NGAJI KE BARAT, KEMEROSOTAN ATAU KEMAJUAN
Ustadz idzharul hasan
Dahulu hubungan antara umat Islam di Indonesia dengan negeri-negeri Timur sangatlah erat. Di awal abad ke-15 hingga abad ke-19, semua Santri dari Nusantara yang ingin melanjutkan studi agama Islam ke luar negeri akan merujuk ke negeri-negeri Islam. Sehingga tidak heran kala itu banyak ulama-ulama Nusantara yang namanya harum di Timur tengah, khususnya Hijaz. Di akhir abad ke-19, banyak pelajar agama yang minatnya untuk melanjutkan studi ke daerah Hijaz menurun, disebabkan berubahnya corak keagamaan Hijaz yang didominasi oleh kelompok Wahabi.
Sekitar tahun 1950-an, mulai ada arah baru dalam studi agama para pelajar Indonesia. Pemerintah Indonesia memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi agama di universitas Barat. Universitas seperti Bonn University, McGill University, University of Leiden, Chicago University, Melbourne University, dan Hamburg University menjadi universitas yang secara mengejutkan memamerkan fakultas agama Islam. Saat itu, tiga orang mahasiswa Indonesia pertama yang dikirim oleh pemerintah untuk ngaji ke Barat adalah ; Harun Nasution, Mukti Ali, dan Rasjidi. Mereka dikirim untuk belajar di McGill Institute of Islamic Studies (MIIS), Kanada, hasil dari program kerjasama antara Indonesia dan Kanada.
Kemudian antara tahun 1983-1993, telah dikirim sekitar 200 sarjana IAIN ke berbagai universitas di Barat. Pada saat itu, Indonesia diharapkan mempunyai 34 doktor dan 88 master di bidang keagamaan. Subhanallah.
Kompilasi Metodologi, Sebuah Kemajuan atau Kemerosotan?
Di Barat tidak hanya menggunakan metodologi studi Islam klasik (salaf). Studi Islam di Barat mengkompilaskan antara metode ilmu sosial seperti sosiologi, histori, dan psikologi dengan metode ulama Islam. Dari sini terlihat bahwa pemahaman Islam yang diambil dari Barat adalah pemahaman gado-gado.
Barat juga masih menggunakan tradisi Orientalis warisan leluhur mereka dalam mempelajari Islam. Orientalis mempelajari Islam bukan dalam rangka mencari kebenaran. Orientasi para Orientalis ini bermacam-macam. Ada Orientalis yang tujuannya memang untuk mencari kelemahan Islam dan ada yang bertujuan mengkaji dalam rangka membandingkan. Belajar agama dengan menggunakan framework (cara pandang) Orientalis ini membuat seorang Muslim sangat kritis terhadap tradisi intelektual Islam, tetapi sebaliknya, mereka apresiatif (menjunjung tinggi) tradisi intelektual Barat.
Barat menginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana Barat memahami Islam. Di sinilah Islam dipelajari secara tekstual, tidak disertai dengan iman dan takwa. Artinya, karena Islam tidak dipelajari berdasarkan iman, maka bertambahnya ilmu (teks) tidak otomatis menjadikan bertambahnya iman dan takwa. Ini jelas bertentangan dengan tujuan belajar ilmu agama itu sendiri.
Cara mempelajari Islam seperti ini dapat merubah sekaligus merusak cara pandang orang terhadap Islam. Perubahan cara pandang ini pada akhirnya berkonsekuensi pada banyak hal, termasuk merubah cara berfikir dan merubah cara berislam orang yang bersangkutan.
Fenomena belajar agama di Barat merupakan fenomena merosotnya keilmuan Islam. Bagaimana mungkin seorang muslim belajar Al-Qur’an dan Hadits dari orang yang sedang junub, bahkan mungkin tidak beristinja’ dengan benar? Mempelajari fikih misalnya, namun tidak mengimplementasikan syari’at Islam. Mempelajari tafsir, namun kepada orang yang tidak iman terhadap Kalamullah. Lahaula wala Quwwata illa Billah.
Oleh-oleh yang pada akhirnya mereka dapatkan setelah nyantri di Barat adalah rasa skeptis (keraguan) terhadap pendapat ulama-ulama salaf. Apalagi kalau yang bersangkutan ini jahil mengenai agamanya sendiri (tidak memiliki basis agama yang kuat) dan buta akan tradisi intelektual Islam, maka sudah pasti merasa minder dengan metodologi ilmiah Barat, sehingga mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat. Inilah yang disebut dengan fenomena belajar Islam, namun tidak menambah keyakinan, justru menambah keraguan.
