No products in the cart.
Rp17.000
Sesungguhnya Islam adalah agama yang dibawa oleh Baginda Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta. Agama yang datang untuk mengantarkan kejayaan seluruh manusia dan jin di dunia sampai di akhirat yang selama-lamanya.
Islam adalah agama milik semua. Islam tidak pernah membeda-bedakan antar manusia. Siapa saja yang menjalankan Islam, baik dari bangsa Arab atau non Arab, baik manusia bernasab mulia maupun manusia yang tidak jelas nasabnya, yang kaya atau yang tidak kaya, pejabat atau rakyatnya, jika mengamalkan Islam, maka pasti akan berjaya serta mendapatkan kebahagiaan di dunia sampai di surga.
Hal ini senada dengan apa yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melalui Sayyidina Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu yang berbunyi:
يا أيُّها الناسُ إنَّ ربَّكمْ واحِدٌ ألا لا فضلَ لِعربِيٍّ على عجَمِيٍّ ولا لِعجَمِيٍّ على عربيٍّ ولا لأحمرَ على أسْودَ ولا لأسودَ على أحمرَ إلَّا بالتَّقوَى إنَّ أكرَمكمْ عند اللهِ أتْقاكُمْ
“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas (mengalahkan) orang Ajam, atau orang Ajam mengalahkan orang Arab, tidak pula bagi orang berkulit merah (putih) atas orang yang berkulit hitam, dan tidak pula orang hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan taqwa. Sesungguhnya paling mulianya kalian di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa”.
(Hadits riwayat Imam Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya dan Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Dan benar saja, dalam sejarah Islam, terutama pada generasi Salaf (Tabiin dan Tabiut Tabiin), banyak sekali para Mawali (mantan budak)[1] yang menjadi pembesar – pembesar dalam keilmuan dan ketaqwaan.
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Fakihi mengutip Imam Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, “Ketika Abadilah[2] wafat, maka fiqih (ilmu agama) di seluruh negeri (Islam) adalah dipegang oleh para Mawali (mantan budak) kecuali Madinah. Sebab di Madinah, ada Imam Sa’id bin Musayyib, tanpa ada lawan”.[3]
Hal ini juga diperkuat oleh perkataan Imam Ibnu Khaldun dalam muqaddimah-nya:
من الغريب الواقع أن حملة العلم في الملة الإسلامية أكثرهم العجم
“Di antara fakta unik adalah bahwasanya kebanyakan para Ulama dalam Islam adalah dari kalangan Ajam (Non Arab)”
Maka dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa orang yang tidak bernasab atau orang yang terlahir dari keluarga biasa, jika bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, dan mengamalkan agama, maka Allah akan angkat derajatnya di dunia ini sebelum di akhirat kelak.
Oleh karenanya, yang tidak bernasab janganlah berkecil hati dan putus asa, sedangkan yang bernasab mulia janganlah jumawa. Sebab, dengan Islam, Allah bisa mengangkat derajat siapa saja yang Dia kehendaki, dan menjatuhkan siapa saja yang Dia kehendaki.
Akan tetapi, perlu kami ingatkan bahwa apa dan siapa yang kami tulis di buku sederhana ini hanyalah sebagian saja. Kami hanya memilih beberapa nama yang kami anggap agungnya nama beliau cukup mewakili kalangan Mawali dalam berkontribusi untuk kemajuan Islam.
Adapun referensi utama dalam penulisan buku ini adalah dari kitab Siyar A’lam al-Nubala karya Imam Dzahabi rahimahullah.
Dan perlu diketahui bahwa untuk membedakan antara nama Shahabi dengan tokoh-tokoh di bawahnya, maka untuk seorang shahabi kami tambahkan kata “Sayyidina” di depannya, sedangkan Tabiin ke bawah, kami tambahkan “Imam”. Mengingat masa antara Shahabi dan Tabiin tidaklah jauh.
Akhir kata, semoga buku kecil ini menjadi buku yang bermanfaat dan barokah.
[1] Kata-kata “Maula” (mufrad dari Mawali) dalam kitab tarajim bisa bermakna;
[2] Yakni Sayyidina Abdullah bin Abbas, Sayyidina Abdullah bin Umar, Sayyidina Abdullah bin Amr bin Ash, dan Sayyidina Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhum.
[3] Akhbar Makkah, Imam al-Fakihi, 02/343.
PENULIS: MAS HASAN BIQI MUHAMMAD
TEBAL: 55 HALAMAN
PENERBIT: MAKTABATUNA




