0 items in your shopping cart

No products in the cart.

Diskon
Stock Terbatas Kualitas Terjamin

Sang Muassis Pondok Pesantren Al Fatah Temboro

Original price was: Rp50.000.Current price is: Rp43.000.

Di antara kebanggaan umat ini, ialah bahwa sejarah mereka dikodifikasi dan para tokohnya diriwayatkan biografinya. Sejarah Islam kaya dengan tokoh-tokoh yang tiada taranya dan ulama terkemuka, yang mempresentasikan keagungan Islam, dan membenarkan dakwah Nabi Sholollohu alaihi wasallam. Para ulama terkemuka adalah buah-buah yang baik lagi penuh berkah bagi dakwah islam yang abadi. Para tokoh yang terdidik dengan Islam, terbina untuk Islam. Melalui merekalah Alloh meninggikan panjinya, menjayakan syariatnya.

Sayyidina  Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Orang yang paling tinggi kedudukannya ialah orang yang berada di antara Alloh dengan para hambaNya, yaitu para Nabi dan Ulama”.

Tidak diragukan lagi bahwa mempelajari biografi ulama terkemuka dan orang-orang yang memiliki keutamaan menghasilkan sejumlah faedah, di antaranya, Mendidik para pemuda kebangkitan Islam sebagaimana para ulama terdidik, sehingga tersulam sesuai metode mulia, menempati tempat-tempat kebajikan dan memberikan kebaikan. Sehingga kisah hidup mereka bisa dibaca oleh orang yang tidak pernah melihat rupa mereka secara langsung, dan kebaikan-kebaikan mereka bisa disaksikan oleh orang yang tidak hidup semasa dengan mereka, lantas dia bersungguh-sungguh dalam pencarian agar bisa menyusul mereka dan berpegang teguh dengan petunjuk mereka.

BUKU tentang biografi ulama, telah banyak ditulis, baik oleh penulis dalam maupun luar negeri. Akan tetapi buku yang menceritakan tentang “Kisah perjalanan Hidup Romo Kyai Mahmud rohimahulloh” (SANG MUASSIS), baru pertama kalinya ditulis oleh Gus M. Hasan Biki Muhammad.

Buku yang menceritakan tentang perjalanan hidup Romo Kyai Mahmud ini diambil dari hasil wawancara penulis kepada beberapa tokoh yang hidup di zaman Romo Kyai Mahmud serta beberapa buku sejarah.  di mulai dari sejarah singkat peradaban Islam Karesidenan Madiun, dari Era Kerajaan Demak, Era Kerajaan Panjang, Era Kerajaan Mataram Islam, Sampai Era Pangeran Diponegoro. Dari ke-empat Era tersebut, Era Pangeran Diponegorolah yang paling berjasa dan berpengaruh membentuk peradaban Islam di wilayah Karasidenan Madiun. Selepas kekalahan pasukan Diponegoro dalam kancah pertempuran terhebat di tanah Jawa (The Java War atau Perang Jawa 1825-1830), maka sisa-sisa prajurit beliau (yang kebanyakan diisi oleh kaum santri dan Ulama) menyebar ke berbagai penjuru. Dan di antaranya ke wilayah Karesidenan Madiun dan di wilayah Ponorogo, khususnya Tegal Sari, mengingat Pangeran Diponegoro belajar agama, yaitu di bawah asuhan Kyai Ageng Muhammad Besari.

Tentu saja pesantren Temboro dan Muassisnya, Romo Kyai Mahmud tidak lepas dari silsilah barokah ini. Bila kita cermati nanti, sejarah beliau juga banyak berkaitan dengan para Kyai-Kyai Agung di Karesidenan Madiun, baik silsilah nasab, silsilah ilmu, maupun ruhiyah (tarekat).

Lanjut ke bagian selanjutnya, buku ini menjelaskan tentang tokoh pertama ‘pembabat’ desa Temboro, yaitu Mbah Sonto (Cucu dari Adipati Nrang Kusumo, salah satu Patih Mataram, yang pergi menghindar dari kejaran kolonial Belanda selepas sukses membunuh perwira VOC, Kapten Francois Tack), beliau termasuk leluhur dari para Masyayikh Darul Ulum Al-Fatah Temboro.

Mbah Sonto inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya desa Temboro, yang kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, Mbah Karyo sebagai lurah pertama desa Temboro. Mbah Karyo memiliki Putra bernama Mbah Hasan Munawwir, yang mana beliau menikah dengan Nyai Hasan Munawwir atau Nyai Bin. Dari pernikahan yang barokah tersebut, beliau dikaruniai beberapa Putra, di antaranya Mbah yai Siddiq. Banyak teladan yang bisa diambil dari seorang Mbah Yai Siddiq di antarnya adalah kegemaran beliau dalam berdzikir. Mbah Yai Siddiq menikah dengan Nyai Thohiroh/Robi’atun (Putri dari Kyai Zainal Musthofa, Santri Senior Kyai Rifa’i Nglengki). Dari pernikahan barokah tersebut, beliau dikaruniai Putra, di antaranya Mbah Kyai Mahmud.