Etika Ulama’ Salaf dalam Menuntut Ilmu
Fenomena di atas sangatlah kontras dengan keadaan Ulama-ulama Islam zaman dahulu, di era keemasan keilmuan Islam. Kala itu ulama-ulama Islam begitu menjaga tradisi sanad keilmuan. Mereka benar-benar menghindari mengambil ilmu dari guru yang tidak menjaga muru’ah. Jangankan dari seorang alim yang fasik, ulama-ulama dahulu enggan untuk belajar dari orang alim yang tidak menjaga kehormatan diri mereka. Dalam tradisi ilmu riwayat, keadaan seorang syaikh sangat dipertaruhkan bagi riwayat seorang murid.
Ulama zaman dahulu bahkan menganggap ilmu ini sebagaimana agama. Sehingga, posisi guru sama seperti orang yang kita mengambil agama dari mereka. Dalam sahih Muslim, imam Muhammad Ibnu Sirin mengatakan :
عن محمد بن سيرين قال: إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah (berhati-hatilah) kepada siapa engkau mengambil agamamu”. (Sahih Muslim).
Sanad tidak hanya dibutuhkan untuk riwayat yang berupa teks, namun sanad juga dibutuhkan dalam interpretasi. Banyak sekali kita jumpai riwayat yang Sahih, namun tidak disertai dengan interpretasi yang Sahih, karena tidak memiliki sanad interpretasi. Dari dulu, interpretasi yang tidak Sahih pun ditolak meski tampak lebih rasional.
Dalam keilmuan Islam, spiritual (rohani) seorang guru dan murid sangat menentukan pemahaman sekaligus keberkahan ilmu yang dicari. Bahkan dalam Islam, kekuatan intelektual dan spiritual memiliki porsi yang sama dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Mustahil seseorang memahami Kalamullah dan hadits Nabi tanpa iman, karena tujuan belajar ilmu agama adalah bertambahnya ketakwaan.
Mereka yang belajar ilmu agama dari Barat jelas tidak memahami esensi ilmu agama, karena mereka tidak memenuhi kriteria di atas. Ilmu agama bukanlah sekedar teks yang dipahami secara tekstual. Ilmu agama memiliki ruh yang hanya bisa didapatkan dari guru yang salih, wara’ dan ikhlas. Inilah faktor mendasar yang membedakan antara ilmu agama dengan ilmu-ilmu yang lain. Jika keberhasilan seorang pelajar agama diukur dari teks, maka banyak Orientalis yang bisa dikategorikan sukses. Padahal Orientalis yang dahulu mengkaji keilmuan Islam hingga menulis buku mengenai ushul fikih, nahwu, hadits, bahkan tasawwuf, banyak justru dari kalangan Orientalis pembenci Islam. Ini bukti bahwa memahami teks bukanlah esensi dari mempelajari ilmu agama.
Mereka, Jika Dibandingkan dengan Lulusan Pesantren
Lulusan pesantren memang tidak memiliki gelar akademik, namun lulusan pesantren tidak kalah secara kompetensi. Sudah banyak bukti yang memperlihatkan bahwa lulusan pesantren tidak kalah kapasitas keilmuan dibandingkan dengan ustadz jebolan Barat. Banyak acara seminar, talk show, bahkan sesi debat terbuka yang mempertemukan antara lulusan pesantren tulen dengan para sarjana Barat. Secara menakjubkan, lulusan pesantren mampu mengimbangi materi yang dibawakan oleh sarjana-sarjana Barat tersebut, bahkan terkesan lebih unggul.
Dari sisi keilmuan, lulusan pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun ironisnya, negara belum imbang dalam memandang dua lulusan ini. Alumni pesantren selalu dianaktirikan jika bersandingan dengan sarjana Barat yang sama-sama mengkaji agama Islam. Padahal jika kita melihat secara komprehensif, tentu lulusan pesantren lebih layak untuk memegang amanah keagamaan jika dibandingkan dengan sarjana Barat. Secara lingkungan, Santri hidup di lingkungan Islami, jauh dari suasana kesyirikan sehingga pikiran masih steril dari kontaminasi pemikiran syirik. Dari segi kematangan Santri mengkaji agama mulai dari dasar, sehingga pengetahuannya mengenai agama jauh lebih matang. Dari segi guru, Santri berguru dengan ulama-ulama salih yang memiliki sanad keilmuan, tidak hanya diajarkan teks ilmu tapi juga diajarkan ruhnya ilmu. Santri juga senantiasa diajarkan untuk menjunjung tinggi sunnah Nabi, para sahabatnya, dan Ulama’ salafussalih.
Dengan begitu, Santri lah yang paling layak untuk disebut sebagai pelajar agama yang sesungguhnya. Bukan alumnus Barat yang cacat tahammulnya (pengambilan ilmunya), baik dari segi suasana, tempat, sejarah, hingga pengajar di Barat, semuanya bisa dikatakan cacat.
