No products in the cart.
Rp33.000
Syaikh Ibnu Taimiyah dan Tasawwuf
Perlu diketahui bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah bukanlah pembenci tasawwuf dan mutasawwifin secara mutlak tanpa terkecuali. Beliau juga bukan sosok yang memusuhi seluruh para Sufi tanpa pandang bulu, sebagaimana yang banyak dituduhkan oleh sebagian kalangan.
Sebab, jika kita baca tulisan-tulisan Syaikh Ibnu Taimiyah mengenai tasawwuf, maka sebenarnya beliau tidak menolak dan membenci seluruh tasawwuf serta mutasawwifin. Beliau hanya mengkritik praktik tasawwuf dan Sufi yang “menurutnya” bertentangan dengan syari’at.
Adapun para Sufi yang “menurut beliau” tidak berlawanan dengan syari’at, maka beliau pun tidak segan untuk memuji dan menyanjungnya.
Banyak Kibar Sufiyah yang dipuji oleh Ibnu Taimiyah, di antaranya adalah:
a. Imam Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri
Beliau adalah tokoh Sufi yang sangat populer di kalangan Salaf. Syaikh Abdul Wahid wafat selepas tahun 150 H.
Beliau merupakan salah satu murid tokoh Tabiin tersohor, Imam Hasan al-Bashri.
Syaikh Abdul Wahid bin Zaid digelari oleh para Ulama sebagai Syaikhul Ubbad dan Syaikhul Sufiyah.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkomentar:
وعبد الواحد بن زيد وأن كان مستضعفاً في الرواية إلا أن العلماء لا يشكون في ولايته وصلاحه
Abdul Wahid bin Zaid -walaupun dinilai dhaif dalam riwayat-, hanya saja para Ulama tidak meragukan akan kewalian dan keshalihannya
Syaikh Ibnu Taimiyah juga memasukkan Imam Abdul Wahid bin Zaid ini ke dalam kelompok Auliya Rahman yang memiliki karamah.
Antara lain sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, al-Furqan Baina Auliya al-Rahman wa Auliya al-Syaithan (hal. 165):
وكان عبد الواحد بن زيد أصابه الفالج، فسأل ربه أن يطلق له أعضاءه وقت الوضوء، فكانت وقت الوضوء تطلق له أعضاءه ثم تعود بعدها.
Abdul Wahid bin Zaid terkena penyakit falij (hemiplegia atau otot lumpuh). Lalu beliau berdoa kepada Allah, agar ketika berwudhu, anggota tubuhnya berfungsi normal (sembuh). Akhirnya setiap beliau berwudhu, anggota badannya normal, dan akan kembali sakit selepas beliau berwudhu.
Mengenai kaitan Imam Abdul Wahid bin Zaid dengan para Sufiyah, maka juga diakui sendiri oleh Ibnu Taimiyah. Beliau menulis:
أول ما ظهرت الصوفية من البصرة وأول من بنى دويرة الصوفية بعض أصحاب عبد الواحد بن زيد وعبد الواحد من أصحاب الحسن
Pertama kali kaum Sufi muncul adalah dari kota Bashrah. Dan orang pertama yang membangun rumah-rumah Sufi adalah murid-murid Abdul Wahid bin Zaid. Abdul Wahid (bin Zaid) merupakan di antara murid-murid Imam Hasan (al-Bashri)
b. Imam Junaid al-Baghdadi
Siapa yang tidak kenal beliau? Salah satu tokoh panutan dan teladan seluruh kaum Sufi di belahan dunia sampai hari ini.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkomentar tentang Imam Junaid al-Baghdadi dalam al-Furqan-nya (hal. 111):
فإن الجنيد – قدس الله روحه – كان من أئمة الهدى
Sesungguhnya Junaid (al-Baghdadi) -qaddasallah sirrah- adalah termasuk salah satu pimpinan hidayah.
Ibnu Taimiyah juga menulis dalam kitabnya al-Hasanah wa al-Sayyiah (hal. 109):
فمن سلك مسلك الجنيد، من أهل التصوف والمعرفة، كان قد اهتدى ونجا وسعد
Barang siapa yang berjalan seperti jalannya al-Junaid dari kalangan ahli tasawwuf dan ma’rifah, maka sungguh ia telah mendapatkan petunjuk, selamat, dan sukses
c. Imam Sulthan Auliya Abdul Qadir al-Jailani
Syaikh Ibnu Taimiyah menyifati Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan gelar keagungan, yaitu bahwa beliau tergolong “Imam” (panutan) dan “Masyayikh” dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa (8/369):
وَأَمَّا أَئِمَّةُ الصُّوفِيَّةِ وَالْمَشَايِخُ الْمَشْهُورُونَ مِنْ الْقُدَمَاءِ: مِثْلُ الْجُنَيْد بْنِ مُحَمَّدٍ وَأَتْبَاعِهِ وَمِثْلُ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ وَأَمْثَالِهِ فَهَؤُلَاءِ مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ لُزُومًا لِلْأَمْرِ وَالنَّهْيِ
Adapun para Aimmah Sufiyah dan para Masyayikh yang masyhur dari kalangan Qudama, seperti al-Junaid bin Muhammad (al-Baghdadi) dan para pengikutnya, juga seperti Syaikh Abdul Qadir (al-Jailani) dan semisalnya maka mereka adalah orang yang paling berpegang dengan perintah serta larangan (Allah)..
Dalam kitabnya Bayan Talbis al-Jahmiyah (01/214), Ibnu Taimiyah menyebut Syaikh Abdul Qadir dengan sebutan “al-Syaikh al-Imam al-Arif”:
وقال الشيخ الإمام العارف، أبو محمد عبد القادر بن أبي صالح الجيلي، في كتاب «الغنية»
Juga dalam kitabnya al-Istiqomah (01/85), Ibnu Taimiyah menyebut nama Syaikh Abdul Qadir dengan “Quthbul Arifin”:
أَنه سَأَلَ قطب العارفين أَبَا مُحَمَّد عبد الْقَادِر بن عبد الله الجيلى
Dari pujian beliau kepada tiga sosok agung Sufiyah ini, yaitu Imam Abdul Wahid bin Zaid, Imam al-Junaid al-Baghdadi, dan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menunjukkan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah bukanlah sosok yang membenci dan memusuhi seluruh Sufiyah tanpa terkecuali.
Bahkan dari uslub atau gaya bahasa yang beliau tulis, justru menunjukkan kuat bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah merupakan bagian dari pengamal tasawwuf.
Pilihan kata “Masyayikh”, “al-Arif”, “Ma’rifah”, dan semisalnya merupakan istilah-istilah khas para Sufiyah. Dan Syaikh Ibnu Taimiyah menggunakan itu semua. Hanya saja juga harus diakui bahwa Ibnu Taimiyah juga bersebrangan dengan mayoritas para Sufi dalam banyak hal.
Seperti hukum safar ziarah Baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam, tawassul, istighosah, tabarruk bis shalihin, dan semisalnya.
Disadur dari buku “Syaikh Ibnu Taimiyah dan Syudzudzatnya” karya Mas Hasan Biki Muhammad
Diterbitkan oleh Maktabatuna Temboro, 3 Agustus 2025
PENULIS: MAS HASAN BIQI MUHAMMAD
TEBAL: 189 HALAMAN SOFT COVER
PENERBIT: MAKTABATUNA