Di pertengahan buku ini membahas tentang masa kecil dan Rihlah Ilmiyah serta Bai’at Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah Romo Kyai Mahmud, yang mana diceritakan bahwa beliau selalu mendapat prestasi terbaik di SR (Sekolah Rakyat). Setelah lulus dari sekolah tersebut, Kyai Mahmud muda melanjutkan perjuangan beliau dengan berangkat mondok ke Ngawi, tepatnya kepada Kyai Ghozali di desa Kerten. Kepada beliau, Kyai Mahmud mengkaji ilmu alat (Nahwu dan Fiqih) selama tiga tahun. Saat mengaji di Kerten, Kyai Mahmud dikenal sebagai santri yang rajin dan cerdas. Selepas menimba ilmu agama di Kerten, Kyai Mahmud melanjutkan rihlah ilmiyah-nya ke desa Mbacem, Madiun. Di pesantren ini, beliau banyak menghabiskan waktunya untuk berkhidmat kepada Syaikh Abu Amr, seorang sosok yang dikenal sebagai wali majdzub. Bahkan sampai saat ini, banyak kitab-kitab Syaikh Abu Amr yang masih tersimpan rapi di ndalem Kyai Mahmud.

Belum merasa puas dengan ilmu yang beliau miliki, Kyai Mahmud muda melanjutkan mondok ke salah satu pesantren tersohor di Jawa Timur kala itu, yaitu Ponpes Tremes, Pacitan. Di Tremas, beliau mengkaji kepada Syaikh Dimiyathi, adinda salah satu ulama tersohor Nusantara yang berdomisili di Makkah: Syaikh Mahfuz bin Abdillah al-Turmusi.

Pengembaraan Kyai Mahmud belum terhenti sampai di sini. Beliau pun melanjutkan dirosah-nya ke Maha Guru Jawa kala itu. siapa lagi kalau bukan Hadhrotus Syaikh Hasyim Asy’ari rohimahulloh. Di Tebu Ireng, beliau mempelajari Kutubul Hadist dan Literatur lainnya selama tiga tahun. Selepas menuntaskan pendidikan dan menimba ilmu di berbagai tempat ini, Kyai Mahmud pulang ke kampung kelahiran beliau, Temboro, Magetan.

Sebelum Kyai Mahmud Muda menikah, yaitu sekitar umur 19 atau 20 tahun, beliau berbai’at dan masuk pesulukan tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah di bawah bimbingan Syaikh Ghozali Kerten. Ada satu kisah yang kerap Kyai Mahmud ceritakan, termasuk kepada putra beliau, Kyai Umar Fathulloh adalah bahwa pernah suatu ketika kyai Ghozali tiba-tiba bertanya kepada Kyai Mahmud, “Yi kalau kamu nanti sudah dihormati oleh orang-orang, bagaimana perasaanmu? Maka Kyai Mahmud menjawab, “Jika memang begitu, maka hakikatnya mereka bukan menghormatiku, tapi menghormati engkau, yi”. Mendengar jawaban luar biasa dari muridnya, Kyai Ghozali pun sontak menjawab, “Oh, kalau begitu, kamu akan mondok terus”. Jawaban Kyai Ghozali ini pun diartikan Kyai Mahmud sebagai do’a untuk menjadi Kyai. Sebab makna Mondok terus adalah memiliki pesantren dan santri.

Lanjut ke bagian berikutnya, dari buku ini adalah menceritakan tentang pernikahan beliau dengan Bu Nyai Maslihah Binti Kyai Mahfudz yang merupakah wanita istimewa. Bagaimana tidak? Beliau mengumpulkan antara kemuliaan nasab, tingginya akhlak, kecerdasan dan amalan serta mujahadah yang luar biasa. Dari pernikahan yang barokah ini beliau dikaruniai Putra-putri yang luar biasa.

Di bagian terakhir dari buku ini adalah perjuangan pertama Romo Kyai Mahmud dalam mendirikan pesantren sampai akhirnya menjadi pondok pesantren yang sangat besar saat ini, dimulai dari rumah beliau sendiri yang beliau dapatkan dari pemberian sang Ayah, Mbah Yai Siddiq. Beliau bongkar untuk menjadi kamar santri, dan beliau membuat rumah sendiri untuk beliau tempati. Saat itu santri datang begitu saja tanpa ada prosedur apapun. Jika kamar yang mereka tempati penuh, maka mereka sowan untuk mengadu kepada Kyai, dan Kyai akan menjawab, “Oh iya, nanti kalau sudah panen, saya bangunkan kamar lagi’’. Demikianlah asas pondok pesantren Al-Fatah ini dibangun. Penuh dengan pengorbanan. Semua bangunan bersumber dari harta pribadi Kyai. “Dan keikhlasan semacam inilah, yang barangkali mendatangkan banyak keberkahan di Al-fatah ini”, demikian kata Kyai Fatah.

Masih banyak cerita tentang buku ini. Termasuk kelebihan dari buku ini adalah dilengkapi dengan sekian banyak foto-foto yang sangat langka. Yang tidak bisa anda lihat kecuali membeli buku ini. Wallohu ‘alam.

Anda juga dapat memesan produk kami pada situs berikut:

Description

Buku Sang Muassis Pondok Pesantren Al Fatah Temboro – Kisah Perjalanan Hidup Romo Kyai Mahmud Rohimahulloh.

Penulis: Mas Hasan Biki Muhammad

Penerbit: Maktabatuna

Tebal: 196 Halaman

Jenis Cover: Soft Cover

Additional information

Weight 500 g
Dimensions 14 × 20 cm