No products in the cart.
Rp25.000
Di bulan Syawal tahun 8 Hijriah, Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berangkat untuk menghadapi kabilah Hawazin, Tsaqif, dan koalisi keduanya. Peristiwa ini terjadi selepas Fathu Makkah dan populer dengan sebutan perang “Hunain”.
Dalam perang ini, jumlah kaum Muslimin saat itu jauh lebih banyak daripada biasanya, yaitu 12.000 pasukan.
Akan tetapi, sebab sebagian pasukan Muslimin saat itu yang terlalu “mengandalkan” jumlah (kuantitas), maka Alloh “uji” dengan “kekalahan” di babak pertama.
Pasukan Muslimin pun kocar-kacir dan “berlarian” mundur ke belakang. Bahkan, dari 12.000 pasukan, hanya tersisa 10 orang saja, di antaranya adalah Baginda Nabi sendiri.
Melihat hal ini, Baginda Nabi bersabda:
“Aku adalah Nabi yang tidak pernah dusta, Aku adalah putra Abdul Muthalib”
Mendengar sabda ini, ribuan Sahabat pun berbondong-bondong merangsek lagi ke dalam gelanggang pertempuran.
Salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah bahwasanya menyebutkan nama kakek atau leluhur tidak berarti menyombongkan diri.
Menyebutkan leluhur, baik leluhur secara nasab maupun secara ilmu (para Masyayikh), apalagi di kala genting, banyak memberikan manfaat.
Di antaranya yaitu memberikan “tambahan” semangat dalam perjuangan.
Sebab, dengan mengingati orang-orang sukses terdahulu, maka akan timbul kesemangatan dan ketabahan.
Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Baginda Nabi sendiri dalam perang Hunain.
Selain tentu saja menyemangati orang lain agar semangat.
Sebab, Abdul Muthalib adalah sosok yang dikenal pemberani dan tak pernah gentar dengan kebatilan.
Dan Abdul Muthalib juga populer di kalangan Arab saat itu bahwa beliau akan dikaruniai seorang cucu yang akan memperjuangkan kebenaran dan tak terkalahkan.
Maka wajar jika sang Baginda mengingatkannya lagi kepada para Shahabat-nya (Fath al-Bari 8/29).
Meskipun tentu kita juga tidak mengingkari banyak dari manusia yang hanya menyebutkan leluhur atau Gurunya sebagai bangga-banggaan saja, tanpa ada prestasi dan kontribusi untuk umat, merasa paling cinta dengan Guru atau kakeknya, lalu meremehkan orang lain.
Dan semoga kisah dan biografi Kiai Muchith ini termasuk kisah yang kami tulis murni menginginkan agar kisah-kisah beliau diteladani, terutama oleh keluarga, para penerus, dan muhibbbin beliau. Bukan untuk kesombongan dan semisalnya.
Tidak hanya itu, semoga buku ini menjadi sebab turunnya rohmat dan barokah kepada kita semua, sebab para Ulama (Imam Sufyan Ibnu Uyainah) berkata:
عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة
“Ketika orang-orang sholeh dikisahkan, maka rohmat Alloh akan turun bercucuran”
PENULIS :MAS HASAN BIQI MUHAMMAD
TEBAL :118 HALAMAN
PENERBIT :MAKTABATUNA TEMBORO