Antara Mencari Ilmu dan Mencari Makan
Fenomena suburnya Ustadz jebolan Barat ini bukan tanpa Iming-iming. Biaya kuliah di Barat sangat mahal jika dibandingkan dengan belajar di timur tengah. Santri yang masih normal mustinya enggan untuk merogoh kocek sebesar itu, disamping Barat adalah tempat yang sama sekali tidak layak untuk menjadi rujukan keilmuan Islam.
Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, lulusan Universitas Birmingham Inggris, mengatakan penyebab para mahasiswa Indonesia mengambil studi Islam ke Barat bukan semata-mata karena minat, tetapi lebih karena adanya peluang beasiswa yang ditawarkan. “Dana yang disediakan untuk belajar Islam di sana mengalir deras. Jadi (mereka mau belajar ke Barat) karena ada kemudahan-kemudahan”.
Banyak pelajar Indonesia di Barat mengaku mendapatkan uang saku sebesar 870 Euro (sekitar Rp 10 juta) per bulan. Namun, itu belum seberapa dibandingkan dengan mahasiswa lain yang mendapatkan nominal jauh lebih tinggi. Maka tak heran jika banyak pelajar Islam Indonesia berbondong-bondong mengaji ke Barat.
Kontribusi Mereka untuk Umat
Maraknya Santri alumnus Barat tidak memberi kontribusi apa pun bagi umat selain memunculkan keraguan terhadap Al-Qur’an dan Hadits, mengesampingkan ulama salaf yang sangat dihormati oleh umat, mengkotak-kotakkan umat Islam, dan berbagai mudhorot yang lain. Banyak alumnus Barat yang pulang ke Indonesia justru membawa gaya pemikiran liberal-sekuler.
Sejujurnya, ada beberapa lulusan Barat yang mereka kebal terhadap virus para Orientalis karena memang telah mempersiapkan diri secara akidah. Setelah lulus dari Barat, alumnus Barat garis lurus menemukan sesuatu yang berharga bagi dunia Islam, yaitu mengetahui bagaimana metodologi Barat beserta dengan kelemahannya dalam menggencarkan hegemoninya di dunia Islam, bukan malah menjadi pengeras suara Barat dalam mendiskreditkan Islam. Namun sejauh ini, alumnus Islamic Studies yang mampu berperan membawa umat Islam menuju kebangkitan melawan hegemoni dan berbagai tipu daya Barat dapat dihitung jari. Alumnus Islamic Studies di Barat umumnya cenderung radikal dalam wacana pemikiran, menuduh siapa saja yang tidak sesuai dengan cara pandang mereka (Barat) sebagai kelompok radikal atau fundamentalis. Sehingga kehadiran mereka bukan dalam rangka mempersatukan umat, namun memecah belah umat. Alih-alih memakmurkan Indonesia, yang terjadi adalah semakin banyak kelompok Islam ekstrem kiri yang alergi terhadap syari’at Islam di Indonesia.
Tatimmah
Secara global, Islam memiliki tiga komponen ilmu yang harus dimiliki oleh setiap pelajar muslim. Yang pertama adalah akidah. Akidah adalah dasar yang paling krusial dalam Islam. Mengambil ilmu Islam kepada orang yang secara akidah sudah menyimpang, adalah sebuah kekeliruan yang fatal dan tidak dapat ditoleransi. Kemudian ilmu fikih. Islam memiliki literatur fikih yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, yang hanya bisa dipahami oleh seorang ulama yang bukan saja memiliki pemahaman yang luas terhadap Al-Qur’an dan Hadits, namun juga memiliki sifat wara’ dan takwa kepada Allah. Maka mempelajari fikih tanpa didasari ketakwaan merupakan sebuah kesalahan yang sangat fundamental. Yang ketiga tasawuf. Ilmu ini hanya bisa dipahami oleh orang yang sangat makrifat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mempelajari ilmu tasawuf dari orang yang latar belakangnya bukan ahli makrifat sama seperti belajar ilmu kedokteran kepada seorang petani.
Sebetulnya, jika Barat memang ingin mengkaji ilmu Islam, itu bukan suatu masalah. Karena jika Islam dipelajari secara obyektif, maka orang akan tau bahwa Islam adalah ajaran yang sangat jelas kebenarannya dan sangat rasional. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala secara terang-terangan berfirman dalam Al-Qur’an :
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
Gamblangnya konsep ketuhanan (akidah) Islam inilah yang dijadikan alasan oleh Allah melarang adanya pemaksaan agama. Sehingga tidak mengapa jika Barat memang ingin mengkaji Islam secara ilmiah. Urusan hidayah, itu terserah Allah. Namun dengan catatan, dikaji secara obyektif dan komprehensif. Tidak dengan mengkajinya atas dasar kebencian.
Yang kemudian menjadi masalah adalah, ketika ada orang Islam ikut-ikutan menyimak kajian mereka, di saat Islam masih memiliki ulama-ulama hebat. Seperti inikah yang dianggap sebagai suatu fenomena kemajuan? Inilah fenomena kemerosotan yang nyata. Wallahu’alam.

