri tempat untuk (penyembahan) selain Alloh”.

شرط عليهم عمر – رضي الله عنه – عند عقد الذمة إخفاء دينهم، ومن جملته ألا يرفعوا أصواتهم في الصلاة، ولا القراءة في صلاتهم فيما يحضره المسلمون “. اهـ

“Sayyidina Umar mewajibkan kafir dzimmi untuk menyembunyikan identitas agamanya (tidak boleh disyi’arkan). Termasuk dilarang mengeraskan suara mereka tatkala sedang melakukan ibadah, juga dilarang membaca sesuatu dalam ibadahnya yang di situ terdapat seorang muslim”

لما روى عياض الأشعري : أن أبا موسى قدم على عمر ومعه نصراني، فأعجب عمر خطه وقال : قل لكاتبك هذا يقرأ علينا كتابه . قال : إنه لا يدخل المسجد . قال : لم ؟ أجنب هو ؟ قال هو نصراني . فانتهره عمر ولأن الجنب يمنع المسجد ؛ فالمشرك أولى

“Yang diriwayatkan oleh ‘Iyadh al-Asy’ari: Sesungguhnya Abu Musa menghadap sayyidina Umar bersama dengan seorang Nasrani. Sayyidina Umar suka dengan tulisannya. Maka beliau mengatakan, “Katakanlah kepada sekertarismu untuk membacakan tulisannya kepada kami”, maka sayyidina Abu Musa mengatakan, “Ia tidak dapat masuk masjid”, sayyidina Umar bertanya, “Mengapa demikian? Apakah ia sedang junub?”, sayyidina Abu Musa menjawab, “Ia seorang Nasrani”. Sayyidina Umar pun membentak Abu Musa sebab jika seorang muslim yang junub saja tidak boleh masuk masjid, maka seorang musyrik lebih utama ketidakbolehannya”

عن عُمَر بْن الْخَطَّابِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: [لَأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ، وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ حَتَّى لَا أَدَعَ إِلَّا مُسْلِمًا]

Dari sayyidina Umar bin al-Khattab, beliau mendengar Nabi shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh aku ingin mengusir Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, sehingga yang tersisa di Jazirah Arab hanyalah orang-orang muslim” (Sahih Muslim)

Natijah

Berdasarkan kajian singkat di atas, dapat kita pahami bahwa Istidlal sekalugus Ihtijaj Gus Sahal mengenai kebolehan Nyolawat di gereja keliru berdasarkan Natijah berikut:

Riwayat lengkapnya sama sekali tidak menggambarkan konteks kebolehan orang kafir melakukan kebaktian di masjid. Apalagi riwayat ini dikaitkan dengan pengadaan acara sholawatan di gereja.

Kalaupun secara Mafhum riwayat ini dapat di-tandzirkan dengan pembuatan acara sholawatan di gereja, derajat hadits ini lemah, sehingga tidak layak dijadikan sebagai Ihtijaj, apalagi Ihtijaj yang berupa Mafhum.

Banyaknya riwayat Sahih lain yang secara sorih menunjukkan sebaliknya.

Share this